(Im)perfect Couple

(Im)perfect Couple
Bab 13


__ADS_3

"Kamu tadi mau kemana?" seru Bian ketika membuka pintu untuk Kanya.


Kanya sedikit berpikir. Tidak ada gunanya berkata jujur, semua udah terjadi juga yang terpenting pada akhirnya Kanya bisa bertemu dengan Bian.


"Tadi mau cari minum sebentar," balas Kanya.


"Kenapa nggak hubungi dulu mau ke kantor, malah aku tahu dari rehan," ucap Bian mengajak Kanya duduk di sofa panjang di ruangannya.


"Mas nggak ada meeting hari ini?" tanya Kanya.


"Ada sih tapi masih besok, dari tadi cuma di ruangan terus. Keluar sebentar sholat berjamaah di masjid bawah," ucap Bian santai ikut merebahkan tubuhnya disofa.


Kanya menghembuskan nafas kasar. Apa maksud Gareta berbohong padanya. Apa ia masih tak terima kalau Bian menjadi suaminya. Dia sengaja ingin menciptakan kesalahpahaman di antara suami dan istri. Sungguh attitude yang tak patut di contoh untuk seorang berpendidikan bagus dan finalis Puteri Nusantara. Untunglah bukan dia yang terpilih tahun itu.


"Kay," seru Bian yang melihat Kanya melamun.


"Ya Mas," Kanya terbangun dari lamunannya.


"Kamu masih mau diam sampai nunggu bedug magrib," seru Bian.


Kanya melempar sedikit tawa meskipun candaan Bian sedikit kaku. "Oh ya ampun. Maaf Mas." Kanya membongkar isi rantang dan menjajar di atas meja.


Mata Bian terbelalak melihat begitu banyak makanan yang sudah di siapkan Kanya.


"Kamu yang masak sendiri ini semua Kay?" tanya Bian setengah tak percaya. Ia tahu istrinya itu tidak bisa memasak.


"Mas Bian kayak nggak percaya gitu. Semua asli buatan aku Mas. Tapi maaf kalau rasanya tak sesuai ekspektasi," oceh Kanya mulai menyiapkan piring untuk Bian.


Bian menerima piring dari Kanya. Ia memperhatikan ayam bumbu kuning yang pasti sudah di masak Kanya dengan susah payah.


"Mas ragu ya? Nggak dilarang muntah kok kalau memang nggak enak," seru Kanya. Tapi Kanya sangat yakin masakannya kali ini sudah melewati standar nasional layak makan.


Bian tersenyum lebar mengacak kepala istrinya. "Nggak boleh perhatikan tampilannya dulu. Kelihatannya enak," seru Bian.


Kanya pun menjadi semakin bangga. Kini ia membiarkan suaminya itu menikmati suapan demi suapan. Mata Kanya tak lepas memandang Bian. Tidak ada ekspresi aneh atau muntah seperti yang Kanya gambarkan dalam novelnya ketika protagonis pria menyoba masakan buatan istrinya. Bian terlihat begitu menikmati.


"Gimana Mas?" tanya Kanya penasaran.


"Apanya?" seru Bian.


"Rasanya Mas? Enak nggak?"


"Aku bukan juri MasterChef yang bisa menilai hanya dengan sekali suapan. Biar aku selesaikan makannya dulu baru bisa berpendapat."


"Ya," ucap Kanya kini menikmati lagi memandang suaminya.


Sungguh tidak ada kata bahagia yang bisa menggambarkan perasaan Kanya saat ini. Untuk pertama kalinya Kanya merasa menjadi istri Bian sesungguhnya. Tak peduli dengan apapun persepsi orang-orang di luar sana. Kanya begitu merasa dekat dengan Bian seolah ikatan pernikahan itu bukanlah permainan belaka. Begini harusnya menjadi pasangan suami istri. Saling memahami dan mendekat. Bukan malah salah satu pasangan sibuk dengan asumsinya sendiri apalagi sampai terpikir pernikahan kontrak. Sungguh sependek itu pemikiran Kanya. Ini dunia nyata Kanya, Bukan dunia halu yang bisa dengan mudah mempermainkan ikatan suci dua insan dengan nama Rabbnya.


"Kay, kamu udah makan?" Bian berhenti menyuap makanan.


Kanya gelapan ketahuan asik memandangi Bian. Tentu saja ia belum makan. Bahkan sempat terjadi drama sebelum makanan yang ia masak terhidang di meja. Tapi kenapa kali ini perutnya terasa kenyang berisikan kebahagian.


"Kita makan berdua aja Kay, sekarang giliran kamu deh terus gantian." Bian menyodorkan sendok pada Kanya dengan tetap memegang piringnya.


Kanya jadi canggung sekarang, Bian tak keberatan makan dengan wadah dan satu sendok yang sama. Kanya meraih sendok dan mulai makan bersama.

__ADS_1


"Kay, bagi brokoli panggangnya." Abian langsung menyambar sendok yang akan masuk ke mulut Kanya.


Kanya seketika jadi merona merah jambu. Akhirnya makan siang kali berlangsung menyenangkan dengan sesekali Bian menyuapi Kanya meskipun masih diselimuti kecanggungan. Piring kedua mereka pun tandas setelah makan bergantian. Kanya membereskan sisa makanan hingga tersusun rapi.


Bian berdiri, mengambil bolpoin di meja dan kembali duduk di sebelah Kanya.


"Kay, kamu mau tahu pendapat aku tentang masakan kamu?" tanya Bian.


Kanya mengangguk semangat, ia sudah penasaran sejak tadi.


"Pinjam tangan kamu,"


Kanya mengulurkan tangannya. Bian langsung mengeryitkan dahi. Ia memperhatikan tangan Kanya yang penuh plaster. Sungguh ia tak perhatikan tadi ketika makan.


"Kay, tangan kamu nggak apa-apa?" tanya Bian panik memutar-mutar tangan istrinya. Kanya bisa melihat sirat kuatir di wajah suaminya.


"Sumpah Mas nggak apa-apa ini hanya luka kecil."


"Ini kena percikan minyak," Bian menyentuh lagi bercak merah di talapak tangan Kanya.


"Mas Bian nggak akan larang aku masak lagi. hanya karena luka ini kan. Bagaimana aku bisa maju kalau orang-orang selalu tak memberikan aku kesempatan untuk belajar," seru Kanya tulus. Ia hanya ingin berusaha lebih baik, bukan pasrah dengan menerima perlakuan manja.


"Nggak Kay, Mas pasti beri kamu kesempatan. Yang kamu katakan benar orang tidak maju jika tidak belajar. Aku yakin kamu pasti bisa."


Kanya tersenyum merasa Bian memperlakukan berbeda. Disaat yang lain tak percaya pada kemampuan, Bian justru memberinya kesempatan.


"Makasih Mas,"


"Tapi kamu harus janji, harus lebih hati -hati lagi,"


Kanya mengangguk semangat.


"Ya," Kanya menyodorkan tangannya lebih dekat meskipun tak tahu apa yang akan dilakukan suaminya.


"Tutup mata, jangan buka sebelum ada perintah," seru Bian.


Kanya menurut, Bian mulai menuliskan sesuatu di telapak tangan Kanya yang membuat wanita itu kegelian.


"Sudah buka mata,"


Kanya membuka mata dan tak sabar ingin membaca tulisan Bian.


Skor ujian Kanya 60


Note: remedial


Abian Askara


Mentang-mentang pemilik sobatpintar. Ia di beri nilai ujian. Nilai yang masuk akal untuk orang yang baru belajar memasak. Akan tidak masuk akal jika Bian terlalu peres memberi nilai sempurna 100.


"Aku lebih suka beri kamu skor, biar lebih giat belajar,"


"Kok notenya remedial Mas?" tanya Kanya binggung.


"Untuk keseluruhan bagus, tapi itu nilai kamu menurutku. Dalam rapor nilai 60 masuk nilai merah. Itu artinya kamu harus remedial, mengulang lagi besok." Bian mencubit hidung Kanya.

__ADS_1


"Mas Bian," rengek Kanya.


"Mas tunggu remedial sampai lulus ujian," seru Bian menujuk tulisan yang dibuat ditangan Kanya.


Sungguh tak terkira kebahagiaan Kanya. Bilang saja Mas Bian ingin Kanya datang ke kantor lagi.


Kanya meremas tangannya dan bertekad tak akan mencuci tangan agar rapor dari suaminya itu tidak luntur. Bolehkah ia menyebutnya ini rapor cinta. Receh sekali Kanya.


"Oh ya Kay, kamu setelah ini mau kemana?"


"Langsung pulang Mas," jawab Kanya.


"Kamu disini dulu nggak apa-apa, temani aku. Nanti kita bisa pulang bareng."


"Memang nggak apa-apa aku disini. Aku nggak nganggu Mas Bian."


"Nggak lah Kay, aku justru takut kamu jadi bosan." seru Bian.


"Nggak akan Mas, aku siap untuk streaming untuk inspirasi alur cerita." Kanya memperlihatkan ponselnya.


Bian mengambil sesuatu dari bawah meja sofa. "Kamu pakai ini Kay, bantal ini biasanya aku pakai untuk rebahan sebentar kalau lelah," seru Bian menepuk bantal Agar Kanya merebahkan tubuhnya di situ


Kanya pun menurut, merebahkan kepalanya di bantal yang disodorkan Bian.


"Sorry, sorry nggak sengaja. Gue boleh ganggu sebentar," Suara tiba-tiba yang mengagetkan Kanya dan Bian.


Kanya dan Bian melihat rehan yang masuk mengendap - ngendap sambil berpura menutup wajah. Kanya memang tak terlalu mengenal Rehan, tapi Kanya tahu Rehan adalah partner Abian membangun sobatpintar.


Kanya jadi malu seperti terlihat sedang kepergok oleh Rehan.


"Gue cuma ambil ini kok, gue nggak lihat. Kasihan jiwa jomblo gue." Rehan memperlihatkan iPad yang diambil dari meja Bian.


Bian dan Kanya menjadi canggung, Kanya memilih berpura memulai streaming. Sedangkan Bian ingin menendang sahabatnya agar segera pergi karena malu.


"Sekali lagi sorry. Silahkan di teruskan barangkali ada yang mau di tuntaskan! Makanya jangan lupa kunci pintu sob!" seru Rehan dari balik pintu.


Wajah Kanya jadi merona malu. Memang kita mau ngapain Kak Rehan! jerit Kanya dalam hati.


Kanya yakin suaminya juga merasa malu dengan ucapan Rehan karena Bian memilih langsung menuju mejanya tanpa Kata sambil tersenyum-senyum.


.


.


.


.


.


.


Bersambung..........


Masih adem ya,

__ADS_1


Part ini udah Ei buat panjang ya dear😍,


jangan lupa like komen beri hadiah ya😘 terima kasih....


__ADS_2