
Tetangga Meresahkan
Pagi ini seperti biasa Kanya memasak sarapan untuk Bian sebelum pergi ke kantor. Tapi yang berbeda pagi ini, Bian ikut membantunya di dapur menggoreng kroket kentang.
Kanya meletakkan udang saus, tumis kangkung dan kroket kentang di meja makan.
Ketika hendak mengambil piring, terdengar ketukan dari pintu utama. Kanya dan Bian saling pandang. Siapa yang berkunjung kerumahnya sepagi ini. Selama tinggal di rumah ini, Kanya memang belum pernah menerima tamu.
"Mungkin Bi Sri," seru Kanya mengira-ngira. Padahal Asisten rumah tangganya selalu datang jam 10 pulang dan akan pulang jam 5 sore.
"Assalamualaikum, Atuk oh Atuk,"
Mendengar suara itu, Kanya sudah bisa menebak siapa yang datang. Kanya langsung menyambar kerudung instan yang disampirkan di kursi.
"Biar aku saja yang buka," Bian berjalan menuju ruang tamu.
"Hai," sapa pria berambut gondrong itu sambil senyum-senyum.
Kanya setengah berlari menyusul Bian. Ternyata dugaan benar. Galang sekarang datang kerumah pagi-pagi dengan ekspresi memelas memegang perutnya.
"Halo Kay" sapa Galang menaikkan alisnya.
"Ada perlu apa pagi-pagi datang kesini?" tanya Bian dengan nada sedikit ketus.
Kanya bisa melihat dari raut wajah suaminya tidak terlalu senang dengan kedatangan Galang.
"Memang Kanya nggak bilang kalau gue tetangga baru kalian," Galang menunjuk rumah tepat didepannya. Kanya melotot melayangkan tatapan maut pada Galang.
Bian langsung menatap tajam ke arah Kanya. Kanya hanya bisa tersenyum paksa karena sengaja tak memberitahu Bian. Lagipula itu tidak terlalu penting. Tapi sekarang, sohibnya yang paling menyebalkan itu sepertinya sukses membuat Bian kesal.
"Ngomong-ngomong kalian mau sarapan, boleh dong gue gabung. Dirumah nggak ada siapa-siapa dan nggak ada apa-apa. Gue baru pindah semalam," ucap Pria itu.
Entah apa yang akan dilakukan orang yang didepannya ini. Masalahnya raut wajah Bian sudah menunjukkan bahwa ia sangat keberatan dengan kedatangan Galang.
"Terus! Maaf Lang kita nggak terima tamu pagi-pagi," sewot Kanya.
"Galak banget sih Kay, lihat suami Lo aja santai. Gue yakin Bian nggak akan biarkan tetangga baru yang bertamu pagi-pagi kelaparan," protes Galang.
Bian meraup muka, kemudian ia menyikir membuka pintu lebar-lebar mempersilahkan tamu tak diundang itu masuk.
Awas saja kalau sampai ngomong macem-macem sama Mas Bian. Hubungan Kanya mulai membaik sejak semalam usai melihat bintang.
__ADS_1
Dengan tanpa sungkan Galang langsung melenggang masuk menuju meja makan. Pria itu juga langsung duduk di kursi kosong. Kanya mengambil tempat duduk disebelah Bian karena tempat yang biasa ia duduki ditempati Galang.
"Wih, memang pagi-pagi udah ada yang buka order untuk seafood," seru Galang menampakkan ekspresi terkesima dengan masakan di atas meja.
"Ini semua kita berdua yang masak," jawab Bian membuka piring.
"Wih keren, gue tebak pasti si Kanya cuma lihatin aja," seru Galang.
"Nggak justru semua ini buatan Kanya," bela Bian menunjuk tumis kangkung, udang saus dan bakwan jagung.
"Serius. Sejak kapan Kanya bisa masak, dapur kalian aman kan," ucap Galang lagi masih dengan tawa nyegir.
"Gue kan belajar dengan sungguh-sungguh," ucap Kanya.
"Kalau gitu, boleh dong Kay kapan-kapan masakin gue juga," balas Galang menaikan alisnya.
"Maaf, Kanya hanya memasak untuk suaminya. Iya kan Sayang," tegas Bian. Pria itu meraih tangan Kanya dan menyimpan di dadanya.
Kanya hanya mengangguk, terakhir kali Bian memanggil Sayang saat dirinya usai menjalani ujian biologi pertama kali. Tak pernah juga Kanya melihat Bian posesif seperti ini. Disisi lain, entah Kanya merasa senang sepertinya Galang akan sukses membuat Bian cemburu.
"Sekarang apa boleh kita mulai makan aja," sela Galang memecah keheningan sesaat Bian dan Kanya.
"Gue nggak di ambilin," seru Galang mengangkat piringnya.
"Punya tangan kan, ambil sendiri," sewot Kanya.
"Tega, begini cara kalian menyambut tetangga baru. Biasanya juga kita makan sepiring berdua Kay."
Bian langsung melotot ke arah Galang. Sedangkan Kanya semakin membulatkan matanya. Buat cemburu orang boleh! Tapi kalau ngarang Kanya tidak terima.
"Kapan gue khilaf melakukan hal itu?" cercah Kanya.
"Kapan? Sering malah, waktu kita jaman kuliah, waktu kita kemah di bogor. Masa iya gue sebut satu persatu. Bisa mati kelaparan kita disini Kay," ucap Galang santai.
Bian menatap tajam ke arah Kanya seolah meminta penjelasan.
Kanya menepuk kepalanya, mimpi apa tadi malam paginya sangat kacau begini.
Kanya baru ingat! itu buka sepiring berdua, Itu makan rame-rame mengunakan daun pisang.
"Itu namanya kita makan rame-rame, bukan sepiring berdua!" protes Kanya.
__ADS_1
"Sama saja, kita makan di wadah yang sama kan," balas Galang.
Daripada terus berdebat dengan Galang yang menganggu ketenangan, Kanya megambil centong nasi. Saat hendak meraup nasi, Bian mengambil centong nasi yang dipegang Kanya. Ia meletakkan di piring Galang.
"Mimpi apa gue, seorang Abian Askara menghidangkan makanan untuk fotografer kelas teri," seru Galang dengan ekspresi kaget yang di buat-buat.
Bian tetap dengan tenang tanpa kata menambahkan lauk pauk ke piring Galang. Ia lalu menyodorkan piring pada Galang masih dengan tanpa suara.
"Harusnya tadi gue rekam momen langka ini. Posting di Instastory. Followers gue pasti langsung naik," ucap Galang lagi-lagi menunjukkan ekspresi kegirangan yang di buat-buat.
"Silahkan makan," ucap Bian singkat dan langsung menyuap nasi ke mulutnya.
Kanya tahu sekarang, Bian pasti sangat kesal dengan Galang dibalik sikap tenangnya. Memang sedikit menyebalkan kedatangan Galang, tapi kenapa Kanya jadi senang melihat Bian yang cemburu dan memperlihatkan sikap posesifnya. Kanya lebih merasa berarti dalam hidup Bian. Pikiran buruk Kanya seolah memudar. Bayangan rasa cinta yang besar kini mulai bersemi di kepalanya.
"Sumpah masakan Kanya enak. Sebagai tetangga baru yang baik, gue juga mau undang kalian ke rumah besok," seru Galang usai menandaskan sarapannya.
"Maaf sepertinya saya dan istri tidak bisa. Saya di kantor sampai malam," balas Bian lugas.
"Its oke nggak apa-apa. Tapi Lo nggak keberatan kan gue sering main kesini. Kita kan sudah jadi besti," ucap Galang merangkul pundak Bian.
Bian hanya tersenyum seadanya tanpa menganggapi ucapan Galang. Sedangkan Kanya berusaha menahan diri untuk tidak tertawa melihat ekspresi muka Bian dengan sikap sok akrab Galang.
Lihat saja nanti sejauh mana Galang bisa membuat Bian cemburu.
.
.
.
.
.
.
.
Bersambung .....
Sorry baru bisa sambung....
__ADS_1