![[Duda] Siasat Merebut Istri Orang](https://asset.asean.biz.id/-duda--siasat-merebut-istri-orang.webp)
Delapan tahun lalu.
Sebuah pesta dansa diselenggarakan oleh pengusaha sukses di sebuah bar mewah Jakarta. Semua orang wajib memakai topeng guna mengikuti peraturan. Banyak artis papan atas yang juga hadir di sana untuk memeriahkan pesta tersebut.
Seorang pria bertopeng putih tampak mabuk di meja bartender. Tubuh dan hatinya panas teringat musibah yang baru saja menimpanya.
Kekasih hatinya telah menikah dengan sang kakak kandung. Bodohnya dia menjadi simpanan kakak iparnya sendiri.
"Ha ha … aku selingkuhan kakak iparku," gumamnya pelan. Dia tertawa cekikikan seperti orang kesurupan. Suara tawa Mark berhasil membuat seorang gadis yang mabuk di sampingnya terusik.
"Huwaa … kamu menertawakan hidupku yang menyedihkan, 'kan!" sentak gadis itu di sela-sela tangisnya.
Freya sengaja mendatangi pesta tersebut guna menghilangkan penatnya. Dia ke sana bersama rekan kerjanya. Hatinya lelah mengingat banyak sekali beban hidup yang dipikulnya.
Saat sedang asik menangis dia mendengar suara gelak tawa. Freya yang mabuk pun cuma bisa menangis histeris. Dia mengira pria di samping menertawakan kehidupannya.
"Hey … hey … kenapa menangis, huh? Aku lelah mendengar suara wanita menangis … saat dia menangis. Aku tenangkan dia. Tapi … saat aku menangis … dia malah pergi," balas Mark dengan gaya orang mabuk.
Freya tak berhenti menangis membuat Mark geram dan langsung mencium bibir gadis itu guna membungkam suara tangisannya.
Ciuman itu hanya sekejap.
"Manis," gumam keduanya pelan. Gairah terpendam dalam tubuh mereka melesat keluar. Memberontak guna dipuaskan.
Seolah mengerti arti tatapan keduanya. Mereka berdua langsung berciuman panas di depan meja bartender. Tak tahan lagi, Mark menarik tangan Freya untuk pergi ke hotel terdekat.
Mereka berdua menghabiskan malam penuh gairah di dalam hotel. Sayangnya mereka sengaja mematikan lampu, karena hasrat dalam tubuh begitu menggebu. Hanya ada lampu tidur yang menyala, topeng pun masih terpasang di wajah mereka.
*
*
__ADS_1
Keesokan harinya, Freya tersadar saat suara dering ponselnya berbunyi. Segera wanita itu memaksa diri untuk bangun dari tidurnya. Lalu ia mematikan suara alarm, betapa terkejutnya saat melihat punggung pria tersebut.
Ada sebuah tato ular yang kecil di sana.
Eugh.
Mark mengeluh pelan membuat Freya ketakutan. Dia sadar telah berbuat kesalahan, namun Freya juga tak bisa menyalahkan Mark sepenuhnya.
"Aku harus cepat pergi sebelum dia sadar," gumam Freya panik.
Rasa sakit pada bagian intimnya tak membuat Freya enggan pergi. Dia tidak ingin menambah masalah.
*
*
Mark dan Freya termangu. Keduanya tidak menyangka takdir kembali mempersatukan mereka dalam sebuah ikatan yang disebut orang tua.
Freya mengepalkan tangannya erat. Dia juga tidak kalah kacau seperti hati Mark.
"Lalu kamu sendiri bagaimana? Kenapa tidak mengejar atau mencari ku?"
Bukan menjawab. Freya malah melempar pertanyaan untuk Mark membuat suasana kian memanas. Pria itu mengacak-acak rambutnya frustasi.
"Bukannya aku tidak mau kejar kamu. Tapi, aku tidak tahu siapa kamu dan aku sendiri tidak merasakan apa-apa meski perjaka ku sudah kamu ambil. Aku kira dulu aku telanjang, karena ulahku sendiri yang mabuk. Sebab, aku kalau tidur habis mabuk ya suka telanjang!"
Mark menjelaskan pada Freya. Apa yang dikatakan pria itu benar adanya. Terlebih lagi Freya pergi tanpa jejak. Mark adalah tipikal orang yang gampang mabuk. Cukup sehelai wine dia langsung ambruk.
Terlebih lagi Mark tidak mampu mengingat hal-hal yang dia lakukan saat mabuk. Itulah sebabnya dia jarang mengkonsumsi minuman haram itu. Terlebih lagi orang tuanya yang sangat protektif.
"Ya maaf kalau begitu. Lagian aku juga kabur karena takut kamu kira aku cewek apaan, karena mau ONS bareng pria asing! Apalagi setelah tidur sama kamu, aku dipaksa menikah!" sergah Freya dengan nada menyesal.
__ADS_1
Keduanya sama-sama diam. Merasa bersalah juga tidak ada gunanya, Marcel telah hadir di antara mereka berdua. Mark hanya menyayangkan pertumbuhan Marcel tanpa dirinya.
Jack dan Naima hanya bisa menggelengkan kepala mereka berdua.
"Sudah-sudah, jangan berdebat lagi! Semua sudah terjadi, sekarang giliran kalian memperbaiki semuanya. Jangan hanya bisa buat anak, tapi gagal merawat anak. Sudah saatnya kalian berdua membesarkan Marcel dalam sebuah keluarga yang sehat. Di mana ada orang tua bahagia dan anak bahagia!" tegas Jack membuat Freya dan Mark terdiam.
Mereka berdua merenungkan nasehat Jack. Menghela nafas berat, keduanya saling beradu pandang. Mark langsung menarik Freya masuk ke dalam pelukannya.
"Maafin aku, ya. Coba aja dulu aku ingat kejadian waktu aku mabuk. Pasti kamu dan Marcel tidak akan melewati hal-hal buruk, karena ada aku yang melindungi kalian berdua," bisik Mark pelan membuat gemuruh dalam hati Freya tenang.
Wanita itu meneteskan air mata. Dia mengeratkan pelukannya.
"Maafin aku juga, karena sudah berburuk sangka sama kamu," balas Freya dengan nada lirih.
Tidak ada yang tahu masa depan. Mungkin takdir sengaja memisahkan mereka berdua, karena bila bersama di awal hanya ada luka.
"Mama, papa," panggil Marcel yang sudah berdiri di depan pintu.
Mark melepaskan pelukannya. Dia melihat sang putra berdiri di depan pintu menatapnya dengan tatapan polos.
Pria itu tak dapat menahan diri. Dia langsung berlari memeluk erat tubuh Mark. Melabuhkan ciuman bertubi-tubi di seluruh wajah Marcel.
"Maafkan, Papa. Papa janji akan buat kamu jadi anak yang paling bahagia sedunia," ujar Mark dengan suara serak membuat hati Marcel menghangat.
*
*
Bersambung.
Jangan lupa like coment vote dan beri rating 5 yah kakak 🥰🥰
__ADS_1
Salem Aneuk Nanggroe Aceh ❤️