
Lupakan Saja!
Kanya mengaduk kopi di depannya. Semenjak hamil kecintaan pada minuman hitam itu meningkat. Apalagi di tambah dengan es batu di hari yang terik ini. Huh! sungguh begitu nikmat di tenggorokannya.
Kanya memilih menghabiskan waktu bertemu dengan sahabatnya sebelum suaminya datang. Lagipula semejak hamil Kanya jarang sekali keluar rumah. Ia sering menghabiskan waktu di rumah untuk berolahraga atau membaca artikel dan buku tentang kehamilan. Sang suami Menganti sebagian bacaan novel Kanya dengan buku yang lebih berisi. Awalnya memang bosan tapi seiring berjalannya waktu malah membuatnya jadi kecanduan membagi waktu membaca novel dengan esklopedia.
Setelah ada kesempatan keluar rumah seperti ini. Kanya langsung mengajak para sahabatnya untuk berkumpul. Sepulang dari butik ia langsung menuju ke markas Foursquad yaitu cafe milik Liliana.
"Dah lama?" Suara yang membangunkan Kanya dari menikmati seruputan kopi.
Kali ini ada angin apa yang membawa Galang datang lebih cepat dari Raisa dan Liliana.
"Lumayan, segelas udah mau habis," Kanya menunjuk ice coffe didepannya.
Galang mengambil posisi duduk menyamankan tubuhnya.
"Tumben cepat?" tanya Kanya.
"Kebetulan ada temui Klien dekat sini, jadi Lo ajak kumpul, gue langsung gas," jawab pria itu.
"Pesan minum atau makan sana," Kanya mengamankan ice coffenya.
Kebiasaan Galang memang suka menyomot minuman yang nganggur di depannya. Tapi semenjak Kanya menikah kebiasaan itu tak pernah pria itu lakukan lagi.
Tapi ada yang aneh dengan sahabatnya. Biasanya kalau berdua seperti ini, Galang usil dan ngoceh tak jelas. Sekarang pria berambut gondrong itu lebih diam dari biasanya. Ia malah asik memperhatikn lensa kameranya.
Mungkin si tengil itu lelah! Batin Kanya.
"Kay,"
"Apa,"
"Adek ipar lo beneran mau nikah?" tanya Galang tiba-tiba.
"Hmmm, rencananya sih begitu," balas Kanya. Nggak ada angin nggak ada hujan kenapa Galang tiba-tiba bahas Sassy. Kanya jadi curiga.
"Siapa calon Suaminya?"
"Kenapa Lo jadi kepo sih!" balas Kanya.
"Ya, apa salahnya. Siapa tahu gue bisa jadi vendor untuk moment bahagia mereka. Photo prewedding atau wedding photografer. Lumayan kan," ucap Galang santai. Pria langsung berpura menyomot kentang untuk mengusir ke canggungannya.
__ADS_1
"Ada apa sih sebenernya?" ucap Kanya mulai curiga. "Jujur deh sama gue mumpung kita masih bedua?" Kanya mengenal Galang bukan baru kemarin, tapi dari ia sejak SMP. Tentu Kanya tahu jika sahabatnya itu menyimpan sesuatu.
"Gimana ya gue ngomongnya," ucap Galang menyisir rambutnya dengan tangan.
"Lang! Kita kenal tuh nggak baru kemarin, biasanya juga kalau ada apa-apa Lo cerita ke gue," seru Kanya.
"Masalahnya, gue juga nggak yakin Lo bisa bantu gue keluar dari masalah ini," ucap Galang.
"Ya setidaknya gue mungkin punya saran yang baik?"
Galang menumpu tangannya di meja. Ia memandang serius ke arah sahabatnya itu. "Kay, gue kayaknya falling in love sama Ade ipar Lo!"
Kanya langsung tersedak ice coffe yang masuk ke mulutnya.
"Tuh kan, Lo sampai kaget nggak terima gitu," balas Galang.
Kanya masih tak bisa berkata-kata, ia masih sibuk mengelap mulutnya dengan tisu.
"Tapi harapan gue langsung pupus saat tahu dari dia sendiri kalau mau merid. Gue kayak udah di bom sebelum tempur. Gak ada harapan sama sekali."
"Lagian kenapa harus Sassy sih?" tanya Kanya.
"Entah! Memang bisa rasa yang mengetuk hati itu bilang permisi," jawab Galang.
Galang memang pernah punya pengalaman buruk masalah percintaan. Pacarnya meninggalkan Galang karena tak suka kebiasaannya sebagai penjelajah. Padahal menurut Kanya, tampilan Galang memang sanggar, tapi dia tipe pria yang setia. Pria itu juga royal pada mantannnya itu. Bahkan Galang sampai rela keluar dari komunitasnya demi wanita itu. Tapi namanya ceweknya memang nggak bener tetap saja, Galang di selingkuhi.
Untungnya patah hati Galang pelarian ke hal positif. Ia malah lebih sering menjelajah hutan untuk memotret Flora dan fauna. Hingga menjadi fotografer profesional untuk Channel-channel luar negeri yang bertema alam.
Pria itu jadi sangat sulit membuka hati untuk seseorang. Tapi Kanya jadi sedikit iba dengan sahabatnya itu. Sekali menemukan orang yang membuat membuka hati lagi. Eh, ia menaruh hati pada orang yang salah.
Apa Kanya perlu menceritakan bagaimana Sassy menentang perjodohannya. Apa perlu Kanya memberitahu Galang jika Sassy juga terpaksa menerima keputusan yang dibuat keluarganya.
Sepertinya Kanya tak perlu melakukan itu. Memberi tahu masalah perjodohan Sassy hanya akan memberi Galang secercah harapan. Yang bisa jadi itu hanya harapan palsu nantinya. Bukan Kanya tak ingin membantu sahabatnya memperjuangkan cintanya. Tapi membuat sahabatnya mengerti bahwa apa yang di cintai belum tentu di dapatkan itu lebih penting.
Karena itulah kenyataan yang ada, perjodohan Sassy dan Rehan tidak bisa di ganggu gugat. Keputusan keluarga Bian tak akan pernah berubah! Mereka selalu meyakini pilihan mereka adalah yang terbaik. Sama dengan perjodohan Kanya. Mungkin beda kisahnya di sini perbedaan Kanya dan Bian sangat ketara.
Kanya hanya tak ingin sahabatnya itu kecewa untuk kesekian kali. Selagi hubungannya dengan Sassy masih dalam tahap saling mengenal.
"Dia sudah ada jodohnya Lang, mending dari sekarang lo mulai buka mata."
"Mungkin harusnya memang begitu Kay," jawab Galang pasrah.
__ADS_1
"Tenang masih banyak ribuan cewek jomlo di luar sana. Banyak kok cewek - cewek yang lirk Lo, Lo aja soal jual mahal."
"Bukan jual mahal, cari pasangan yang tepat," balas Galang.
"Calon suami Sassy Rehan Lang," ucap Kanya.
"Rehan, co CEO yang sering nempel sama suami Lo!"
Kanya mengangguk.
Galang mengerti sekarang. Mungkin Rehan memang terbaik untuk Sassy. Dari tampilan Rehan memang lebih rapi, elegan, berkelas di bandingkan dirinya. Kedua akan terlihat serasi. Dari segi akademik Rehan juga pasti bisa mengimbangi Sassy yang juga pintar. Mereka pasangan yang pas. Benar apa yang di ucapkan Kanya. Ia harus melupakan perasaan dengan Sassy detik ini juga.
"Woy!" Raisa memegang pundak Galang mengagetkan pria itu.
"Kebiasaan nih orang, kalau gue jantungan giman!" seru Galang.
Raisa mengambil tempat di sebelah Galang. "Pada bahas apa sih, gue lihat dari jauh kalian serius banget."
Sejenak Kanya dan Galang diam, kedua saling pandang memberi kode tak akan membahas masalah Sassy lagi. Jika sahabatnya itu tahu masalah akan jadi semakin panjang. Terlebih Liliana sang lawyere, Wanita itu akan semakin memperkeruh keadaan. Bisa saja sahabatnya itu memotivasi Galang berbuat nekad.
"Lagi bahas anak Kanya nanti, mudahan ganteng Kayak gue!"
"Sembarang! Ganteng Kayak bapaknya lah!" Raisa dan Kanya kompak melempari Galang kentang.
Suasana perkumpulan Foursquad kembali somplak seperti semula.
.
.
.
.
.
.
.
Bersambung........
__ADS_1
Part ini Masih Galang Sassy ya Besty Reader 😘