[Duda] Siasat Merebut Istri Orang

[Duda] Siasat Merebut Istri Orang
Kesedihan Marcel


__ADS_3

Mark tersenyum puas ketika membaca berita tentang penurunan saham keluarga Ozan Pratama. Padahal baru tadi siang mereka memberi klarifikasi, namun tak berselang beberapa jam warganet sudah mengambil alih profesi hakim. Mereka telah menghakimi keluarga Ozan dengan sangat parah.


Banyak kata-kata jahat yang diterima oleh keluarga Pratama. Harga saham langsung merosot sejak kebenaran terungkap. Jimmy telah menjadi kartu As Mark. Banyak hal yang tidak diketahui oleh Ozan Pratama. Termasuk pengkhianatan Mark.


Kebahagiaan Mark berlimpah ruah saat pengadilan agama menyetujui perceraian Freya sepihak, dikarenakan penyakit Ozan dan kekerasan rumah tangga beserta bukti visum membuat pengadilan agama langsung bertindak. Lembaga perlindungan perempuan juga ikut turun tangan guna mengusut kasus Freya.


"Mari kita lihat, pembalasan seperti apa yang akan kalian lakukan?"


Mark bermonolog pada dirinya sendiri. Dia amat bahagia dengan musibah yang menimpa keluarga Ozan. Biarlah mereka menuai apa yang telah mereka tanam. Ini adalah akibat dari kejahatan Amir dan istrinya dalam mendidik Ozan.


Pria itu tersenyum lembut saat melihat sang kekasih terlelap di atas ranjang empuk. Kesehatan Freya belum pulih total, dia masih dalam pengawasan dokter dan rawat jalan.


Perlahan kaki jenjang Mark melangkah mendekati sang kekasih. Dia menghempaskan bokongnya di ranjang.


"Tunggu keluargaku pulang dari Amerika. Setelah itu kita akan menikah. Aku janji akan membahagiakan kamu dan Marcel," gumam Mark pelan.


*


*

__ADS_1


Sedangkan di sisi lain, Marcel berubah menjadi anak pendiam. Saat ini dia tinggal bersama dengan David; kakaknya Mark. Beruntung di sana ada Arsyila; anak angkat David yang seumuran dengan Marcel.


Keceriaan Arsyila membuat Marcel sedikit terhibur. Meskipun tak ayal kalau hari ya sedang gundah gulana. Dia teringat pertikaian hebat orang tuanya.


"Marcel, kok kamu melamun, sih? Lagi mikirin apa?"


Suara menggemaskan itu tiba-tiba terdengar oleh telinga Marcel. Bocah tampan itu menoleh ke kanan, dia melihat wajah mungil Arsyila berdekatan dengan wajahnya.


Marcel menghela nafas berat. Dia memilih menundukkan kepalanya.


"Kenapa ya orang tuaku bertengkar? Mereka selalu bermusuhan. Beda dengan orang tua temen-temen ku yang lain. Aku benci sama mereka."


Arsyila memasang wajah polos. Dia menopang dagunya, sekuat mungkin gadis itu berpikir keras guna menemukan jawaban dari pertanyaan Marcel.


"Aku pun juga nggak tahu kenapa orang dewasa suka bertengkar. Tapi, Marcel … kamu nggak boleh benci sama orang tua kamu. Seharusnya kamu bersyukur karena punya orang tua. Bukan seperti aku …"


Arsyila memasang wajah sendu. Matanya berkaca-kaca mengingat kedua orang tuanya telah tiada.


"Orang tuaku sudah di surga. Padahal aku belum dewasa … tapi, mereka sudah pergi," gumam Arsyila pelan.

__ADS_1


Mendengar ucapan Arsyila membuat Marcel merasa bersalah. Dia tahu kalau teman barunya ini sudah yatim piatu da David hanyalah ayah angkat saja.


Sungguh, Marcel merasa bersalah. Ucapan Arsyila telah menyadarkan dirinya kalau tidak semua anak beruntung bisa punya orang fua lengkap.


Tak seharusnya dia mengeluhkan kondisi orang tuanya di depan anak yang tidak memiliki orang tua.


"Maafin aku ... aku tidak bermaksud ...."


"Tidak apa-apa. Tapi, lain kali kamu nggak boleh bilang benci sama orang tua kamu yah. Takutnya nanti Tuhan ambil orang tua kamu," potong Arsyila polos membuat dada Marcel sesak.


*


*


Bismillah besok author bakal crazy up insya Allah. 😍😍


Bersambung.


Jangan lupa like coment vote dan beri rating 5 kakak.

__ADS_1


Salem Aneuk Nanggroe Aceh


__ADS_2