
Malam Penantian
Pertama kalinya Kanya dan Bian saling menonton acara televisi sebelum tidur. Kanya memang lelah karena seharian menghabiskan waktu di luar rumah. Tapi Bian juga tak kunjung tidur dan mengajaknya berbicara hal-hal receh. Kanya merasa begitu dekat dengan Bian.
"Mas boleh aku tanya sesuatu," seru Kanya bangkit dari posisi tidur ke posisi duduk mengahadap ke Bian.
"Tanya apa?" jawab Bian santai seperti biasa.
Sebenarnya Kanya malu mempertanyakan hal itu. Tapi hubungan dengan Bian sedang mengalami perubahan pesat. Kanya harus bertanya tentang hal ini daripada ia harus mati penasaran setiap bangun tidur.
"Kanya nggak sengaja waktu itu terbangun malam. Apa benar Mas memelukku atau hanya sekadar perasanku saja," ucap Kanya. Sungguh rasanya ingin menutup wajahnya karena malu.
"Ya benar," seru Bian tanpa ragu.
Hal itu spontan membuat jantung Kanya berkerja lebih cepat.
Bian ikut bangun duduk dihadapan Kanya. Ia tersenyum tipis seperti biasanya, kedua manik matanya mulai memandangi Kanya.
"Kalau aku bilang, aku peluk kamu tiap malam. Apa kamu akan marah Kay," ucap Bian.
Seperti ada sihir yang membuat Kanya tak berkutik. Benarkah itu? Setiap malam?
"Ke-na-pa?" tanya Kanya sedikit terbata.
__ADS_1
Bian kembali tersenyum lebih lebar kali ini. "Karena kamu istriku Kay," jawabnya kembali merebahkan tubuhnya.
Tentu bukan itu jawaban yang diinginkan Kanya. Ia ingin mendengar hal yang lain. Tapi sungguh ini fakta yang cukup mengejutkan untuk Kanya. Ia jadi ingin juga menanyakan kenapa Bian tak menyebut namanya ketika acara penerimaan award. Tapi sungguh apa itu penting?
Kanya kini ikut merebahkan tubuhnya di samping Bian.
"Tapi, kenapa setiap pagi aku lihat Mas Bian tidur membelakangiku," ucap Kanya masih penasaran.
Bian tertawa renyah lagi. "Kay, tubuh manusia itu fleksibel. Tidak mungkin mereka bisa diam dalam posisi seperti patung dengan waktu yang lama. Otot-otot mereka juga perlu perenggangan dalam satu malam," terang Bian.
Kanya menerima penjelasan Bian yang masuk akal. Kini ia berbalik membelakangi Bian.
"Dan satu hal lagi Kay," seru Bian.
Kanya berbalik menghadap ke arah suaminya, "Apa Mas?" tanya Kanya langsung dihinggapi rasa penasaran.
"Maksud Mas?" seru Kanya polos. Kali ini ia melihat raut wajah yang berbeda dari suaminya.
"Aku juga laki-laki yang punya kebutuhan layaknya pasangan suami-istri Kay," ucap Bian yang membuat wajah Kanya langsung merona merah.
Kanya berusaha mengalihkan pandangannya agar tak menatap suaminya. Berbeda dengan Bian yang kini memegang dagu Kanya agar menatap sorot matanya.
"Kay, apa kamu siap. Jika aku minta hakku sebagai suamimu," ucap Bian.
__ADS_1
Jangan ditanya sudah sebedebar apa dada Kanya. Ia tak ingin ribuan malaikat melaknatnya hingga subuh jika suaminya tak ridho ia tak memenuhi hak suaminya. Bibir Kanya rasanya kaku untuk sekedar berkata-kata.
"Kamu nggak akan biarkan aku nunggu satu bulan lagi untuk mendapatkan hak aku kan," ucap Bian masih tak mengalihkan sorot matanya dari Kanya.
Kanya reflek mengangguk karena merasa sudah kewajibannya memenuhi hak suaminya. Sungguh kenapa harus disaat yang tak terduga seperti ini. Ia bahkan belum sepenuhnya tahu bagaimana perasaan Bian padanya. Tapi apa itu perlu! Jika Bian sekarang menginginkan dirinya menjadi miliknya. Bukankah itu suatu pertanda?
Jantung Kanya kembali terpompa lebih cepat ketika merasakan tangan besar membelai wajahnya. Ia juga bisa merasakan sesuatu yang hangat mulai menerpa seluruh permukaan wajahnya. Hingga tiba sentuhan hangat yang mengejutkan indera perasa Kanya. Begitu halus dan memuja! bergini rasanya first kiss yang sering ia gambarkan dalam novelnya. Tapi kenapa ini rasanya lebih indah, bahkan terlalu indah untuk Kanya.
"Setelah baca doa. Menurut kamu aku harus mulai dari mana Kay," bisik Bian menggoda.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung........
Jangan lupa like komen vote 😘