
"Ayo." Bian mengulurkan tangan pada istrinya. Kanya mengambil tangan Bian untuk membantunya bangun. Perutnya sudah semakin membesar di bulan keenam ini.
"Ini, ada tambahan obat untuk sakit pinggang kamu Sayang," Bian menyerahkan kantong plastik berisi beberapa beberapa strip obat.
Sore ini Kanya dan Bian pergi ke rumah sakit ibu dan anak untuk memeriksa perkembangan bayinya. Dokter mengatakan bayinya berkembang dengan baik.
Ketika sudah dalam perjalanan. Terukir senyum di bibir Kanya. Matanya terus memandangi foto USG yang ditempel di buku kehamilan.
"Anak kita Insyaallah laki-laki Mas," ucap Kanya sambil mengelus foto itu.
Bian juga melempar senyum kepadanya istri yang disebelahnya. "Kira-kira mirip siapa ya?"
"Mirip Aku ajalah Mas," protes Kanya.
"Tapi pada umumnya gen laki-laki lebih dominan daripada gen perempuan Sayang. Tidak menutup kemungkinan skor akhirnya bisa berubah menjadi 40 persen DNA aktif gen ibu dan 60 persen DNA aktif gen ayah. Mungkin bayi lebih terlihat mirip ayahnya dibandingkan ibunya."
"Iya, iya mirip Mas," balas Kanya mengalah.
Bian mengacak rambut Kanya disela tangannya yang memegang setir. "Yang penting waktu lahir nanti bayinya sehat, normal, lucu."
Kanya mengangguk tak lagi ingin berdebat dengan masalah mirip siapa nanti bayinya. Kanya memotret foto USG 4Dnya. Sudah saatnya ia memberitahu kepada semua orang tentang kehamilan.
Kanya memang belum meng-upload ke sosial media tentang kehamilannya. Foto USG inilah yang nanti akan menjadi feed pertama tentang kehamilannya.
Bagaimana reaksi para netizen? Tentu mereka pasti juga ikut bahagia. Sejak dua bulan lalu haters Kanya berangsur-angsur berkurang bahkan nyaris tak terlihat. Komentar feed yang mengbully Kanya juga hampir tenggelam karena komentar pujian tentang kenaikan Kanya.
Bukan tanpa alasan Kanya tak ingin mengumumkan kehamilan di sosial media. Ia hanya tak ingin meracuni pikiran bila nanti ada komentar negatif di awal kehamilannya. Bian pun mendukung keputusan Kanya.
Sekarang! Apa salahnya jika ia berbagi kebahagiaan. Jika memang mendapat doa yang baik dari semua orang pasti akan semakin menguatkan Kanya untuk menjadi ibu baru.
Jika Kata Papa, menurut ilmu biologi DNA ayah lebih dominan, Mama nggak apa-apa kebagian sifat bucinnya aja.......
#Babysobatpintar
#Sobatbucin
Hanya dalam hitungan detik, notifikasi dari ponsel Kanya sepertinya tak berhenti.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Kanya menutup mulutnya menahan tawa. Bukan netizen namanya jika tak ada komentar - komentar yang mengeletik perut Kanya.
Bian saat ini fokus melihat layar MacBook teralih pada pandangan istrinya yang tertawa bahagia. Kanya sekarang berada di kantor Bian. Ia memilih menunggu di kantor sampai suaminya selesai bekerja daripada harus menunggu sendiri di rumah.
"Kenapa sih?" tanya Bian pada istrinya yang setengah berbaring di sofa.
"Mas nggak pernah baca komentar atau dm di Instagram Mas?" tanya Kanya. Kenapa ia menanyakan hal itu, suaminya pasti tidak sempat membaca ribuan komentar apalagi baper seperti dirinya.
Bian mengelengkan kepala. "Selucu itu, kelihatan kamu bahagia sekali."
"Bukan lucu Mas, unik! Tenyata seru juga lihat pendapat dari masing-masing orang." Kanya bangkit dari posisinya menuju meja Bian.
Kini mengambil kursi tool kecil untuk di seret di sebelah kursi suaminya.
"Mas pinjam hape," Kanya meraih ponsel Bian yang ada di sebelah MacBook, meskipun sang pemilik hanya berdehem.
Bian bukan tipekal suami yang melarang istrinya melihat ponselnya. Kanya bebas mengakses ponsel milik suaminya itu. Bahkan password kunci layarnya adalah tanggal lahir Kanya. Itu menjadi password favorit Bian sejak dulu. Untuk ATM, mbanking, e-money atau apapun, menggunakan password yang sama bahkan sejak mereka beluk menikah.
Ketika benda pipih itu sudah ditangan. Kanya langsung buru-buru mengakses aplikasi yang bernama Instagram itu. Seketika yang bisa dilakukan Kanya hanya melongo. Ternyata dugaannya benar. Entah berapa pesan masuk yang belum di terima suaminya. Atau memang suaminya hanya membalas DM dan komentar orang-orang tertentu. Ini DM yang masuk ribuan! Kanya yakin itu Sudja termasuk pesan baru setelah Kanya memposting feed foto kehamilannya.
Karena penasaran! Kanya membuka pesan suaminya.
Nyosa77
Hah! Dikira kisah di novel kali. Ini pasti Netizen sekaligus pembaca Novel Kanya.
Nggak semudah itu hidup gue Esmeralda. Bukan berhenti membaca. Kanya malah penasaran membaca isi DM selanjutnya.
Reninop
Maaf Kak Bian, Gw orangnya suka nekad.
Cuma mau nanya, siapa tahu iseng-iseng berhadiah! Kakak ada rencana nggak cari teman untuk Kak Kanya menemani hari-hari Kak Bian. Gw siap Kak ikut seleksi, karena kasian tetangga tiap hari jantungan dengar gelegar jeritan hati gwđ.
Kanya menutup mulutnya menahan tawa. Receh banget! gue nggak butuh madu mbak, Abian cuma untuk Kanya. Tapi Kanya mengenal nama akun yang juga sering berkomentar receh di akunnya. Kanya kini mulai tertawa karena Netizen itu ternyata juga nyepam di Ig suaminya.
"Lihat apa sih," Bian semakin penasaran menengok melihat ponsel yang pegang istrinya.
Kanya menggeser ponsel agar suaminya bisa ikut membaca. Sedetik kemudian Kanya melihat suaminya menahan tawa.
Mau ketawa aja Suamiku tetap elegan ya.
"Lucu apa ngarep?" ucap Kanya yang disusul tawa Bian yang tak di tahan lagi.
__ADS_1
Amit-amit jangan sampai!
"Mulai lagi kan," Bian melihat ke arah istrinya.
Kanya berpura menekuk wajahnya. Bian menolehkan wajah Kanya kearahnya. Jari manisnya mengetuk kening Kanya. "Sepertinya Mas harus segera ukir sertifikat itu disini!"
"Mas Bian," Kanya memeluk suaminya. Sekarang Kanya tak perlu malu atau apapun ketika bersama Bian.
Ceklek!
"Ups sorry - sorry aku datang di waktu yang nggak tepat, silakan di lanjutkan," suara Rehan dari balik pintu. Pria itu pun langsung menutup pintu kembali.
"Kak Rehan nggak perlu keluar," teriak Kanya. Tapi sudah telanjur, sahabat Suaminya itu sudah menghilang dari balik pintu.
Kanya pun duduk tegak kembali ke tempatnya.
"Kamu bikin iri Rehan Sayang," ucap Bian.
"Salah sendiri Kak Rehan betah ngejomblo dan kerja terus," balas Kanya.
"Bukan betah sendiri Sayang, Rehan belum menemukan pasangan yang cocok. Rencana Mas ingin mendekatkan Rehan dengan Sasy," ucap Bian.
"Loh, bukannya Sasy sudah di jodohkan dengan Bunda?" tanya Kanya.
"Rehan orangmya," balas Bian.
"Serius Mas?" tanya Kanya. Bian mengangguk.
Bukan kah waktu itu Kanya mendengar Bian sendiri yang berdebat dengan ibunya agar tak menjodohkan adiknya. Jika ia tahu itu pria yang di jodoh kan adalah sahabat dan rekan kerjanya, kenapa Bian melarang?
"Kenapa Mas malah nyuruh bunda untuk tidak menjodohkan Sasy, jika calon prianya adalah Kak Heran?
"Karena Sasy tipekal keras kepala. Ia punya kriteria sendiri untuk pasangannya, dan Mas nggak melihat itu ada pada Rehan. Makanya sebelum perjodohan itu terjadi. Mas akan berusaha membuat Sasy mengenal Rehan lebih dekat."
Kanya hanya manggut-manggut, ia tahu suaminya pasti melakukan hal yang terbaik untuk adiknya.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung....
Ei sisipkab cerita tokoh pendukung sebelum end ya dear đ