
Rumah Mama Mertua
Tidak ada yang paling membahagiakan untuk Kanya selain berkunjung ke rumah mamanya. Setelah menikah, Kanya memang baru sekali berkunjung ke rumah Mamanya.
"Kanya," Mamanya langsung memeluk Kanya ketika tahu siapa yang berdiri di depan pintu. Bu Rida memeluk erat Kanya seperti tak bertemu beberapa bulan saja.
"Mama, Kanya kangen," Kanya balas memeluk mamanya.
"Loh, Bian mana? Kamu kok sendiri?" seru Mamanya heran.
"Mas Bian antar Sasy sebentar ke perpustakaan Kota, sebentar lagi Mas Bian kembali kesini lagi kok Ma," seru Kanya
"Oh, ya udah masuk-masuk mama sudah siapakan makanan untuk kamu dan menantu kesayangan Mama," ucap Bu Rida semangat.
Kanya pun membulatkan mata ketika melihat begitu banyak makanan di meja makan. Ada ayam goreng, ikan goreng, sayur Sop, sayur asam dan banyak lagi seperti rumah makan prasmanan.
"Ma, mama masak sebanyak ini untuk Kanya dan Mas Bian." Kanya tentu terharu.
"Ya, sama untuk ibu-ibu arisan kompleks juga," seru Mama Rida tertawa kecil.
"Kirain!" Kanya menghela nafas udah keburu geer. "Hah! Kenapa harus bareng ibu-ibu komplek Ma, ini kan harinya Kanya berkunjung sama Mas Bian ketemu Mama," Kanya tahu bagaimana keponya ibu-ibu komplek perumahannya.
"Memang kenapa? Mama juga mau kenalin menantu Mama secara langsung. Biar mulut mereka nggak pada nyinyir lagi kalau bilang rumah tangga kamu nggak harmonis karena kalian nggak cocok," oceh Bu Rida.
"Mama, ngapain sibuk dengarin mereka. Kanya kalem-kalem aja tiap hari di hujat haters Mas Bian," ucap Kanya lesu.
"Assalamualaikum," suara gerombolan orang yang mulai mendatangi rumah Kanya.
"Wa'alaikumusalam," sahut Kanya dan Bu Rida. Perempuan berumur langsung menyeret anaknya ikut keluar.
"Masuk-masuk," Bu Rida langsung menyambut para komunitas ngerumpinya dengan Cipika-cipiki.
Padahal beberapa menit lalu Kanya nggak salah dengar bagaimana ibunya mengomentari orang-orang ini. Dasar emak-emak. Batin Kanya.
"Eh ada Kanya, istri CEO kok sendiri? Biannya Mana?" seru Bu Ratih yang terkenal sebagai gudang ilmu pengetahuan di komplek ini. Jangan salah sangka, gudang ilmu pengetahuan yang dimaksud bukan ilmu fisika atau matematika seperti Bian suami Kanya, tapi ilmu pengetahuan aib tetangga.
__ADS_1
"Sabar ibu-ibu sebentar lagi menantu saya juga datang, dia masih nganter adeknya," seru Bu Rida tak kalah ketus.
"Assalamualaikum,"
Panjang umur ternyata yang di omongkan datang. Dengan cepat Bu Rida mencubit pinggang Kanya. Wanita itu memberi kode pada putrinya agar bersikap mesra pada Bian seperti brefingnya.
Kanya terpaksa menurut menyambut Bian dengan mengelayut manja agar mama tercinta tak malu. Bian menatap Kanya heran. Tapi beruntung kali ini Bian tak prostes menuruti keinginan Kanya.
"Wah ternyata aslinya Bian memang lebih ganteng," seru ibu-ibu lain.
Sedangkan yang dibicarakan menunduk sopan ke arah tamu mertuanya.
"Kalian juga ternyata romantis banget jadi mau balik pengantin baru," seru ibu-ibu satunya disusul olokan ibu-ibu yang lain.
"Permisi ya ibu-ibu, menantu saya capek mau istirahat. Ajak Nak Bian ke kamar kamu Kay," Bu Rida mendorong Kanya.
"Cepat kasih kabar kehamilan ya Kanya," seru Bu Ratih melancarkan aksi keponya.
"Insyaallah, permisi ibu-ibu," Bian mengikuti arah Kanya menaiki tangga.
Sesampai di depan pintu, Kanya menepuk kepala.
Bian pun masuk sendiri ke dalam kamar Kanya yang dulu masih berstatus single. Pemandangan yang sudah Bian duga. Puluhan bahkan mungkin ratusan novel dalam rak menyambut Bian. Pria itu berkeliling menyusuri kamar sambil menunggu istrinya datang.
.
.
.
.
"Maaf Mas lama, tadi Kanya di hadang ibu-ibu," seru Kanya masuk ke dalam kamar.
Tapi, kenapa dengan suaminya kali ini. Pria tampan itu menyadarkan tubuhnya di papan tempat tidur dengan arah mata berpaling dari Kanya. Wajahnya berubah sanggar seperti guru BP yang memergoki muridnya mojok di gerbang belakang sekolah.
__ADS_1
"Mas," seru Kanya panik karena Bian tak mengeming dan memilih asyik melihat ke arah jendela.
Bian melihat Kanya dengan tatapan mengintimidasi.
"Kamu keberatan dan ngambek 'kan ketika melihat benda pemberian dan foto Gareta di kamar aku," ucap Bian dengan ketus.
"Ya," jawab lugas Kanya semakin panik melihat pandangan suaminya yang sulit di artikan.
"Ini apa?" Bian mengangkat boneka beruang putih. "Dari Varel untuk Kanya."
Bian berdiri lagi megambil pajangan rak, "Dari Dimas untuk Kanya."
Tangannya meriah lagi cepat buckket uang dollar, "Hans untuk Kanya," Bian kembali ke ranjang menunjuk bantal hati bermotif BT21. "Dari Andre untuk Kanya,"
"Mas Bian suamiku, sayangku. Bukan begitu," cegah Kanya meraih tangan suaminya sebelum mengabsen lagi barang - barang pemberian penggemarnya.
"Mas juga mau marah, memang kamu saja yang bisa marah," Bian menuju pintu, keluar dari kamar.
Sepertinya Kanya salah harus menyuruh Bian kamar masuk lebih dulu.
"Mas tunggu," Kanya hendak turun menyusul Bian. Tapi ia berhenti di tempat mengingat masih ada ibu-ibu di bawah sana. Itu sama saja ia memberi santapan empuk untuk netizen bahan gosip .
Ia pun berlari lagi menuju kamar, lebih baik ia segera membereskan barang-barang yang lupa Kanya singkirkan sebelum menikah.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung .....
Maaf telat update, terimakasih masih menunggu kisah Bian dan Kanyaπππ big love dari Ei...