
Bertemu
Kanya hari ini harus berbelanja kebutuhan rumah dan dapur sendirian. Beruntung ada supermarket dalam mall yang tak jauh dari rumahnya. Bian menjadi sangat sibuk hari ini. Suaminya sudah di pastikan akan pulang larut malam lagi.
Kanya mengambil beberapa apel dan anggur sebagai penutup acara belanjanya. Selama hamil Kanya selalu diingatkan suaminya untuk rajin mengkonsumsi buah. Kanya masih bersyukur saat ini kehamilan tak terlalu merepotkan. Ia hampir tak mengalami morning sickness yang di alami orang hamil yang pernah ia dengar.
Setelah melakukan transaksi pembayaran. Kanya memasukan semua belanjanya ke dalam troli. Lumayan untuk persiapan dapur satu minggu ke depan memenuhi trolinya.
Kanya mendorong trolinya pelan menuju ke salah satu coffeshop di mall. Kanya ingin menikmati secangkir kopi sejenak sebelum kembali ke rumah.
Setelah memesan kopi dan beberapa kue potong. Kanya memilih duduk di meja dekat jendela. Hendak mengeluarkan ponsel untuk membaca novel sambil menunggu kopinya datang. Kanya di buat membulatkan mata dengan seseorang yang baru datang ingin menikmati kopi juga dicafe ini.
Wanita tinggi berambut coklat gelap dengan kaos hitam berlogo ruangsiswa dan rok selutut warna merah. Wanita terlihat begitu tenang dengan penampilannya yang selalu anggun itu. Kanya tak melihat ada rasa was-was di wajah wanita cantik itu. Justru Kanya merasa dandanan Gareta lebih cetar dan segar dari biasanya.
Mungkin saja Wanita itu mengikuti acara promosi di lantai ground tadi.
Kanya yang gemas sendiri, langsung berdiri menghampiri meja depan untuk bisa menemui wanita itu.
"Kak Gareta apa kabar?" Kanya langsung duduk di hadapan Gareta tanpa perlu di persilahkan.
"Kanya! Fine. You can look me," jawab Gareta kaget.
__ADS_1
"Well, Kakak memang terlihat sangat baik," balas Kanya menunjukkan ekspresi bahagia "Apa di tempat yang baru kakak merasa sangat nyaman," sindir Kanya.
"Setiap orang berhak menentukan pilihannya 'kan," balas Gareta dengan santai menyeruput ice coffenya.
Dulu Kanya begitu menghormati Gareta karena menjadi orang kepercayaan suaminya di Sobatpintar setelah Rehan. Entah kenapa sekarang Kalau merasa tidak perlu batas kesopanan untuk seorang seperti Gareta.
"Ya betul sekali Kak, tapi aneh saja rasanya jika kesenangan yang ditukar dengan merugikan orang terdekat." Kanya mulai terpancing emosi tapi masih bisa tenang mengontrol dirinya.
"Semua pasti ada resikonya," balas Gareta angkuh.
"Jadi heran Kak! Apa menjadi seorang Duta tidak di ajarkan bagaimana arti sebuah persahabatan dan kerja keras. Bagaimana ia bisa menjadi contoh kalau kelakuannya saja tidak bisa di contoh!"
"Cukup Kanya! kamu menyapaku hanya ingin menjadikan teman berdebat!" seru Gareta.
"Sekarang coba kamu pikir sendiri! Mungkin Ini yang harus ditanggung Bian karena memilih istri yang tidak berguna sepertimu!"
Kanya tentu saja terpojok. Tapi tidak! Berkhianat jauh lebih rendah dibandingkan dengan dirinya yang tak bisa membantu secara edukatif untuk suaminya.
"Kenapa Kakak melakukan itu! Kenapa Kakak berkhianat dengan orang yang begitu percaya dengan Kakak! Apa begitu banyak materi yang Kakak dapat untuk bisa menghancurkan orang yang paling mempercayai Kakak! sebegitu berharganya materi di Mata Kakak hingga mengalahkan persahabatan yang tulus!"
"Cukup Kanya! Salahkan saja suamimu itu karena memilih orang sepertimu!" Gareta bangkit dari meja tak tahan dengan ocehan Kanya.
__ADS_1
"Kita lihat saja nanti, Apa Bian masih bisa bangkitkan aplikasinya tanpa diriku! Impossible!" Gareta bersiap meninggalkan Kanya.
"Kak Gareta!" Kanya memanggil keras hingga berhasil menghentikan langkah wanita itu.
Kanya mendekat kearah wanita tinggi itu. "Seandainya Mas Bian tidak pernah memilihku, Aku juga sangat yakin Dia tidak akan memilih wanita seperti dirimu!"
"Kanya!" Gareta mengepalkan kedua tangannya menahan amarah. Ucapan Kanya berhasil membuatnya mendidih.
"Kita lihat saja nanti Kak! karena ucapan Kakak salah! Sobatpintar memang tak butuh orang seperti Kakak!" Kanya kini berbalik meninggalkan Gareta.
Andai saja Gareta tidak berada di keramaian seperti ini. Ia ingin sekali menampar Kanya. Ia tak menyangka Kanya yang di anggapnya to-lol kini jadi wanita yang berani bicara.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung....