(Im)perfect Couple

(Im)perfect Couple
Bab 26


__ADS_3

Sebuah Jawaban


"Mas yakin nggak mau pindah ke kamar tamu," seru Kanya kini menaruh kepala di pundak suaminya yang bersantai di sofa.


Kanya hanya takut, Bian merasa sudah tidak nyaman lagi berada di kamarnya.


"Jadi Mas mau di usir dari kamar masa single kamu," ucap Bian mensejajarkan wajah dengan Kanya.


"Nggak gitu juga Mas, ih ...." Kanya memukul lengan suaminya.


"Lagian ujian biologi sukses juga tadi disini, tinggal nanti malam nambah untuk materi fisika" goda Bian.


"Mas," seru Kanya malu bangkit dari sofa. Kini ia melanjutkan aktifitas tertundanya mengeringkan rambutnya.


Terdengar nada suara yang berasal dari ponsel Bian. Bian menerima telpon dan berjalan ke dekat jendela.


Kanya memperhatikan suaminya dari pantulan kaca rias di kamarnya. Ia melihat suaminya yang begitu panik sambil terus berbicara di ponsel.


Kanya mencoba mendekat untuk berusaha mencari tahu dan mencoba menenangkan suaminya.


Bian menutup teleponnya dan menyadari Kanya berada di belakangnya. Ia tersenyum manis tapi masih nampak gurat cemas di raut wajahnya.


"Ada masalah Mas?" Kanya mencoba memberanikan diri bertanya.


Bian mengangguk, "Sasy," ucapnya lagi.


"Kenapa Sasy?" seru Kanya.


Bian berbalik menghadap ke arah Kanya. Ia meriah tangan mungil istrinya itu. "Kay, sebelumnya Mas minta maaf, tapi malam ini. Apa bisa kita kembali ke rumah Bunda?" tanya Bian dengan wajah yang berusaha pria itu tampak teduh.


"Iya Mas, kalau memang mendesak," jawab Kanya pasrah. Sebenarnya ia masih sangat ini berada di rumah Mamanya. Tapi Kanya tak bisa menampik jika suaminya terlihat begitu panik. Mungkin memang ada sesuatu yang harus suaminya selesai di rumah ibu mertuanya.


Bukan bermaksud cemburu dengan kedekatan Kakak beradik Bian dan Sasy. Tapi semenjak Sasy datang ke Jakarta, ia lebih ingin mendominasi suaminya meskipun tahu kakaknya sekarang sudah beristri. Kadang Kanya berpikir cuma Sasy orang yang tak bisa menerimanya di keluarga suaminya.


.


.


.


.


Kanya sudah tiba kembali di rumah mertuanya setelah sholat magrib berpamitan pulang dengan Mamanya. Sebenarnya Kanya merasa tak enak hati dengan Mamanya yang memaksa tinggal. Mamanya jadi merasa sedikit iri karena ia menginap di rumah mertuanya lagi. Tapi tak mungkin Kanya tak menuruti Bian jika suaminya itu menyuruh untuk ikut. Untungnya Mamanya begitu pengertian dan menghargai keputusan Bian.

__ADS_1


"Kamu tidur dulu di kamar, Mas mau jemput Sassy," ucap Bian menyentuh pipi Kanya.


"Ya jangan lama-lama," balas Kanya melepaskan seat belt.


"Nggak," seru Bian lagi lembut.


Kanya pun turun dari mobil. Ia menunggu di depan pintu sampai mobil suaminya menghilang dari pandangannya.


Kanya berjalan pelan menuju kamar Bian. Meskipun Kanya tak tahu kenapa suaminya itu mendadak ingin kembali ke rumah Bunda. Ia tak sempat bertanya karena Bian terlihat masih panik.


Kanya melihat jam dinding kamar menunjukkan pukul 9. Tadi Bian menyuruh untuk tidur terlebih dulu.


Entah ia bisa tidur atau nggak, karena suaminya tak di sampingnya. Kanya juga masih punya hutang ujian fisika untuk malam ini dengan gaya baru.


Apa sih! Kanya menggelengkan kepalanya karena berpikir mesum.


Tapi ia sungguh merasa lelah karena tak berisitirahat sejak tadi. Kanya pun merebahkan dirinya di kasur melepaskan kepenatan hari ini.


Kanya terbangun ketika mendekat getaran di ponselnya. Ia pun melihat layar ponsel dan menunjukkan waktu sudah pukul 11 malam. Ya ampun. Ia tenyata cukup lama tertidur. Ia meraba sisi samping ranjangnya. Tapi kemana Bian? Suaminya belum kembali?


Kanya merasa tenggorokan gatal dan kering. Ia sepertinya membutuhkan air.


Kanya turun ke dapur untuk membasahi tenggorokannya.


Suara keras yang memulihkan kesadaran Kanya namanya di sebut. Tunggu! Bian menolak Gareta? Demi dirinya? Meskipun Kanya merasa sedikit senang dengan kenyataan yang baru di dengarnya.


Kanya sangat yakin itu suara Sasy. Tak lama Sasy menutup wajahnya seperti sedang menangis keluar dari ruangan. Ia yakin Sasy tak melihat Kanya karena terus berlari menuju kamarnya.


"Sebaiknya pikirkan lagi rencana Bunda sama Ayah menjodohkan Sasy, kalian lihat sendiri kan. Keadaan Sasy sekarang jadi sangat tertekan Bun."


Kanya tak bermaksud menguping tapi itu terdengar di telinga Kanya dari ruangan yang pintunya sedikit terbuka. Suara itu sangat familiar ditelinganya.


"Tapi Bunda yakin Aldo itu pria baik yang cocok dengan Sasy. Kita semua sudah tahu latar belakang keluarganya. Lagipula kita juga membicarakan ini dari jauh-jauh hari. Jaman sekarang cari jodoh yang baik dan tulus itu susah Bi, Bunda hanya mencoba memilihkan yang terbaik untuk Sasy," ucap Bunda begitu teguh.


"Itu menurut Bunda, tapi tidak untuk Sasy Bun. Jangan buat dia tertekan Bun, apalagi sekarang ia sedang menyusun skripsi," seru Bian.


"Pernikahan mereka akan di langsungkan setelah Sasy selesai skripsi Bi, itu bukan sebuah alasan," ucap Bunda lagi masih kekeh.


Kanya mencoba mengatur nafasnya. Ternyata masalah perjodohan Sasy. Apa ini ada hubungannya dengan yang di ucapkan Sasy? Kenapa Bian begitu menolak keras perjodohan adiknya seolah ia ikut terluka. Bukankah Bian juga di jodohkan.


"Tolong Bun. Jangan Paksa Sasy, apa Bunda Mau Sasy menikah dengan seseorang karena terpaksa!"


Terpaksa?

__ADS_1


Deg. Hati Kanya kembali menciut, Bian memang sedang membela adiknya. Tapi kenapa Kanya berpikir Bian seolah berteriak ingin mengungkapkan semua yang dirasakan di hadapan ibunya.


"Terpaksa bagaimana Bi? Apa kamu juga merasa terpaksa menikah dengan Kanya?"


Kanya meremas kuat ujung kemejanya dari balik pintu. Pertanyaan Bunda Dita yang mewakili suara hati Kanya selama ini.


"Kenapa Bunda malah bertanya tentang aku?"


"Jawab saja pertanyaan Bunda Bi. Bunda hanya ingin tahu," seru Bunda Dita tegas.


Kanya menunggu dengan cemas. Jika di awal Bian begitu bersemangat membela kebebasan Sasy. Kali ini Bian hanya diam dengan satu pertanyaan sederhana. Cairan bening pun mulai menganak sungai di pelupuk mata Kanya.


Baik! cukup bagi Kanya menunggu beberapa detik. Ia mengartikan kediaman Bian adalah jawaban. Buliran halus tak bisa lagi Kanya bendung. Ia tak sanggup lagi berdiri. Ia pergi meninggalkan ruangan itu setengah berlari menuju kamarnya.


Hati Kanya pun terasah teiris. Apa yang susah bilang kamu mencintaiku Mas.


Kanya meremas dadanya. Tentu saja susah! Karena kamu tidak pernah mencintaiku, kamu menikahiku karena terpaksa! Itu jawabannya Kanya!


Ia menenggelamkan kembali wajahnya didalam bantal. Apa mungkin selama ini Bian hanya bertanggung jawab melakukan tugasnya sebagai suami. Pikirkan Kanya benar-benar sangat kacau dan tak bisa berpikir jernih.


Suara langkah kaki terdengar masuk ke dalam kamar. Kanya berusaha memejamkan mata dan menahan isakan tangis. Meskipun matanya terpejam tapi ia merasa Bian mendekat ke arahnya.


Bian menaikan selimut Kanya yang terturun sambil mengelus lembut kepala Kanya. Tak selang beberapa lama Kanya juga merasakan ciuman di kening yang begitu lembut Lebih lama dari biasanya.


Sungguh Kanya tak bisa mengartikan sikap Bian. Kepalanya kembali dipenuhi pertanyaan.


Bukankah Bian terpaksa melakukan pernikahan ini? kenapa ia melakukan semua ini? Bian justru bersikap seolah hanya lah Kanya yang ada di hatinya.


Sungguh suami yang sangat membingungkan!


.


.


.


.


.


Bersambung........


Sori baru up cinta 😘Terima kasih masih menunggu kisah Bian dan Kanya 😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2