![[Duda] Siasat Merebut Istri Orang](https://asset.asean.biz.id/-duda--siasat-merebut-istri-orang.webp)
Seorang pria sedang duduk termenung di kursi antrian rumah sakit. Dia menatap lampu hijau ruang operasi. Mentalnya terpukul saat melihat sang kekasih terbaring lemah di atas lantai.
Mark baru saja kembali dari kantor polisi guna membayar denda, karena telah melanggar rambu lalu lintas. Polisi juga setia mendampingi Mark di rumah sakit. Dikarenakan Freya terluka karena Ozan.
Saat ini Ozan ditetapkan sebagai tersangka utama. Media sosial dipenuhi kabar buruk yang menimpa rumah tangga Ozan. Keluarga terpandang dan tersohor itu akhirnya menarik perhatian publik, bukan karena prestasi, melainkan skandal rumah tangga Ozan dan Freya yang rupanya tidak berjalan baik.
Nama baik keluarga besar Ozan kali ini benar-benar tercoreng.
Mark teringat kejadian beberapa jam yang lalu. Saat dirinya masih di rumah Ozan. Sedang menangisi Freya yang terluka parah.
Polisi yang mengikutinya dari tadi berniat untuk menangkap Mark. Namun, siapa sangka mereka melihat Mark sedang menangis, memeluk tubuh lemah Freya.
Mereka juga melihat Ozan yang sudah tak sadarkan diri dengan luka sayatan di lehernya. Atensi mereka jatuh pada tangan Ozan yang menggenggam beling kaca.
Dapat mereka simpulkan untuk saat ini kalau Ozan melakukan percobaan bunuh diri dan berusaha membunuh wanita yang berada dalam pelukan Mark.
Polisi tersebut langsung menghubungi kantor pusat melalui talkie walkie agar menyuruh tim pusat turun ke lokasi kejadian.
Segera salah seorang polisi mendekati Ozan. Ia memakai sarung tangan lalu memeriksa nadi Ozan yang masih berdetak meski sangat kecil.
"Masih hidup," ujarnya pada sang teman.
"Pak polisi tolong … tolong pacar saya," pinta Mark dengan suara serak dan putus asa. Pria itu berubah menjadi sangat lemah. Pikirannya terlalu kalut, dia belum bisa berpikir jernih.
Polisi itu paham kalau saat ini mental Mark sedang terguncang dan mereka mengerti alasan Mark mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
"Tenang, Pak. Pacar Anda masih hidup. Lebih baik kita bawa keduanya ke rumah sakit!"
"Tolong bantu saya mengangkat tubuhnya, Pak," pinta Mark parau.
Pria kuat dan punya tubuh kekar itu tak lagi bertenaga. Dia terlalu lemah dan letih, seolah seluruh tulang yang ada di dalam tubuhnya remuk.
Untuk berdiri saja Mark butuh tenaga ekstra. Sang polisi menatap sendu wajah pucat Mark. Mereka mengerti bagaimana keadaan Mark.
Pria akan mengerti pria. Begitulah kira-kira.
Kelemahan seorang pria adalah wanita yang dicinta.
Cinta bisa menguatkan juga bisa melemahkan.
Freya digendong oleh polisi tersebut. Sedangkan satu polisi lagi menggendong Ozan dengan susah payah.
"Ya Tuhan … aku terlambat."
Atensi mereka jatuh ke pada Jimmy yang baru saja tiba. Tadinya Jimmy sedang berada di acara salah satu kolega bisnis Ozan guna mewakili Ozan yang tak bisa datang.
Betapa terkejutnya Jimmy mendapatkan telepon dari pelayan kalau Ozan mengamuk. Dia juga baru membaca berita tentang skandal perselingkuhan Mark dan Freya.
Pasti Ozan tertekan dan mengkhawatirkan reaksi orang tuanya sehingga menyebabkan Ozan ketakutan lalu hilang kendali.
Bagi orang yang punya penyakit mental seperti Ozan tidak boleh pikirannya terbebani dan mentalnya tertekan. Bila sampai terjadi, bukan hanya membahayakan diri sendiri. Orang tersebut bisa membahayakan nyawa orang lain.
__ADS_1
"Saya bantu, Pak." Jimmy membantu polisi yang mengangkat tubuh Ozan. Mereka bergegas turun ke bawah.
Bertepatan dengan ambulance yang datang.
Freya dan Ozan langsung dilarikan ke rumah sakit dengan mobil ambulance yang berbeda.
Para polisi dari pusat baru saja tiba langsung menuju ke TKP. Mereka memberi garis polisi di kamar Freya.
Pada malam itu. Kediaman Ozan dipenuhi oleh polisi, tim forensik dan media. Entah siapa yang telah melaporkan kejadian ini pada awak media.
Pintu ruang operasi terbuka. Menyadarkan Mark dari lamunan pendeknya. Pria itu langsung berdiri dan mendekati sang dokter.
"Bagaimana keadaan pacar saya, Dok?" Mark bertanya dengan serius. Mata pria itu menatap lekat sang dokter.
"Pasien kehilangan banyak darah. Untung saja pihak rumah sakit memiliki stok darah O. Sehingga kami bisa menangani pasien dengan cepat. Tadi pasien sempat kritis, namun pasien berhasil melewati masa kritisnya. Untuk saat ini kita hanya bisa berdoa agar pasien tetap sadar dan kami akan terus memantau perkembangan pasien."
Dokter menjelaskan secara terperinci tentang keadaan Freya. Pria itu menghela nafas lega, dia bahagia kalau Freya bisa bertahan sampai saat ini.
"Terima kasih, Dok."
Sang dokter melewati Mark. Pria itu meraup wajahnya kasar. Dia menghela nafas berat. Untung saja ada polisi tadi yang mengingatkan kalau Freya masih hidup.
Dia mengira kalau Freya akan pergi meninggalkan dirinya untuk selama-lamanya. Tidak ada yang bisa dia ungkapkan selain kata syukur.
Kekasihnya selamat.
Mark melirik ke arah kursi antrian di sebelah kanan. Terdapat Jimmy yang masih setia duduk menunggu dokter yang menangani Ozan keluar.
Sepertinya luka Ozan cukup parah. Pria itu mendekati Jimmy. Ia menghempaskan bokongnya di dekat Jimmy.
Saat ini pria itu sudah bisa berbicara dengan tenang.
"Benar. Harusnya Pak Ozan berada di rumah sakit jiwa," balas Jimmy datar membuat Mark tersedak ludahnya.
Pria itu hanya berkata karena kesal. Tetapi, Jimmy malah mengiyakan ucapannya.
Rasa penasaran tentang kehidupan Ozan membuat Mark memberanikan diri untuk bertanya pada Jimmy.
"Apa yang sebenarnya terjadi padanya?" tanya Mark serius pada Jimmy.
Pria itu menghela nafas berat. Mau tidak mau Jimmy menceritakan kondisi Ozan pada orang luar. Dia rasa Mark layak mengetahui keadaan psikis Ozan agar pria itu paham sebab Ozan berniat mencelakai diri sendiri.
Sepanjang cerita Mark terdiam membisu. Dia benar-benar kehilangan kata-katanya saat mengetahui fakta tentang seorang Ozan Pratama.
Betapa menyedihkannya menjadi Ozan. Ternyata masih ada orang tua yang diktator di zaman modern.
"Orang tuanya benar-benar monster," umpat Mark kesal.
Tak berselang lama. Dokter yang menangani Ozan keluar dari ruang operasi. Tampak wajah pria paruh baya berseragam hijau itu dipenuhi keringat.
"Bagaimana keadaan beliau, Dok?" tanya Jimmy serius.
__ADS_1
"Luka sayatan pada leher pasien cukup dalam. Sehingga pasien kehilangan darah cukup banyak. Beruntung rumah sakit memiliki stok darah AB. Akan tetapi, ternyata pasien juga menderita gagal ginjal, efek dari mengkonsumsi obat penenang dosis tinggi dalam jangka lama. Apa di sini ada keluarga pasien?"
Sang dokter menjelaskan panjang lebar dan menanyakan keberadaan keluarga Ozan. Telinga Jimmy dan Mark berdengung mendengar penjelasan dokter. Ternyata pria itu sangat menderita.
Terlebih lagi Jimmy. Dia tidak tahu kalau Ozan meminum obat penenang dosis tinggi. Selama ini dia hanya memberi obat penenang dosis sedang, sepertinya Ozan sangat tertekan sehingga memilih mengkonsumsi obat penenang dosis tinggi tanpa sepengetahuannya.
"Apa di sini ada keluarga pasien?" Dokter kembali bertanya membuat Jimmy tersadar.
"Keluarga pasien sedang dalam perjalan pulang dari Milan ke Indonesia, Dok. Akan tiba kurang lebih 16 jam dari sekarang, Dok."
Jimmy menjawab dengan jujur. Orang tua Ozan memang sedang berada di Milan. Itu sebabnya Ozan nekat langsung bunuh diri agar saat orang tuanya pulang, dia tidak terkena amukan.
Mendengar jawaban Jimmy membuat sang dokter menghela nafas berat.
"Lantas bagaimana dengan pendonor ginjal? Pasien tidak bisa bertahan lama. Kami harus segera melakukan operasi pengangkatan ginjal paling lambat sampai besok jam 16:00 WIB. Lebih dari itu nyawa pasien bisa berbahaya."
Sang dokter berusaha menjelaskan pada Jimmy tentang keadaan Ozan yang sebenarnya.
Jimmy mengacak-acak rambutnya. Pria itu bingung ingin mencari di mana.
"Saya ingin menjadi pendonor, Dok. Tolong cek kecocokan antara ginjal saya dengan ginjal Pak Ozan."
Hanya ini langkah pertama yang bisa dilakukan oleh Jimmy guna menyelamatkan tuannya. Kesetiaan pria itu pada Ozan tidak diragukan lagi.
Mark sempat terkejut. Dia menatap Jimmy dengan sorot mata tak percaya.
"Kamu serius?" tanya Mark tak bisa menahan keterkejutannya.
"Serius."
Dokter langsung mengajak Jimmy untuk menjalani beberapa tes.
*
*
Di sisi lain. Dalam sebuah pesawat mewah kelas VVIP. Sepasang suami istri paruh baya hanya bisa duduk terdiam sambil menunggu pesawat tiba di Jakarta.
"Anak itu sudah membuat nama keluarga kita tercoreng," ujar wanita paruh baya itu dengan nada kesal.
"Semua ini gara-gara menantu pilihanmu," sindir pria paruh baya di sebelahnya.
"Ya siapa kira kalau wanita pendiam sepertinya bisa selingkuh."
Keduanya saling menyalahkan. Mereka bahkan tidak mengkhawatirkan keadaan anak tunggal mereka.
*
*
Bersambung.
__ADS_1
Jangan lupa like coment vote dan beri rating 5 yah kakak 🥰🥰
Salem Aneuk Nanggroe Aceh ❤️