[Duda] Siasat Merebut Istri Orang

[Duda] Siasat Merebut Istri Orang
Masuk Kandang Musuh


__ADS_3

Suasana di ruang tamu rumah Ozan berubah tegang saat Mark mendapat telepon dari Jimmy. Dalam hati Amir mengumpat kesal.


"Sial," umpat Amir dalam hati.


Segera pria itu mengeluarkan senjata api di balik jasnya yang selalu ia bawa untuk berjaga-jaga. Amir kira dia akan menang dengan menembak Kepala Mark, namun siapa sangka ternyata Mark juga tak kalah waspada.


Keduanya dengan serentak mengeluarkan senjata api dan saling menodong senjata ke arah satu sama lain.


"Kau!" desis Amir tak menduga Mark juga membawa senjata.


Pria itu menyeringai kejam. Sangat mudah baginya bersahabat dengan situasi. Jangan kira Mark begitu bodoh mau berhadapan dengan Amir si tua Bangka licik tanpa persiapan apapun.


"Kenapa kaget? Sama … saya juga kaget karena dugaan saya benar. Kalau sekalinya ular tetaplah ular meski dia telah berganti sisik. Untuk masuk ke dalam kandang musuh saya harus memikirkan strategi yang pas agar nyawa saya tidak terancam."


Mark berkata dengan nada mengejek. Dia senang melihat guratan keterkejutan terpasang di wajah tua Amir. Dia berdoa dalam hati semoga pak tua itu mati, karena serangan jantung.


Marcel memeluk pinggang Mark erat. Dia ketakutan melihat mantan kakeknya menodongkan senjata api ke arah Mark.


"Om," lirih Marcel pelan. Bocah tampan itu takut sesuatu yang buruk akan menimpa mereka berdua.


Niat hati mendatangi rumah lama demi mendapati sosok Angel. Namun, siapa sangka dia malah bertemu dengan monster kejam seperti Amir.


Mark mengusap puncak kepala calon anak tirinya.


"Kamu tenang saja. Polisi sebentar lagi akan datang ke sini," ujar Mark lembut menenangkan hati Marcel.


Amir yang mendengarnya terkejut. Akan tetapi, setelahnya dia tertawa. Tidak mungkin Mark punya waktu untuk menghubungi polisi.

__ADS_1


"Kamu sedang berhalusinasi anak muda. Mana mungkin polisi datang ke rumah ku? Sedangkan perut mereka kenyang karena uangku. Kamu kira kenapa aku bisa menetap di rumah, padahal aku menjadi tersangka utama atas kasus penganiayaan anak? Jawabannya karena aku punya uang dan kuasa!"


Amir berkata dengan angkuh. Dia menertawakan perkataan Mark. Baginya pemuda itu pasti sedang menakut-nakutinya atau berbohong demi menenangkan Marcel.


"Anda benar. Saya sedang berhalusinasi …."


"Berhalusinasi kalau Anda akan membusuk di penjara. Tapi, saya berjanji akan mewujudkan halusinasi saya!" sergah Mark dengan nada dingin.


Baru saja Amir ingin menyela. Terdengar suara sirine mobil polisi. Pria tua itu nyaris serangan jantung. Dia tidak menyangka kalau Mark akan merealisasikan ucapannya.


Bagaimana ini? Apa yang harus dia lakukan? Kegelisahan menyerang mental Amir.


Andai saja Mark bukan pria kaya. Maka pak tua itu dengan mudah menyingkirkan Mark. Bahkan, dunia juga tidak akan tahu bila Mark meninggal.


Akan tetapi, saat ini dia sedang berhadapan dengan old money seperti Mark.


Sial … sial … semuanya hancur, pikir Amir.


Mark mencerca perangai Amir yang sangat buruk. Pihak polisi elit langsung masuk ke dalam rumah. Mereka menodongkan senjata api ke arah Amir.


Banyak sekali laser merah tertuju ke kepala dan dadanya.


"Turunkan senjata Anda! Bila tidak, kami tidak akan segan menembak Anda saat ini juga!"


Salah satu polisi berkata dengan nada tegas. Amir menatap tajam ke arah polisi tersebut.


"Kita bertemu lagi, Pak Amir!" ujar polisi itu dingin membuat Amir teringat kalau polisi itu adalah pria yang menolak tawaran kerjasamanya.

__ADS_1


"Di ruang bawah tanah ada dua sandera yang disekap oleh Pak Tua itu!" lapor Mark membuat sebagian polisi menuju ke ruang bawah tanah dibangun oleh anjing pelacak. Pria itu berbincang dengan salah satu kenalannya. Sedangkan Marcel hanya bisa termangu menonton kejadian pada sore itu.


Game over.


Semua telah berakhir.


Amir tertawa lepas. Dia tidak takut pada polisi. Pria itu menatap Mark penuh dendam.


"Menderita lah engkau anak muda!" teriak Amir keras membuat Mark menoleh ke arahnya.


Dor.


"Tidak!!"


*


*


Epilog.


Sebelum Mark menuju rumah Ozan. Dia lebih dulu menghubungi sahabatnya yang bekerja sebagai jenderal. Mark meminta bantuan untuk menjaga Mark dan Marcel dari kejauhan. Pria itu yakin betul bila sesuatu yang buruk akan terjadi nantinya.


"Baiklah, Mark. Kami akan datang bila keadaan mulai bahaya nantinya!"


"Terima kasih, Jo."


Bersambung.

__ADS_1


Jangan lupa like coment vote dan beri rating 5 yah kakak 🥰 🥰


Salem Aneuk Nanggroe Aceh.


__ADS_2