(Im)perfect Couple

(Im)perfect Couple
Bab 18a


__ADS_3

Kencan


Kanya tampil kasual dengan kemeja panjang dan celana jeans biru. Bian menepati janjinya untuk pergi bersama Kanya setelah datang dari Bandung. Meskipun menempuh perjalanan lama, Bian tak menampakkan wajah lelah. Justru senyum lebar selalu menghiasi wajahnya sore ini.


Jika senyum seperti ini Bian tampakan ketika selesai akad nikah. Kanya mungkin tak akan ragu dan berasumsi yang tidak-tidak pada pernikahan.


Tapi sekarang! Kanya tak ingin memikirkan itu lagi. Kanya hanya ingin menikmati berkencan dengan kekasih halalnya. Saat yang sungguh lama ia nantikan.


Kanya datang lebih cepat dari jadwal film yang akan di tonton. Hal itu ia lakukan agar dapat tempat duduk yang paling nyaman sebelum. penuh dengan penonton lain. Kanya bisa memastikan studio akan penuh karena film ini akan banyak di tonton orang. Alhasil keduanya harus menunggu hingga lebih setengah jam lagi untuk masuk ke studio.


"Kay, aku mau kesana dulu," Bian menunjuk ke arah cafe yang dekat pintu.


"Mas mau beli popcorn ya," tanya Kanya senang tenyata suaminya perhatian.


"Popcorn?" jawab Bian heran.


"Iya Mas, popcorn untuk kita di dalam," Kanya memperjelas kalimat melihat suaminya yang terlihat binggung.


Bian tertawa renyah, "Sebenarnya aku mau sebentar ke toko buku sebelah Kay."


Entah sudah semerah apa muka Kanya malu. Ia hanya memvisualisasikan apa yang ada dalam novelnya ketika menulis part kencan. Tapi hasilnya sungguh memalukan karena kepedeannya. Mungkin seorang Bian berbeda spesies dengan CEO ciptaannya yang akan berbuat berlebihan untuk pasangannya. Pria itu lebih memilih memanfaatkan waktunya yang senggang untuk bercengkrama dengan buku. Sungguh sangat berbeda dengan yang alergi mendengar kata buku.

__ADS_1


"Tapi kalau kamu mau, nanti aku mampir Kay," seru Bian berdiri menjauh dari Kanya.


.


.


.


.


Tak butuh waktu lama Bian sudah kembali dengan popcorn caramel dan dua gelas ice coffe yang aroma menguar di pencium Kanya.


"Ini untuk kamu." Bian menyerahkan paperbag kecil pada Kanya setalah meletakan makanan dan minumannya.


"Buka," seru Bian lagi.


Kanya tanpa ragu mengambil isi dalam paperbag.


Buku! tentu saja hadiah seorang Abian Askara Putra pasti tak jauh-jauh dari buku.


"Good parenting?" Kanya sedikit kecewa ternyata itu bukan novel.

__ADS_1


Tapi! Kenapa Bian memberi hadiah buku tentang parenting? Apa ia menginginkan anak darinya? Membayangkan hal itu wajah Kanya jadi merona malu.


"Nggak apa-apa kan, aku tambah koleksi bacaan kamu yang berguna untuk mempersiapkan masa depan kita selain novel," ucap Bian.


Kanya mengangguk semakin malu. Entah sudah berapa kupu-kupu yang sedang terbang mengelilingi kepalanya. Apakah ini pertanda Bian memang menginginkan dirinya menjadi ibu dari anak-anaknya. "Makasih Mas," Kanya menyimpan buku itu dalam paperbag.


Suara kedua pemanggilan pintu studio mulai terbuka memecah kecanggungan keduanya. Kanya bergegas mengandeng lengan Bian menyembunyikan wajah meronanya lengan kokoh itu menuju studio.


Suara audio mulai menggema, lampu pun sudah mulai padam. Barisan dua dari belakang menjadi tempat terbaik yang dipilih oleh Kanya. Jika CEO dalam novel Kanya akan memborong seluruh isi studio untuk berdua dengan pasangannya. Kanya sungguh tak membutuhkan kehaluannya itu, baginya sekarang berkencan dengan kekasih halalnya menikmati waktu berdua sungguh lebih dari cukup. Kanya tak pernah merasakan ini sebelumnya, menonton berdua dengan seseorang berlawan jenis.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung.......


__ADS_2