
Hanya Kamu
Kanya meneguk kopi sebelum melanjutkan pertanyaan selanjutnya. Dengan sedikit caffein bisa meredakan ketegangan mendengar jawaban dari suaminya.
"Tentang hubungan Mas dengan Gareta yang sempat tersebar di media online, apa semuanya benar?"
Bian menoleh ke arah Kanya, merapikan rambut Kanya ke balik telinga. Senyum tipis masih menghiasi bibirnya.
"Kamu cemburu sama Gareta?"
Kanya mengangguk, "Sedikit," balas Kanya. Padahal kenyataannya sangat teramat cemburu.
"Sebenarnya ada hal yang nggak ingin aku ceritakan ke kamu Kay,"
"Kenapa?" Kanya protes.
"Pasti Mas punya alasan kenapa nggak ingin cerita,"
"Ya terserah Mas, nggak mau cerita juga nggak apa-apa," Kanya berpura merajuk menoleh ke arah lain.
"Tapi kayaknya, aku mau cerita deh Kay,"
Kanya kembali menoleh ke arah suaminya. Tangannya menumpu dagu, siap mendengarkan suaminya
"Gareta memang pernah mengutarakan keinginannya memberi kesempatan untuk kita bisa bersama."
Kanya menelan ludah mencoba, melemaskan otot yang kaku dan sarafnya yang mulai menegang. Kenapa rasa cemburunya kali ini begitu menggebu. Kanya selalu merasa dirimya kecil jika membandingkan dengan Gareta. Jika di ukur dari segi kecocokan, Gareta memang sosok yang begitu matte dengan suaminya. Memiliki banyak kesamaan, bisa saling mendukung satu sama lain.
"Terus?" balas Kanya menebalkan telinganya masih menyimak dengan khidmat.
"Aku tetap merasa lebih baik menjadikan Gareta sahabat. Mungkin kita memang terlihat serasi ketika tampil di publik. Bahkan seperti yang kamu tahu, media-media juga sering membesar-besarkan kedekatan kita."
"Ya, bahkan mendekati hari pernikahan beritanya masih saja seliweran muncul," sela Kanya.
"Saat itu Gareta berpikir ada keuntungan marketing untuk dirinya dan aplikasi sobatpintar Kay.
Tapi tidak untuk pasangan hidup Kay. Banyak hal yang mungkin tak bisa aku rasakan kalau berjodoh dengan Gareta." Bian mencolek dagu istrinya.
Benarkah? Lantas dimanakan istimewanya Kanya di mata seorang Abian jika wanita yang terlihat sempurna seperti Gareta saja bisa terlewati.
Kenapa akhirnya aku yang kamu pilih Mas? haruskah Kanya masih menanyakan hal itu?
__ADS_1
"Seandainya sekarang kamu di posisi wanita pernah mengungkapkan perasaannya, terus bukan kamu yang duduk disebelahku. Bagaimana perasaan kamu jika lelaki yang pernah kamu harapkan mengungkap rahasiamu didepan istrinya. Nggak enak kan rasanya,"
Kanya mulai memahami perkataan Bian, "Pasti malu Mas,"
"Hmmm ... Apakah salah jika aku memilih tak menceritakan ke kamu. Mas harus menghormati privasi mereka kan?"
Kanya mengangguk mengiyakan, seharusnya ia berpikir lebih bijak daripada terus berprasangka dengan perasaannya.
Pria berkaos biru itu menggenggam kedua tangan Kanya erat. Kanya mengalihkan pandangannya hingga kedua sorot matanya bertemunya dengan tatapan seduh suaminya.
"Terlepas dari semua itu, hatiku memang sudah terisi seseorang dan tak bisa tergeser sedikitpun Kay."
Kanya terpaku,
"Saat masih SMA, Bunda bilang kita akan dijodohkan, aku berusaha mencari tahu tentang kamu."
"Mungkin waktu itu suamimu ini tak punya banyak keberanian untuk mendekati kamu. Aku cukup mengagumi kamu dari jauh. Aku tak pernah bisa lupa bagaimana seorang Kanya yang berasal dari keluarga kaya raya rela berpanas-panasan demi membagi-bagikan jajan untuk anak-anak pemulung dekat sekolah.
Aku juga nggak lupa Kay, bagaimana Kanya rela di bully demi membela anak petugas keberhasilan sekolah yang dituduh mencuri."
Mata Kanya berkaca-kaca. Bagaimana Bian bisa tahu dan mengingat kejadian yang sudah berlalu bertahun-tahun lalu. Kanya memang tak pernah menunjukkan latar belakang dirinya saat SMA kala itu, Ia bahkan tak peduli di bully habis-habisan karena di anggap miskin dan bodoh karena bersahabat dengan Raysa, anak petugas kebersihan di sekolah.
"Bagaimana aku tidak terpesona pada wanita yang setiap minggu selalu datang ke kampung kumuh untuk membagikan buku-buku,"
"Sekarang apa alasan Mas untuk tidak jatuh cinta sama kamu Kay,"
Hati Kanya begitu tersentuh, begitu berarti kah dirinya di mata Abian.
"Andai Mas tahu, justru selama ini aku selalu merasa tak pernah sebanding dengan Mas Bian,"
Bian mengernyitkan wajahnya. "Kenapa?"
"Mas perbedaan diantara kita telalu jauh dari dulu. Mas Bian dulu siswa berprestasi dan disekolah sedangkan aku selalu mendapat rapor terendah di sekolah?"
"Mas butuh istri yang solehah, yang bisa meneduhkan hati, tulus dan berhati mulia. Bukan istri pandai Kay,"
"Mas Bian, nggak akan ngerti,"
Bian kembali menangkap wajah Kanya dengan kedua tangannya. "Kay, apa yang membuat kamu berpikir seperti itu. Justru sobatpintar ada karena terinspirasi dari kamu," ucap Bian.
Kanya menutup mulutnya sangat terkejut kali ini.
__ADS_1
"Aku juga ingin memberi kesempatan anak-anak yang kurang mampu atau kurang beruntung mendapatkan pendidikan non formal yang baik, sehingga mereka juga bisa berprestasi di sekolah dan bisa mengampai mimpi-mimpinya,"
"Kamu juga selalu menjadi semangat aku Kay, saat aku berada di Amerika. Bukan siapapun," ucap Bian menghapus air mata Kanya bergulir lembut.
Tenyata Bian memang suami yang tepat untuknya, bersyukurnya Kanya selama ini juga tak pernah membuka hati untuk lelaki manapun. Ia tetap menyimpan nama Bian dalam hatinya meskipun banyak pikiran buruk yang mempengaruhi dirinya tentang pernikahan ini.
Siapa yang akan mengira, jika Bian juga melakukan hal yang sama. Ia menutup hati hanya untuknya. Merasa betapa sangat beruntungnya Kanya saat ini.
"Aku sangat mencintai kamu Mas," ucap Kanya keluar begitu saja.
Bian mendekat wajahnya, memandang wajah Kanya yang terlihat lebih cantik berkali-kali lipat dari biasanya kali ini. Kanya bisa merasakan sesuatu yang menerobos indera perasanya. Kanya merasa kali ini kecupan yang begitu luar biasa. Tak ada beban, hanya tugas sebagai kewajiban istri seperti sebelumnya. Tapi kali ini kecupan lembut penuh cinta dari seseorang yang begitu mencintai dan di cintai Kanya.
Bian menjauhkan sedikit wajahnya memberi ruang untuk istrinya meraup oksigen karena nafas istrinya yang tersengal. Tapi itu tak berlangsung lama, Bian mengulangi hal yang sama. Sama halnya Kanya, Bian merasa tak ada tembok penghalang untuk begitu dekat dengan istrinya.
"Terimakasih Kay, sudah menjadi istriku," ucap Bian setelah melepaskan tautan bibirnya.
Kanya hanya mengangguk tersenyum malu. Keduanya kini kembali saling berpelukan di atas sofa. Tangan Bian melingkar di perut Kanya. Kanya menyadarkan kepalanya di dada Bian sambil memainkan jari-jari suaminya.
"Mas,"
"Hmmmm,"
"Apa Mas sama sekali tak tertarik dengan Kak Gareta?"
Bian mengelengkan kepalanya. Masih saja Kanya menanyakan tentang Gareta.
.
.
.
.
.
.
Bersambung......
Kanya ini masih aja ya, .....
__ADS_1
.