(Im)perfect Couple

(Im)perfect Couple
Bab 28


__ADS_3

Tetangga baru


Kanya mengerjapkan mata ketika merasakan sesuatu yang berat pada perutnya. Ia menyoba dengan pelan menyingkirkan tangan suaminya ke belakang punggungnya. Meskipun Kanya terlihat sedang tak seperti biasa. Bian masih saja tidur memeluk tak di ikut memunggunginya.


Kanya melihat sekilas wajah suaminya yang sedang terlelap. Memang, tadi saat di lokasi pemotretan Bian kelihatan sekali tak suka dengan Galang. Ia begitu ketara memperlihatkan rasa cemburunya. Kenapa sih suaminya tidak terang-terangan bilang kalau cinta padanya.


Sepenting itukah pengungkapan cinta untuk Kanya. Ya! sepenting itu, Kanya hanya ingin memperkuat ikatan suci itu dengan yang di namakan Cinta.


Tapi tidak! Jangan pernah ambil kesimpulan semudah itu Kanya.


Apa kamu lupa Bian kediaman Bian malam itu. Terkadang Kanya juga tak mengerti. Jika ada yang berbeda dari dirinya, kenapa Bian tak berinisiatif bertanya apa yang terjadi. Apa tak sepeka itu suaminya dengan sikap diam yang ditunjukkan Kanya.


Apa ia saja yang bertanya terlebih dulu daripada harus berdiam-diam terus tanpa kejelasan. Kanya mengacak kepala resah. Ia butuh air untuk melegakan tenggorokannya.


Kanya menyalahkan lampu untuk menerangi pandangannya. Ia meneguk air dan berhasil membuat pikiran tenang. Tapi tunggu, kenapa Kanya malah mendengar suara ribut-ribut disebelah malam-malam seperti ini.


Karena penasaran, wanita cantik itu menarik gorden dapur agar bisa melihat ada keributan apa di depan rumahnya.


Kanya melihat beberapa orang menurun barang dari mobil bak terbuka.


Apa ia akan punya tetangga baru? Sepertinya seperti itu. Baguslah rumah di depannya akan terisi jadi akan tampak lebih ramai. Kanya hendak menutup kembali gorden.


Tapi, ada seseorang yang Kanya kenal keluar dari rumah. Ia kembali membuka gorden memastikan pengelihatan tidak salah.


Matanya langsung membulat! Apa benar itu Galang! Apa tetangga barunya?


Pasti ini ada hubungannya dengan misi Galang membuat Bian cemburu saat di katakan di cafe.


Kanya berlari menuju kamar untuk mengambil ponsel. Setelah mengenakan kerudung instan, dengan pelan ia keluar menuju balkon kamarnya. Matanya melihat dari kejauhan Galang yang masih berdiri diseberang rumahnya.


"Lang! Ngapain loh ada diseberang rumah gue!" ucap Kanya ketika telponnya tersambung dengan pria di seberang rumahnya.


Tanpa menjawab Galang malah melambaikan tangan berdadah ria ke arah Kanya yang berdiri di balkon Kamar.


"Ih," ucap Kanya kesal melayangkan tinju.


"Galak amat tetangga baru," teriak Galang di telpon disusul suara kekehan.


"What! Ngapain loh pindah depan rumah gue!"

__ADS_1


"Terserah gue dong Kay, lagian sewa rumah ini murah! Lumayan bisa buat buka studio," jawabnya.


Bian pernah bercerita rumah yang diseberang memang sudah lama kosong dan sedang disewakan. Kabar dari tetangga juga membenarkan rumah itu susah mendapat penyewa karena terkenal sedikit ada cerita mistis. Pantas saja hanya orang seperti Galang yang berani tinggal di tempat itu dan dengan percaya diri membuka studio. Pria itu sudah sering keluar masuk hutan rimba memotret satwa langka untuk national Geografic channel.


Tapi ....


"Jangan bilang ini bagian dari misi lo nganggu Mas Bian!"


"Hahaha! Kita lihat saja ntar tetangga baru," pria itu mematikan telpon dengan tawa.


Dari kejauhan Kanya melihat Galang melambaikan tangan disertai kiss by lalu masuk ke dalam rumah. Kanya membalas dengan kepalan tangan.


"Kamu disini?"


Suara yang langsung mengejutkan Kanya. Ia menoleh dan melihat Bian yang sudah ada di depannya.


"Kamu lagi bicara sama seseorang?" selidik Bian.


"Nggak kok Mas, aku cuma kepanasan makanya keluar sebentar cari angin," balas Kanya spontan. Bian dengan Galang tampak tidak bersahabat. Ia hanya tak mau memunculkan masalah baru jika cerita yang sebenarnya.


"Oh, aku tadi dengar samar seperti kamu bicara dengan seseorang," ucap Bian mendekati Kanya menyentuh pagar pembatas balkon.


"Gimana aku bisa lelap kalau kamu nggak ada disisi aku," jawab Bian menatap langit yang bertabur bintang malam ini.


Kanya tersenyum, harusnya ia merasa melting karena ucapan Bian. Tapi lagi-lagi bayangan malam itu tak berhenti berselebat di kepalanya.


"Sekarang kita masuk Mas, ini udah larut hawa mulai nggak bagus," Kanya hendak berbalik. Tapi tangan besar langsung mencekal penggerakannya.


Pria itu menarik tubuh Kanya. Membawa kembali ke pagar balkon. Tangannya kini melingkar di pinggang Kanya memeluk dari belakang.


"Lebih baik kan," ucapnya ditelinga Kanya.


Kanya mengangguk. Jantung Kanya mendadak berdebar kencang kembali setelah mati rasa beberapa hari karena hubungannya yang merengang. Ia bisa merasakan kembali kehangatan tubuh Bian setelah kemarin berusaha menghindar satu sama lain.


"Sebentar lagi Kay, aku jadi ingin nikmati langit malam," ucap Bian mengeratkan lilitan tangannya.


"Ya Mas, seru juga lihat kumpulan bintang itu," Kanya melebarkan senyum menunjuk ke arah langit tanpa berani menatap suaminya.


"Itu merupakan gugusan bintang, kelompok bintang yang secara gravitasi dan awal pembentukannya terikat satu sama lain," balas Bian.

__ADS_1


"Oh," hanya itu yang bisa Kanya jawab. "Tapi langit malam ini jadi indah banyak bintang," seru Kanya menunjuk satu persatu titik germelap di langit hitam.


"Akan lebih indah jika kita bisa menikmati dengan seseorang," ucap Bian.


Kanya lagi-lagi putus asa.


Kenapa tidak bilang saja to the points. Lebih indah jika dinikmati dengan seseorang yang dicintai. Yaitu Aku!


Mungkin dengan kalimat yang diperjelas seperti itu akan membuat hati Kanya yakin tak bertanya lagi perasaan satu sama lain.


Beberapa detik berlalu tak terdengar lagi kalimat yang ditunggu Kanya.


Kanya melihat Bian yang dengan serius melihat ke arah langit tanpa memikirkan dirinya yang dipenuhi banyak tanda tanya didalam kepalanya.


Kenapa pikiran Bian begitu sulit untuk di tebak. Apa ia sengaja membuat teka-teki agar Kanya bisa berpikir keras mengartikan semuanya! Tentu saja kapasitas otak Kanya tak mampu untuk berpikir sedalam dan sedetail itu. Ia hanya istri yang butuh pengakuan cinta dari suaminya agar tak ada lagi rasa cemas yang membayanginya.


Ya Tuhan, andai bisa. Kanya ingin memecahkan teka-teki yang dibuat Bian dengan bantuan Mbah Google. Tapi Kanya juga yakin mbak google akan ikut vertigo memikirkan masalahnya.


.


.


.


.


.


.


Bersambung........


Sekali Maaf jadwal update yang masih belum bisa rutin.


Terimakasih udah ngikutin kisah Kanya dan Bian yang membuat kalian butuh aspirin.


Ei usahakan Up lagi hari ini.


Big love, Einaz

__ADS_1


__ADS_2