
Perasaan Berbeda
"Itu Kak, foto yang jelas sampai akarnya ya!" seru Sassy pada bunga raksasa yang sering di sebut orang bunga bangkai itu.
Pengalaman Galang memotret satwa atau fauna langka memang tak bisa di ragukan lagi. Basic fotografi Galang sebelumnya memang untuk memotret Flora dan fauna untuk channel ilmu teknologi.
"Waktu di Sumatera kebetulan bunga ini lagi mekar, jadi kelompoknya mengembang lembar dan meninggi, gambarnya jadi bagus," ucap Galang sambil melihat lensa hasil cepretannya.
"Kakak pernah lihat bunga ini di habitat aslinya?" tanya Sassy kaget.
"Sudah kerjaanku Sas, menjelajah hutan dan mencari tanaman-tanaman aneh kayak gini nih," ucap Galang menunjuk bunga yang baru saja di ambil gambarnya.
Sassy semakin semeringah, ia ternyata bertemu dengan orang yang tepat. Selain akan menjadi fotografer, Galang juga bisa menjadi sumber informasinya.
"Berarti Kakak banyak memotret Flora langka di habitat asli?" tanya Sassy.
Tampilan orang di depannya ini memang nyentrik. Rambut gondrong yang di cepon, Hoodie hitam lengkap dengan celana jeans robek di lutut. Tapi siapa yang sangka dari segi pengalaman ia lebih unggul darinya. Sassy mungkin selama ini hanya mempelajari teori kehidupan para flora itu, tapi untuk terjun ke lapangan ia masih kalah jauh dari Galang sepertinya.
"Udah ribuan mungkin," jawab Galang.
"Serius?" Sassy tercengang.
"Aku masih banyak simpan file foto dan videonya," balas Galang lagi.
"Kak, apa aku bisa ke rumah Kakak untuk sharing pengalaman kakak memotret Flora di habitat asli?"
"Hmmm... Ya, Tentu saja boleh," jawab Galang semangat.
Sassy kembali tersenyum lebar. Rasanya sangat lama dirinya tak merasakan bisa seceria ini melakukan observasi. Ia selalu serius penuh konsentrasi. Entahlah! Rasanya Sassy ingin mengulang saat seperti ini setiap waktu.
Kalau Galang perhatikan dengan baik, Sassy ternyata berbeda dengan Kakaknya. Sassy memang terlihat angkuh. Tapi berbeda ketika bisa mengenal dekat, wanita berambut lurus itu cukup friendly dan enak di ajak bicara.
Nyesal gue bilang sama Bian anggap Sasy kayak Adek sendiri, soalnya gue Maruk pingin lebih dari itu.
__ADS_1
"Ayo kita ke tumbuhan selanjutnya, Kak!" Sassy menarik tangan Galang untuk melihat tumbuhan di seberangnya.
Entah sadar atau tidak, cengkeraman tangan Sassy di lengan Galang sukses membuat jantung yang lama tak berdebar kencang kini berdendang.
Cuma Sassy dan mantannya yang tahu adab yang sukses membuat jantung Galang kembali tak aman.
"Cepat Kak potret mumpung bunganya di hinggapi kumbang," Sassy membangunkan lamunan Galang.
Dengan cepat Galang bersikap normal memotret bunga sejenis anggrek itu. Sungguh sekarang jantung benar-benar tidak baik-baik saja. Tapi seorang Galang tetaplah bersikap profesional. Ia menemani Sassy berkeliling kebun raya dan memotret setiap tanaman yang akan menjadi objek penelitian Sassy.
"Cukup Kak, kita istirahat dulu," ucap Sassy mengelap keringatnya. Ia sudah terlalu jauh berjalan.
"Kita ke cafe saja dulu," ucap Galang.
Sassy masih mengatur nafasnya. Tenyata lelah juga berkeliling meksipun suasana di kebun sejuk.
"Cepek?" tanya Galang. Sassy mengangguk.
"Mau aku gendong?" ucap Galang.
Galang langsung tertawa lepas. "Bercanda, kita duduk saja dulu disitu," Galang menunjuk pinggiran kolam yang di penuhi teratai.
Sassy mengangguk kemudian berjalan beriringan dengan Galang. Keduanya langsung meluruskan kaki di atas rerumputan.
Galang memperhatikan Sassy sekilas. Ia sangat salut dengan Sassy karena kecintaan pada tumbuhan. Wanita itu sangat berbeda dengan sahabatnya yang mungkin akan heboh sendiri jika di ajak ke wisata alam. Sassy bukan wanita manja yang takut pada sengatan matahari. Ia tak keberatan kulit putih yang terbalut kaos navi itu terpapar sinar UV.
Klien outdoor photography nya kali ini terasa istimewa. Tak sia-sia ia menyerahkan 5 job dengan waktu bersamaan ke krunya.
"Sekali lagi makasih kak," ucap Sassy yang kini mulai merasa tenaganya perlahan pulih.
"Sama-sama, aku kan juga kerja untuk kamu," ucap Galang.
Sassy mengangguk, "Oh ya Kak. Gimana ceritanya Kakak bisa jadi fotografer channel Sains."
__ADS_1
"Awalnya dari Mapala waktu masih zaman ngampus. Kebetulan ambil jurusan nggak jauh-jauh dari multi media. Jadi sambil jadi penjelajah, aku bisa juga saluran bangkat fotografi. Karena sering menjelajah objek saat itu hanya tumbuhan dan hewan. Iseng masukkan ke Channel, sebagian gambar Alhamdulillah ada yang masuk"
Sassy mengangguk menangapi Galang. "Seru Kayaknya masa kuliahnya."
"Ya, lumayan bikin aku lulus 5 tahun," ucap Galang yang membuat tawa keduanya pecah.
"Kalau kamu, apa rencana setelah lulus nanti?" tanya Galang.
Tawa ringan di wajah Sassy sejenak terhenti. Sassy rasanya tak ingin mengingat jawaban dari pertanyaan Galang.
"Heh! Kok jadi bingung jawabnya, aku kira kamu bakal lanjutkan S2 di luar negeri seperti Bian."
"Mungkin aku akan nikah Kak," jawab Sassy keluar begitu saja.
Mata Galang membulat tak percaya dengan ucapan Sassy. Hati Galang mendadak kecewa. Ternyata harapan memang kadang tak sesuai kenyataan. Mungkin nasib masih belum berpihak padanya dalam urusan asmara.
.
.
.
.
.
.
.
Bersambung......
Part ini nggak ada Bian dan Kanya ya dear.... Ei sempilkan sedikit kisah pemeran pendukung yang belum kelar masalahya😍😍
__ADS_1
Terimakasih semuanya 🙏 maaf lagi3 telat up