
Pagi semua, assalamualaikum reader tersayang Ei. Menurut aturan baru dari pihak Noveltoon katanya. Usahakan kalian baca dulu sampai selesai baru kasih like dan komen ya, supaya nanti terhitung dalam sistem view. Terimakasih sebelumnya salam cinta dari Ei, selamat membaca 😘😘
Kenangan
Kanya masih mengedar pandangannya ke kiri dan ke kanan. Perempuan itu sedang berdiri di depan tokonya untuk menunggu suaminya. Rupanya Bian belum juga tiba padahal tadi ia mengabari akan sampai dalam 30 menit.
Tak lama mobil putih milik suaminya mendekat ke arahnya. Kanya sudah membuat janji dengan Bian akan pulang bersama. Kenapa ia masih saja malu kalau bertemu Bian, padahal hubungan mereka sudah layaknya suami istri.
"Lama ya. Tadi agak macet," seru Bian mengukir senyum yang meluluhkan hati Kanya.
"Nggak kok," balas Kanya langsung memasang seat belt, sungguh ia merasa malu.
"Bunda udah kasih kabar kamu?"
Kanya binggung, ia langsung meraih ponsel yang ada dalam tasnya. Sejak menerima pesan dari Bian Kanya tak melihat lagi ponselnya.
"Bunda suruh kita nginap di rumahnya?" tanya Kanya.
"Aku pikir kamu udah tahu Kay," balas Bian langsung menjalankan mobilnya.
Pantas saja suaminya bisa pulang cepat dari biasanya.
"Berarti nanti malam ujian biologinya jangan terlalu berisik ya," goda Bian.
"Mas Bian," Kanya mengalihkan pandangannya ke arah jendela bertambah malu. Bian hanya tertawa kecil melihat Kanya.
"Besok kita gantian nginap tempat mama," balas Bian mengacak kepala Kanya.
Kanya pun mengangguk. Itu hal selalu disukai Kanya dari Bian. Suaminya selalu peduli padanya, bisa berbuat adil kepada sesama orang tua. Hal sekecil itu yang dulu selalu luput dari perhatian Kanya karena selalu berpikir tentang kedekatan Gareta dan Bian.
Terlalu banyak kegiatan di akhir pekan lalu, kedua memang belum sempat berkunjung ke rumah kedua orang tua masing-masing. Pantas Bunda Dita selalu protes padahal kita tak berkunjung sehari saja.
Perjalanan ke rumah Bunda Bian lumayan jauh dari butik Kanya. Beruntungnya jalan yang dilalui bukan jalan protokol yang biasa macet. Jalan lumayan lancar sehingga keduanya sudah tiba di rumah masa kecil Bian tak terlalu malam.
"Mas Bian," Seorang ART membuka kan pintu untuk Bian dan Kanya.
"Akhirnya Kalian datang juga," Bunda Dita memeluk Kanya. Kemudian disusul memeluk Bian.
"Bang Bian," Sasy, adik Bian keluar dari kamarnya memeluk Bian.
"Gimana skripsinya?" tanya Bian melepaskan pelukannya.
__ADS_1
"Segera selesaikan Kak," jawab Sasy penuh semangat. Lain dengan Abangnya yang mengambil gelar Stara 1 di UI. Sasy malah memilih kuliah di Yogyakarta.
"Bagus selesai dengan baik," ucap Bian.
"Apa Kabar Sasy?" Kanya bersalaman hendak memeluk Sasy.
"Baik Kay," jawab Sasy segera melepas pelukan Kanya.
Kanya mencoba tetap tersenyum. Ya, Kanya sangat tahu Sasy memang sudah bersikap dingin padanya sejak lamaran hingga acara pernikahan. Sampai detik ini ternyata masih berlanjut.
Kanya sangat paham Sasy tak terlalu menyukainya. Mungkin Sasy sama seperti netizen yang tak rela jika Kakak laki-lakinya menikah dengannya yang mungkin berbanding terbalik dari segala hal.
Itu terlihat dia yang langsung mengandeng Bian ke ruang tamu tanpa memperdulikannya. Bian menoleh ke arah Kanya yang berdiri bersama Bunda Dita.
"Kay, kamu sebaiknya langsung istirahat dulu ke kamar Bian, Bunda siapkan makan malam dulu," seru Bu Dita.
"Kamu tunggu dikamar dulu nanti Mas nyusul. Mas mau lihat skripsi Sasy," seru Bian.
Kanya mengangguk. Ia pun melangkah menaiki tangga menuju kamar Bian.
Kanya memang sering ke rumah Bian. Tapi untuk masuk ke kamar yang dulu pernah di tempati suaminya itu, ini yang pertama kali.
Ya ampun, suaminya memang manusia segudang prestasi. Jika besok Bian menginap dirumahnya maka pemandangan akan sangat berbeda, hal pertama yang akan suaminya lihat adalah tumpukan novel penuh kebucinan.
Kanya mengangkat satu foto Bian yang berada di depan kampus MIT. Bangga Kanya bisa menjadi bagian dari hidup Bian sekarang. Suaminya itu tak pernah menjatuhkannya seperti yang lain. Bian justru selalu memberikan kesempatan agar Kanya selalu berkembang.
Satu foto yang kembali mengusik rasa penasaran Kanya. Ini foto Rehan, Gareta dan Kanya saat berkunjung kembali ke MIT.
Kenapa harus ada foto Gareta? Membuat mood Kanya berantakan saja. Kanya kembali berpikir positif karena masih ada foto Rehan berdiri disitu.
Tangan Kanya kembali menyentuh benda yang begitu unik. Ini nampak sovenir miniatur bangunan dari luar negeri. Kanya membalik benda itu.
For Bi to Gareta
Mendadak dada Kanya bergemuruh, ternyata benar! Ada sesuatu di antara mereka di masa lalu. Tangan Kanya jadi merambat ke arah laci, ia kepo ingin lebih banyak lagi mencari kenangan mereka berdua.
Tangannya mulai membongkar dan menemukan foto - foto Bian masa kecil tapi, ia mulai membuka lagi, menemukan amplop coklat yang juga berisi lembaran foto. Kanya segera membuka dan sesak mulai menyelimuti dadanya. Ini foto Bian dan Gareta saat mereka berada di Amerika, foto mereka berdua lagi saat menghadiri acara penghargaan di Indonesia. Tidak ada Rehan kali ini atau siapapun menjadi penengah.
Bulir halus merembes dari ujung mata Kanya. Mereka berdua seperti bingkai foto pasangan yang sempura. Andai mereka berjodoh, kedua pasangan yang cocok! Mereka sama-sama orang pintar dan hebat.
Apa kabar diriku? bahkan sampai saat ini Kanya masih belum paham kenapa Bian malah memilih menikahinya.
__ADS_1
Kanya duduk di kursi, ia kembalikan merapikan foto-foto yang menyesakkan itu.
Semakin ingin melupakan, pikiran Kanya justru semakin menerawang. Jika mereka pernah bersama. Kenapa Bian masih ingin menikahinya. Apa Bian terpaksa menikahinya karena desakan Bundanya? Tapi Kanya cukup sadar diri saat itu untuk tidak melanjutkan perjodohan jika Bian menolak?
Lantas! Siapa disini orang ketiganya? Apakah aku penghalang cinta mereka?
Pikiran Kanya manjadi kacau.
"Kay," suara dari balik pintu. Buru-buru Kanya menyeka air matanya berpura tersenyum.
"Kenapa?" Bian tak buta melihat Kanya seperti usai menangis.
Kanya sungguh ingin mempertanyakan semua. Tapi saat ini sepertinya ia belum siap mendengar kenyataan yang mungkin bisa melukai hatinya.
"Nggak apa-apa," jawab Kanya bangkit dari kursi berpura membongkar pakaian dalam tasnya.
Praaak!
Duh! sepertinya Kanya tidak terlalu benar meletakan Benda, ia berpura tak melihat apa benda yang jatuh. Kanya yakin Bian sudah memunggut benda itu.
Sampai ia merasakan langkah Bian bergerak mendekat ke arahnya. Kanya ingin menjauh tapi terlambat! Tangan hangat kini mengunci pinggangnya dari belakang. Semakin erat itu yang Kanya rasakan pelukan Bian.
"Sayang, Kamu cemburu?" tanya Bian setengah tertawa kecil.
"Nggak!" bantah Kanya. Ia belum siap jika Bian berbicara sebenarnya.
.
.
.
.
.
.
Bersambung..........
Terimakasih sudah membaca sampai akhir dan memberi like dan komen.
__ADS_1