![[Duda] Siasat Merebut Istri Orang](https://asset.asean.biz.id/-duda--siasat-merebut-istri-orang.webp)
Wajah yang selalu dingin dan datar itu kini tampak berseri-seri. Sang pemilik wajah tersenyum lebar menampilkan deretan gigi putihnya. Lesung pipi di wajahnya menambah kesan manis bercampur tampan. Tidak ada yang menyangka kalau mereka akan melihat sang majikan yang biasanya seperti monster dan es kutub kini tersenyum lebar, kadang juga tertawa.
"Wahh … helikopternya terbang!" Ozan bermonolog pada dirinya sendiri. Tadinya dia enggan turun ke bawah untuk bermain dengan Marcel. Namun, entah mengapa dorongan untuk turun itu ada.
Marcel mengajak sang ayah untuk bermain. Awalnya Ozan menolak dengan dingin, namun dia tetap luluh ketika melihat helikopter mainan itu diterbangkan oleh anak istrinya.
Percobaan menerbangkan pesawat tersebut gagal. Namun, saat percobaan kedua masih gagal, kemudian percobaan keempat barulah helikopter itu diterbangkan dengan benar oleh Ozan.
Begitulah Ozan, punya masa kecil yang sangat kelam. Waktu bermain saja tidak punya, jam tidur dikontrol oleh orang tuanya. Hanya boleh tidur empat jam, selebihnya belajar dan belajar.
Tidak boleh bermain. Bila ada mainan di kamar Ozan maka akan dihancurkan oleh orang tuanya.
"Kamu itu harus jadi pewaris kami. Kehidupanmu berbeda dengan kehidupan anak kecil biasanya. Tidak boleh banyak bermain. Atau tidak papa akan menghukum mu."
Hukuman yang diberikan oleh orang tuanya benar-benar sangat mengerikan. Ozan takut membantah dan hanya bisa patuh menjadi boneka kedua orang tuanya.
"Haha … akhirnya aku bisa menerbangkan helikopter ini," ujar Ozan di sela-sela tawanya.
Para pelayan senior yang sudah mengabdi kepada Ozan puluhan tahun kini terharu. Tanpa sadar mereka meneteskan air mata, karena melihat majikan mereka bisa tersenyum juga.
Senyuman Ozan kali ini tidak punya beban berat. Wajah yang kaku itu kini tampak manis.
"Akhirnya … Tuan muda yang kita rawat dulu bisa tersenyum juga."
"Bila aku mati sekarang aku ikhlas. Setidaknya aku bisa melihat senyuman manis bocah laki-laki yang dulu ku asuh."
Berbeda dengan pelayan senior. Pelayan yang baru bekerja beberapa tahun malah terkejut.
"Apa kepala Bapak terbentur? Tumben hari ini bapak tersenyum dan tertawa?"
"Sepertinya bapak habis mimpi indah makanya bisa tersenyum manis seperti itu."
"Uwaa … aku tidak menyangka kalau bapak punya lesung pipi saking jarangnya tersenyum."
"Sekarang aku tahu kenapa bapak selalu dingin dan kaku, karena kalau bapak tersenyum, gula akan menunduk malu karena senyuman bapak lebih manis darinya."
Banyak dari mereka memuji ketampanan Ozan. Tak sedikit yang tidak menyangka kalau Ozan bisa tersenyum. Salah satu dari mereka ikut memotret gambar Ozan tersenyum.
Lembut lagi pada Marcel dan Angel. Kedua manusia berbeda jenis dan usia itu terpana melihat senyuman Ozan. Angel menelan ludahnya kasar saat jantungnya berdegup kencang. Sejenak dia lupa kalau majikannya itu monster yang kalau marah bisa membuat wajah seseorang hancur.
"Itu manusia atau dewa? Kenapa sangat tampan?" tanyanya dalam hati. Gadis muda itu memegang dadanya yang berdegup kencang. Dia tidak menyangka kalau Ozan bisa tersenyum manis.
Ada rasa bahagia dalam hati, karena melihat pria yang tadinya sakit dan berdiam diri di kamar. Kini berubah menjadi pria yang ramah senyum.
Sedangkan Marcel ikut tersenyum. Matanya berkaca-kaca, dia bahagia melihat sang ayah tersenyum. Andai saja Ozan bisa tersenyum setiap hari. Dapat dipastikan ibunya juga ikut hidup damai tanpa takut pada sang ayah.
Selama ini Freya selalu menghindari Ozan, karena bila berhadapan dengan sang suami. Wanita itu pasti mendapatkan luka hati atau luka fisik.
"Kalau saja mama ada di sini, pasti mama ikut kaget melihat papa tersenyum," gumamnya pelan.
__ADS_1
Untuk sejenak dunia seperti berhenti berputar di sekitar Ozan. Senyuman manis yang tersemat di wajah pria itu menarik atensi sekitar.
"Andai dulu aku punya mainan, pasti aku lebih dulu bisa menerbangkan helikopter ini tanpa harus diajari oleh anak kecil," batin Ozan bermonolog sendiri.
"Papa mau coba main mobil mainan ku?" tawar Marcel membuat Ozan menoleh ke arahnya.
Lalu pria itu melihat mobil mainan mahal Marcel berjalan layaknya mobil yang ada di film kartun Barat.
Inner child Ozan meronta-ronta. Tanpa pikir panjang dia mengangguk kepalanya cepat. Dia juga ingin memainkan mobil.
Hitung-hitung hari ini dia memuaskan inner child nya. Semoga saja kedua orang tuanya tidak tahu hal ini.
"Aku berharap mereka tidak datang hari ini," gumam Ozan berdoa agar kedua orang tuanya tak datang.
"Boleh. Cara mainnya bagaimana?" Ozan bertanya setelah berhenti menerbangkan helikopter mainan.
Angel langsung mengambilnya dari tangan Ozan, karena pria itu ingin bermain mobil mainan.
"Ini tombol on off nya. Tanda panah ke atas ini untuk memajukan mobil. Tanda panah ke bawah untuk memundurkan, tanda panah kanan dan kiri untuk belok kanan dan kiri."
Marcel menjelaskan tentang mobilnya pada sang ayah. Terbalik bukan? Harusnya Ozan yang mengajari Marcel.
Namun, apa boleh buat? Kehidupan Ozan tidaklah berwarna seperti Marcel. Pria itu seperti warna hitam. Gelap dan kelam.
"Oke. Sepertinya ini lebih gampang," balas Ozan lalu mengikuti arahan Marcel.
"Waw … mobilnya maju lebih cepat dari perkiraan ku," gumamnya pelan masih terdengar oleh Angel dan Marcel.
Mereka berdua saling pandang. Angel mendekati anak asuhnya itu, lalu berbisik pelan.
"Papamu benar-benar tidak tahu cara mainnya?" tanya Angel pelan di telinga Marcel.
Marcel membalasnya dengan suara pelan yang sanggup didengar oleh Angel saja.
"Aku juga baru tahu, Kak. Kalau papa tidak tahu cara mainnya. Bukankah, orang dewasa lebih tahu tentang mainan anak kecil daripada anak kecil itu sendiri?"
Marcel berbisik pelan. Angel menganggukkan kepalanya cepat. Dia setuju pada ucapan Marcel.
Ozan terlalu misteri untuk mereka semua. Pria itu seperti kotak jebakan yang apabila dibuka di dalamnya ada kotak lagi dan lagi. Sehingga mereka tidak bisa dengan mudah tahu isi di dalamnya.
"Waw … siapa yang membeli mainan ini?" tanya Ozan pada Marcel membuat bocah itu terhenyak.
"Papa," jawab Marcel singkat.
Ozan menaikkan alisnya sebelah. Dia menunjuk dirinya sendiri. Bingung sekali, karena dia tidak pernah membelikan Marcel mainan.
"Aku? Kapan?" tanyanya lagi tak tahu.
"Papa pernah memberiku Black card untuk beli semua mainan yang aku suka."
__ADS_1
Marcel menjawab jujur membuat Ozan teringat kejadian beberapa Minggu yang lalu. Di mana tangannya pertama kali memukul Marcel dengan keras.
Terselip rasa bersalah dalam hatinya. Namun, dia berusaha menepisnya karena seperti ajaran orang tuanya. Kalau bersalah harus dihukum.
Marcel waktu itu mengganggu dirinya yang baru saja pulang kerja dan lelah habis ditampar oleh sang ayah.
Emosi Ozan yang belum stabil membuat pria itu lepas kendali dan memukul Marcel.
Tetap saja hati nuraninya berontak mengatakan kalau Ozan tak sepatutnya menghajar anak kecil.
Pria itu memilih bersiul untuk menutupi rasa bersalahnya, kemudian berkata.
"Lain kali jangan ganggu aku!"
Marcel menganggukkan kepalanya patuh membuat Ozan tersenyum samar.
"Baiklah, ganti bajumu. Hari ini kamu membuatku senang, jadi, harus ku beri hadiah." Ozan memberi perintah pada Marcel membuat bocah itu tersenyum cerah.
"Kita akan ke mana, Pa?"
"Ke manapun yang kamu mau," jawab Ozan membuat Marcel langsung memeluk pinggang sang ayah.
"Terima kasih, Papa." Kemudian bocah itu berlari ke kamarnya meninggalkan Ozan yang termangu dengan wajah merah merona.
"Bapak demam? Kok wajahnya merah?" tanya Angel polos membuat Ozan berdecak sebal.
"Kamu juga ganti baju! Kita akan pergi bersama!" titah Ozan kembali memasang mode galak.
"Baik, Pak."
Angel langsung takut dan lari terbirit-birit ke kamarnya.
Ozan menghela nafas berat.
"Aku harus bisa mengontrol emosiku agar tidak menyakitinya lagi," gumam Ozan pelan teringat Marcel.
Dia tidak mau bocah itu merasakan hal yang sama. Ozan tak sadar kalau sedari tadi ada orang yang diam-diam menelpon orang lain untuk menceritakan apa yang terjadi hari ini.
*
*
Gimana? Mau lagi? Bab nya panjang kan? Hihi 🤭🤭
Bersambung.
Jangan lupa like coment vote dan beri rating 5 yah kakak 🥰🥰
Salem Aneuk Nanggroe Aceh
__ADS_1