[Duda] Siasat Merebut Istri Orang

[Duda] Siasat Merebut Istri Orang
Kedatangan Keluarga Penjilat


__ADS_3

Kedua sejoli itu sedang bermesraan di dalam kamar. Keduanya bagaikan mata putih dan mata hitam yang tidak bisa berpisah untuk sesaat. Menikmati waktu bersama sesaat, sebelum waktu cuti selesai.


"Kamu masih mau kerja atau mau tinggal di rumah saja, fokus jadi Nyonya muda Mark Lee, hemm?" tanya Mark lembut seraya membelai Surai panjang Freya.


Wanita itu terdiam untuk sementara. Hatinya menghangat mendengar pertanyaan Mark. Pria itu bertanya keinginannya.


"Kalau aku tetap jadi sekretaris kamu boleh?" pinta Freya dengan suara pelan seraya melukis abstrak di dada bidang Mark.


Pria itu tersenyum tipis. Tentu saja dia mengizinkan sang istri untuk bekerja. Mark bukan pria berpikiran sempit yang tidak mau memberikan izin istrinya bekerja.


"Boleh, tapi apa kamu sanggup menjadi sekretaris sekaligus istri juga ibu dari Marcel … hemm? Aku hanya tidak mau kamu terlalu lelah, karena pada dasarnya kenyamanan seorang istri itu ada di rumah," balas Mark bijak menatap lekat wajah istrinya yang berada tak jauh darinya.


Mereka berdua masih berbaring di peraduan. Meski petang hampir datang. Maklum saja, namanya pengantin baru.


"Kalau aku di rumah, artinya aku jauh dari kamu," ungkap Freya dengan hati gelisah.


Dia tidak ingin berjauhan dengan Mark. Bila dulu dia anti berdekatan dengan mantan suaminya. Sekarang, dia anti berjauhan dengan suami barunya.


Sikap lembut Mark membuat Freya mudah sekali merindukan suaminya itu, meski mereka hanya berpisah sementara.


"Tidak akan … nanti kalau kamu di rumah. Kamu bisa datang ke kantorku setiap saat yang kamu mau, Sayang. Aku malah senang … hanya saja, kalau kamu bekerja sebagai sekretaris aku. Otomatis kamu hanya menambah beban saja. Ditambah Marcel … selama menikah dengan Ozan dulu kamu jarang punya waktu main dengannya selain weekend. Aku ingin kamu dekat dengannya."


Mark mengeluarkan isi hatinya pada Freya. Dia tidak ingin sang istri bekerja lagi. Namun, bukan berarti dia tidak mengizinkan Freya bekerja, bila wanita itu tetap kukuh pada pendiriannya.


Ibu satu anak itu termenung untuk sesaat. Dia membenarkan apa yang dikatakan oleh sang suami. Selama ini dia terlalu sibuk mencari pundi-pundi kekayaan guna menabung dengan harapan bisa menggunakan uang itu untuk kabur jauh dari Ozan di masa lalu.


Alhasil, Marcel kekurangan kasih sayang. Freya tidak boleh egois, saran yang diberikan oleh Mark sangatlah bagus.


Belum juga menjawab. Terdengar suara ketukan pintu membuat Mark terpaksa harus bangkit.


"Sebentar, aku buka pintu dulu. Siapa tahu ada yang penting."

__ADS_1


Sebelum beranjak dari peraduan. Mark mengecup kening Freya terlebih dahulu. Barulah pria itu bangkit dan membuka pintu kamar.


"Ada apa, Feng?" tanya Mark pada pelayannya.


"Di bawah ada keluarga angkat Nyonya Freya, Tuan Muda," lapor Feng pada Mark membuat pria itu menaikkan alisnya sebelah.


Freya ikut mendengar dari dalam. Dia tersentak kaget mendengarnya, tidak menyangka pak tua itu akhirnya mencari keberadaannya.


Dulu saja dia terlalu acuh. Entah sudah berapa tahun Freya tidak bertemu dengan keluarga angkatnya.


*


*


Freya merangkul lengan sang suami. Keduanya menuruni anak tangga. Sorot mata pasangan itu tampak setajam pisau. Freya mengangkat dagunya, wanita itu berlagak sombong di hadapan keluarga angkat yang dulu telah menjualnya.


"Sayang … ya Tuhan, kamu semakin cantik saja," puji Winda yakni ibu angkatnya.


Freya tersenyum sinis. Dia tidak lagi berlagak baik dan lembut. Untuk menghadapi penjilat seperti keluarga angkatnya, dia harus menyimpan sifat baiknya untuk sementara.


"Tentu saja aku cantik, karena mendiang mama dan papa kandungku sama-sama cantik dan tampan."


Freya menjawab dengan nada santai seraya menyandarkan kepalanya di pundak sang suami.


Raut wajah Fahmi dan Winda berubah masam. Namun, secepat mungkin mereka berdua kembali memasang raut wajah ramah.


"Ah i-iya … tapi, kami juga ikut merawat mu dulu. Waktu kecil bahkan mama membeli body lotion Korea agar kulit mu cerah," ujar Winda mengungkit kebaikannya di masa lalu.


Freya ingin tertawa kencang saat itu. Dia terkikik pelan seraya menutup bibirnya anggun.


"Ah iya … maksud Anda sisa-sisa body lotion bekas yang Anda pakai?" balas Freya dengan nada sarkas membuat senyuman canggung di wajah Winda terbit.

__ADS_1


"Bukan sisa, itu masih banyak …."


Belum sempat Winda menyelesaikan ucapannya. Fahmi langsung mencubit lengannya pelan. Memberi kode untuk diam. Pria itu memantau raut wajah Mark Lee sangat tam bersahabat.


Sepertinya pria itu marah pada Winda, karena memberikan istrinya sisa pakai body lotion.


"Diam," bisik Fahmi pelan penuh penekanan.


Dena yang sedari tadi diam. Hanya bisa menatap Mark dengan sorot mata berbinar. Dalam hati gadis itu mengutuk Freya, mengapa janda sepertinya mendapatkan pria sempurna seperti Mark Lee.


"Aku harus mendapatkannya," gumam Dena pelan.


"Mari duduk," ajak Mark datar.


Freya memilih duduk bersama dengan Mark di sofa. Dia menggenggam tangan suaminya erat.


"Untuk apa kalian datang kemari?" tanya Mark tanpa basa-basi membuat ruangan terasa dingin.


*


*


Huhu … kematin typo. Bukan 100 kata. Tetapi 100 komentar 😭😭🤧


Mau lagi? Komentar di bawah yah.


Bersambung.


Jangan lupa like coment vote dan beri rating 5 yah kakak 🥰🥰


Salem Aneuk Nanggroe Aceh ❤️

__ADS_1


__ADS_2