(Im)perfect Couple

(Im)perfect Couple
Bab 18b


__ADS_3

Kanya mengeratkan rangkulan pada lengan Bian. Untuk pertama kalinya ia tak begitu serius menikmati film yang sudah lama di nanti. Kanya lebih senang menempelkan kepala di pundak Bian dengan tangan yang tak melepaskan tautan sejak tadi. Kanya merasakan debaran jantungnya yang menjadi berpacu lebih cepat. Tak penting sekarang Bian mencintainya atau tidak! yang terpenting dari cara Bian memperlakukannya, apa Kanya bisa berharap Bian sudah mencintainya.


"Minum kamu Kay," Bian menarik gelas ice coffe dari tangan Kanya. Pria itu meminum dengan sedotan yang sama dengannya. Bertambah lagi merona wajah Kanya. Bian ingin minum segelas dengannya, padahal dia sudah punya gelas minuman sendiri.


"Kenapa?" tanya Bian melihat Kanya yang terus memandanginya bukannya melihat layar.


"Nggak apa-apa Mas," Kanya berbalik memandang layar. Tapi rasa penasaran yang menggelitik membuatnya mengarahkan lagi pandangan pada Bian. "Mas, kapan terakhir nonton," tanya Kanya.


"Hmmm, kapan ya?" seru Bian nampak berpikir.


Kanya sudah menduga pasti banyak perempuan yang Bian ajak kencan sebelum menikah.


"Dua bulan lalu, saat pemutaran film dokumenter bersama pak menteri."


"Ooo," seru Kanya. Tentu saja selera Bian dengannya sangat berbeda.


"Yang jelas, ini kedua kali aku masuk bioskop," bisik Bian ditelinga Kanya agar terdengar ditengah suara studio.


Mata Kanya membulat. Benarkah itu? Jadi Bian selama ini tidak pernah berkencan? Apa mungkin dengan mantannya ia tak pernah menghabiskan waktu bersama. Atau mungkin saja suaminya itu lebih suka berkencan ditempat yang lain? Tapi rasanya aneh jika ada laki-laki yang tak pernah berkencan di bioskop. Fakta baru lagi yang di temukan Kanya. Bukan kah ia harus senang menjadi perempuan pertama yang bisa menonton berdua dengan suaminya. Sungguh terlalu banyak hal yang tak ia mengerti dari suaminya.


"Mas nggak mau tahu terakhir kali aku nonton sama siapa?" ucap Kanya karena tak ada respon balik dari Bian tentang dirinya.


"Memang dengan siapa?" tanya Bian tenang.

__ADS_1


"Yang pasti cowok," balas Kanya ingin melihat adalah raut cemburu di wajah suaminya. Namun nampaknya Bian tetap tenang saja tak menunjukkan sikap kepanasan berlebihan saat ia menyebutnya laki-laki.


"Kak Bintang?" sahut Bian.


"Kok tahu?" tanya Kanya.


"Nggak mungkin kamu pergi berdua dengan laki-laki selain Bintang," bisik Bian.


Kanya tersenyum sendiri. Bagaimana Bian bisa tahu kalau ia tak pernah menjalani hubungan dengan laki-laki manapun sampai dirinya menikah.


Kanya semakin mengeratkan lengannya, ia menyadarkan pundaknya dibahu suaminya merasakan rasa kasmaran layaknya pengantin baru. Kini ia tak mau lagi memikirkan hal lain selain melihat layar didepannya meskipun pikirannya sudah terlampau bahagia tak konsentrasi melihat film.


"Aku ke toilet dulu," ucap Bian ketika film sudah mendekati ujung cerita.


Kanya melepaskan tangannya membiarkan suaminya pergi. Tak lama Bian pergi lampu bioskop mulai menyala karena film sudah berakhir. Kanya masih diam di tempat menunggu pengunjung lain turun agar tak berdesakkan sembari menunggu suaminya.


"Ya baru sebulan lebih," jelas Kanya.


"Pantesan suaminya lebih senang mandangin mbak dibandingkan film," seru perempuan itu.


"Masa sih Bu," seru Kanya malu. Benarkah itu? Rona merah kembali menghiasi wajah Kanya. Bian terus memandanginya selama film di putar!


Kini ia harus turun karena pengunjung mulai sepi. Ia menunggu Bian di depan pintu keluar. Ternyata itu yang membuat suaminya lama tak kunjung kembali. Ia melihat suaminya di kelilingi ABG yang perkiraan Kanya masih usia SMP dan sebagian SMA. Bian begitu ramah meladeni ABG untuk berfoto. Kanya menyunggingkan senyum, ia yakin sebagian dari mereka mungkin adalah hatersnya.

__ADS_1


"Satu lagi Kak," serunya salah satu ABG memegang kamera.


Bian tanpa sengaja melirik ke samping dan melihat Kanya mematung disitu.


"Tunggu, ada istri Kakak," Bian keluar kerumunan dan menarik tangan Kanya yang tak jauh tempatnya.


"Kalau ada istriku jadi lengkap," seru Bian merangkul Kanya untuk kembali berpose dengan anak-anak sekolah itu.


"Iya ternyata Kak Kanya cantik!" seru salah satu ABG.


"Cieh, cieh ....," goda para ABG yang tak keberatan dengan kemunculan Kanya.


Hati Kanya kembali berbunga. Bian tak pernah mengabaikannya. Ia mengakuinya di hadapan dunia kalau Kanya bagian dari hidupnya. Sejak kemarin kata istriku selalu menjadi melodi yang paling indah di telinga Kanya melebihi suara Isyana Sarasvati.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung......


Sori baru bisa up lagi, terimakasih masih ikuti kisah Bian dan Kanya. 🙏 Jangan lupa like komen vote 😘


__ADS_2