
Merasa Cemas
Kanya bisa melihat suaminya yang makan dengan tak tenang. Suaminya itu hanya menyuap secukupnya. Kali ini Bian juga tak banyak bicara. Ia lebih sering melihat ke arah luar jendela. Ya, suami Kanya itu akan memastikan sendiri kepergian adik kesayangan ke Bogor bersama Galang.
"Ini pertama kali Sassy pergi dengan laki-laki selain kakaknya," ucap Bian di sela makannya.
"Mas nggak perlu khawatir. Galang pasti juga akan jaga Sassy diluar tugasnya menjadi fotografer Sassy." Kanya mengelus punggung tangan suaminya.
Tentu saja Kanya tak heran bagaimana cemasnya suaminya. Ia juga pernah merasakan ada di posisi Sassy menghadapi keposesif kakaknya ketika akan berkemah dengan sahabatnya karena ada Galang.
"Andai Mas nggak ada pertemuan dengan investor hari ini. Mas bisa ikut ke bogor menemani Sassy," ucap Bian lagi.
"Mas Bian tenang percaya sama Galang. Andai Kanya nggak perut besar begini pasti juga ikut menemani mereka."
Kanya masih berusaha meyakinkan suaminya. Susah sekali untuk Kanya menghilangkan image tengil Galang di mata Bian.
Bian mengacak kepala istrinya. "Iya Kay. Sassy orang yang begitu detail memilih hal untuk kepentingannya. Jika ia memilih Galang, itu artinya dia memang fotografer terbaik untuk obyek penelitiannya."
"Pasti Mas. Galang itu profesional dan terlatih," puji Kanya.
"Ayo kita lihat mereka, sepertinya udah mau berangkat," ucap Bian yang sejak tadi menjadi CCTV rumah di depannya.
__ADS_1
Kanya pun bangkit, berjalan beriringan menuju halaman. Ia bisa melihat Galang yang sibuk menata barang bawaan di bagasi mobil. Sedangkan Sassy langsung menyebrang menuju Kakaknya.
"Hati-hati, langsung pulang jika sudah selesai" ucap Bian pada Sassy.
"Iya Bang, pasti. Galang itu fotografer mahal aku nggak akan sanggup bayar kalau pakai lama-lama," canda Sassy.
"Hati-hati Sas," Kanya kini bergantian memeluk Kanya.
"Sorry kita bisa pergi sekarang nggak?" Galang kini menghampiri ketiga orang itu.
"Kalau kita telat setengah jam, susah dapat cahaya bagus," lanjut Galang.
"Iya pasti, Jangan terlalu cemas kita cuma ke Bogor bro bukan ke pelaminan," seru Galang menepuk pundak Bian sambil tertawa.
"Lang!" Kanya melotot ke arah sahabat. Selera humor suaminya sangat buruk dan akan semakin menambah kecemasan Suaminya. Itu terlihat dari sorot mata Bian ke Galang.
"Gue cuma bercanda kok, gue akan jaga Adek lo, seperti Adek gue sendiri," balas Galang kembali menepuk pundak Bian.
Bian menyalami Galang memberi isyarat agar keduanya segera pergi. Sassy melambaikan tangan berjalan menuju mobil.
Galang membunyikan klakson dan melambaikan tangan pada Kanya dan Bian ketika SUV itu sudah berjalan meninggalkan halaman rumahnya.
__ADS_1
Beriringan kepergian Galang dan Sassy, kecemasan Bian mulai berkurang. Ia juga bisa melihat adiknya yang lebih ceria. Entah Galang yang mudah akrab dengan orang karena selalu bersikap sok akrab, atau malah Sassy yang merasa senang di depan Galang?
Tidak-tidak! Bian mengelengkan kepalanya. Adiknya tak boleh menaruh rasa apapun pada pria lain selain Rehan. Merasa nyaman belum tentu tanda rasa tertarik kan? Lagi pula Sassy sudah punya seseorang yang menurut Bian lebih baik dari Galang.
Mungkin saat ini Sassy menganggap Galang bisa menjadi penghibur hatinya yang gundah. Biarlah! Lagipula Bian juga yakin Sassy buka tipe idaman Galang. Galang mungkin tak terlalu suka dengan wanita yang serius seperti adiknya. Pria gondrong itu profesional kok! Bian tahu itu karena sering mendampingi Kanya jika ada pemotretan.
.
.
.
.
.
.
.
Bersambung.....
__ADS_1