
Definisi Pasangan
Perbedaan Kanya dan Bian memang tak bisa di pungkiri. Contohnya seperti sekarang! Jika Kanya sibuk dengan ponsel untuk melihat postingan endrose. Ia scroll dari bawah ke atas melihat kolom komentar netizen. Tak jarang para olshoper penjual obat pelangsing juga ikut nyempil di kolom komentar.
Segera order Kakak, di jamin tubuh ramping ping ping seperti jenny blackpink!!!
Postingan skincare artis yang lagi viral karena harganya yang ramah di kantong pelajar juga tak mau kalah
Murceeeee banget Kaka, seminggu pake langsung putih mulus seputih Lisa blackpink......
Ya ampun! Dikira mutihin pakai bayclin apa. Ya! Segitu recehnya Kanya. Sungguh berbeda dengan Bian yang sedang menyaksikan di layar televisi discovery channel. Sesekali ia juga melihat ponsel yang isinya juga tayangan national geografy atau Jakarta post.
Acara yang di tonton sudah selesai, Bian mulai membuka MacBooknya. Sudah hampir 3 minggu ini ruang kerja Bian berpindah ke kamar.
Bukan tanpa sebab. Kanya selalu menyusul Bian ke tempat kerja ketika merasa tak ada seorang di sampingnya. Semejak hamil Kanya tak pernah bisa tidur jika tidak ada Bian meskipun beberapa jam saja. Untuk menjaga agar waktu istirahat istrinya berkualitas, Bian memutuskan melakukan pekerjaannya di kamar. Ia tak ingin kesehatan Kanya terganggu selama hamil hanya karena sering menunggu Bian di ruang kerja.
Seperti saat ini keduanya berada di atas ranjang. Bukan berarti Bian sibuk dengan MacBooknya ia tak menghiraukan Kanya. Bian merelakan pundaknya untuk tempat sandaran istrinya. Ya, memang selama hamil Kanya jadi manja. Kadang Kanya juga melontarkan pertanyaan-pertanyaan konyol yang malah di tanggapi Suaminya itu. Meskipun kadang suaminya terlihat kesal jika Kanya bertanya berlebihan tapi Bian dengan sabar menjawab dengan lugas dan padat.
"Mas," ucap Kanya menyela diantara kesibukan Bian.
"Hmmmm," Seperti biasanya hanya deheman balsan Bian.
Kini Kanya menegakkan tubuh melihat ke arah suaminya.
"Setelah melahirkan tubuhku pasti bengkak banget kayak galon, sekarang saja kayak gini." Kanya memegangi perutnya. Tubuhnya memang mengalami penambahan berat badan yang drastis di kehamilan yang ke lima bulan ini.
"Trus," ucap Bian masih sibuk dengan layar si depannya.
"Apa cinta Mas tetap sama meskipun nanti aku tak seramping dulu dan malah jadi semakin bengkak." Pertanyaan yang di anggap Kanya konyol.
"Apa sih Sayang," Bian mulai sedikit terusik dengan pertanyaan Kanya. Pandangannya kini mulai tertuju pada istrinya.
"Mas jawab! Aku cuma mau tahu," rengek Kanya.
Tersenyum tipis, "Memang kamu mau jadi seperti yang kamu bilang."
"Loh, kok malah Mas nanya aku sih," seru Kanya cemberut. Selalu begitu memutar balikkan pertanyaan ketika di beri pernyataan.
__ADS_1
Bian kini meletakkan MacBook. Kini pria ini menghadap ke arah istrinya. "Kamu jawab dulu," balas Bian lagi.
Tentu saja Kanya tak ingin itu terjadi. Meskipun dia bukan tipe wanita yang harus menjaga bentuk tubuhnya harus ideal. Ia juga tak mau ketika selesai melahirkan ia menjadi seorang yang malas merawat diri.
"Mas nggak masalah kalau nanti aku berubah jadi Segede ini," Kanya memperagakan gaya hulux.
Bian kini tertawa renyah. "Kalau kamu yakin, Mas nggak masalah?" balas Bian.
Kanya mulai ragu kan, "Semuanya pasti ingin kembali ke bentuk tubuh semula jika selesai melahirkan Mas. Tapi pada kenyataannya, kita harus lebih sigap merawat dan mengASIhi bayi. Mungkin waktu untuk diri sendiri sangat terbatas."
Bian mengacak-acak kepala Kanya. "Mas tahu sekarang maksud dari pertanyaan kamu Kay. Sepertinya sertifikat Permanen itu harus di ukir lagi di sini." Bian menunjuk dahi Kanya.
Ya, Kanya paham itu sertifikat pernyataan cintanya. "Mas ih," Kanya malu.
"Biar kamu selalu ingat," Bian kini mengecup kening Kanya. "Nggak lagi membuat pertanyaan aneh." Kembali ia mencium kening istrinya.
Senyuman terukir di ujung bibir Kanya. Cherry blossom lagi-lagi bermekaran di hatinya.
"Pernikahan itu nggak melulu soal Cinta Kay, tapi juga komitmen yang kuat dalam hubungan. Janji suci yang bukan hanya di hadapan manusia tapi juga langsung di hadapan Tuhan."
Bian memegangi pipi Kanya. "Jadi sekarang, berhenti berpikir aneh. Kita harus saling percaya dan menguatkan. Insyaallah rumah tangga kita akan berjalan dengan baik dan berkah."
"Jangan juga pernah berpikir pernikahan itu bisa di permainkan seperti alur cerita dalam novelmu." Bian mencubit hidung istrinya.
Kanya jadi tertawa geli. Suaminya sempat beberapa waktu lalu ingin membaca novel cetaknya yang Kanya selipkan di rak ruang kerja.
"Kadang ada juga suami yang tak cinta lagi dengan istrinya ketika fisiknya berubah."
"Berarti itu suami kurang bersyukur," seru Bian. "Harusnya kalau sudah siap menikah, itu artinya harus terima pasang kita. Baik itu kekurangan ataupun kelebihan."
"Maksud Mas, kita harus terima pasangan kita apa adanya dan dengan keadaan apapun!" balas Kanya.
"Ya, nggak begitu juga konsepnya."
"Lah!" Kanya mulai kesal dengan suaminya ini yang tidak konsisten dengan jawabannya.
"Sayang, Definisi bersyukur nggak harus pasrah dengan keadaan. Kalau suami yang benar-benar mencintai istrinya. Dia pasti berusaha dong merubah pasangan jadi lebih baik, kenapa kita harus terima apa adanya. Kalau suami bisa membuat istrinya menjadi lebih berkembang kenapa kita harus terima dengan keadaan apapun."
__ADS_1
Kanya mengangguk kepala sekarang, merasa jawaban suaminya memang masuk akal. Dibandingkan suami yang suka melempar pujian hanya untuk menyenangkan hati istrinya.
"Tapi mungkin dalam keadaan tertentu suami harus terima keadaan istrinya. Seperti ia sedang hamil atau selesai melahirkan, pasti banyak sedikit ada perubahan secara fisik ataupun sikapnya."
"Betul,"
"Nggak semua wanita seperti Angelin Jolie yang langsung ramping setelah melahirkan. Kanya yakin biaya persalinannya aja pasti jutaan dollar!"
Bian tertawa lepas kali ini. Ia kembali mengacak rambut istrinya. "Sudah, lebih baik kamu tidur sekarang atau mau langsung di kasih stampel penghargaan di tempat khusus."
"Hah!" Kanya masih mencerna ucapan suaminya. Sedetik kemudian, ia langsung meringkuk menyembunyikan wajahnya di bawa selimut.
Begini banget punya suami CEO bimbel online. Mulai dari rapot, ujian, piagam, sertifikat sukses membuat jantung ngelonjotan.
"Kalau kamu nggak jawab dan sembunyi, itu artinya kamu siap dengan ujian yang di tambah durasi waktu," ucap Bian di selimut Kanya.
"Mas Bian!" balas Kanya masih dibalik selimut.
Dap! Lampu padam. Kamar menjadi gelap.
"Oke, Mas sudah matikan lampu jadi kamu nggak perlu sembunyi. Karena waktu ujian akan segera dimulai."
.
.
.
.
.
.
.
Bersambung..........
__ADS_1
Selebihnya yang terjadi di kamar Kanya dan Bian hanya boleh di bayangkan para senior ya 😁😁😁
Terimakasih reader, jangan lupa Rate, like, komentar, Fav cerita Ei ini ya.