(Im)perfect Couple

(Im)perfect Couple
Bab 25 (b)


__ADS_3

Kanya menumpuk dalam kardus dengan rapi barang-barang pemberian pengemar dan orang-orang yang mengaguminya. Sebagian memang berasal dari pengemar novelnya. Sebagian lagi juga berasal dari orang-orang yang ia tolak cintanya.


Tak dipungkiri, sebelum menikah ada beberapa laki-laki yang pernah menyatakan cinta padanya. Tapi Kanya tak pernah menghiraukan karena merasa sudah terikat tali perjodohan di lehernya dengan Bian. Ia bahkan tak berminat menjalin hubungan dengan siapapun sebelum Bian memutuskan sendiri perjodohan itu. Kanya memang tak berharap banyak dengan perjodohan ini, tapi ia berusaha berbakti kepada kedua orangtua yang menanggung beban hidupnya.


Meskipun sebaik apapun Kanya memantaskan diri hasilnya tetap tak bisa sebanding dengan Bian. Tapi jalan terbaik di buat oleh Tuhan. Siapa yang menyangka Bian menerima perjodohan itu dengan tangan terbuka.


Sekarang pria itu juga marah padanya karena benda-benda ini. Kanya hanya menghargai pemberian seseorang. Tapi justru malah berdampak buruk. Siapa yang akan menduga hal kecil ini bisa memunculkan rasa cemburu suaminya?


Cemburu?


Apa Bian kini sudah mulai mencintai? Pertanyaan besar yang masih berkutat di kepala Kanya.


Sudahlah! sekarang yang lebih penting menyerahkan benda-benda ini pada Bibi Narti, ART di rumahnya. Sepengetahuan Kanya, wanita berumur itu punya anak remaja perempuan. Setidaknya benda-benda dari para penggemarnya bermanfaat untuk orang lain. Kanya menutup kardus segera keluar kamar mengamankan kardus itu, kemudian tugas selanjutnya mencari Bian untuk memberikan penjelasan.


"Bi Narti, ini!" Kanya menyerahkan pada Artnya.


"Makasih Mbak, kalau ada lagi jangan lupa kasih saya," seru wanita itu nyegir kuda senang.


"Nggak akan lagi kayaknya Bi," balas Kanya. Cukup sudah ia menerima kado dari pengemar kalau jadi salah paham dengan suaminya.


"Bi Narti lihat Mas Bian?" sambung Kanya.


"Tadi sama Nyonya mbak disini, sekarang nggak tahu hilang kemana?" ucap Bi Narti.


Tuh kan, Bian Hilang!


Kanya sudah berputar ke seluruh rumahnya tapi juga tak bertemu Bian. Rumahnya sudah sepi sekarang dari ibu-ibu rumpiranger.


Kemana Bian? Apa mungkin dia pulang? Apa segambek itu suaminya. Perasa sekali.


Kanya berlari ke teras depan. Kanya kira Bian bakal sedih di pojok rumah dan meraju seperti cerita di novel-novelnya.


Tenyata suaminya sedang punya kegiatan lain. Bian sedang sibuk melayani foto para dede gemes tetangganya. Suaminya sedang di kerumunin Abege-abege labil yang kira-kira masih usia SMP. Bian tampak santai tanpa beban dengan Mama Rida yang berjaga menjadi bodyguard.


Kanya menepuk kepala gemas. Dia sudah cemas setengah mati.


"Udah Ade - Ade bubar ya, pada di tungguin emak kalian buat belajar," seru Kanya menemui kerumunan di depan terasnya.


Tangannya langsung sigap merangkul tangan Bian yang di jamah para calon cabe-cabean itu.


"Kak Kanya pelit, nganggu aja kita mau pinjam suaminya," sungut abage yang nampak paling bar-bar disitu.


"Memang Kak Bian skuter rental mau dipinjam! pulang deh sana, belajar streaming di sobatpintar biar tambah pintar," seru Kanya sesekali promoin bimbel suaminya.

__ADS_1


"Huuuhh," seru puluhan Abege-abege kompak.


"Kak Kanya benar, sebaiknya kalian pulang. Jangan lupa rajin belajar untuk jadi penerus bangsa yang nanti bisa dibanggakan," petuah Bian.


"Siap Kak," seru semua bocil serempak. Hanya mendengar sepintas kata dari Bian. Semua langsung bubar jalan dengan tertib.


Coba kalau Kanya yang bilang pasti mulut sampai berbusa pasti enggak bakalan di dengar.


Bian melepaskan tangan Kanya yang bergelantung di tangannya. Ia berjalan mengikuti Mama Rida ke dalam rumah.


Kanya melonggo, suaminya ternyata masih marah?


"Mas ...."


Dengan langkah kilat ia menyusul masuk ke dalam rumah. kenapa ia jadi setakut ini Karena Bian marah?


Kanya jadi mendadak lemas. Tapi matanya langsung terbelalak melihat suaminya.


Tak seperti dugaan Kanya, kini Bian justru bergabung dengan Mama Rida di ruang keluarga. Keduanya nampak santai menikmati kudapan. Mama Rida juga terlihat banyak mengeluarkan celoteh-celoteh yang membuat suaminya malah tertawa.


Kanya mati-matian memikirkan penjelasan untuk Bian. Tapi suaminya nampak baik - baik saja. Semoga saja! Tapi apa yang yang di bicarakan Mama Rida hingga Bian tertawa lepas melupakan rasa ngambeknya.


Apa Mama Rida bongkar aib Kanya! Tolong Jangan! Ini harus segera dihentikan.


Kanya langsung saja ikut bergabung duduk disamping dengan suaminya. Mama Rida berhenti bicara ketika melihat kedatangan Kanya.


"Tapi Kanya luar biasa kok Ma. Dia sekarang malah lebih sering masak," ucap Bian yang kini bergantian berbicara.


"Tapi dapur kamu nggak hancur kan," seru Mama Rida malah meledek anaknya melirik ke arah Kanya.


Bian menggeleng tersenyum. Kanya mendengar sendiri bagaimana Bian memuji dirinya didepan Mamanya. Ia bahkan tak menceritakan sama sekali kekurangannya di awal menikah. Tentu hal itu membuat Mamanya menjadi begitu bangga. Meskipun Kanya sadar ucapan suaminya dibumbui sedikit manipulasi. Peran Kanya belum sampai level yang di bicarakan Bian.


"Ya sudah kalian istirahat saja, Mama masih ada urusan sebentar," seru Mama Rida meninggalkan Bian dan Kanya.


Seketika Kanya merangkul lengan suaminya agar tidak kabur lagi. Ini kesempatan bagi Kanya untuk memberi penjelasan.


"Mas, masih marah?" ucap Kanya dengan wajah memelas.


"Menurut kamu?" timpal Bian ketus.


"Nggak sih," jawab Kanya enteng.


"Kalau aku masih marah?" jawab Bian.

__ADS_1


Kanya langsung memeluk Bian, "Mas, itu nggak seperti Mas bian pikir," Kanya mengeratkan pelukannya agar Bian tidak kabur lagi untuk diberi penjelasan.


"Kesel juga Kay, bayangin kamu di kasih hadiah sama nama-nama itu," seru Bian di telinga Kanya.


Kanya mendongak, "Mas itu semua dari pengemar novel aku, sebagian juga dari teman kampus yang nggak pernah aku tannggapi sumpah!" Kanya membela diri, kali ini kenapa ia ingin menangis, merengek kalau perlu agar Bian percaya.


Kanya merasakan punggungnya yang di raba oleh Bian. Suaminya membalas pelukannya. Betapa leganya hati Kanya, tenyata air matanya tak sia-sia.


"Ya, Mama sudah cerita semua," ucap Bian lirih.


Kanya semakin meringkuk di dada Bian lega. Tenyata Mama Rida jadi ibu peri kali ini.


"Maaf, sudah buat kamu panik," ucap Bian mengusap lembut kepala Kanya yang tertutup kerudung.


"Jangan ulangi lagi Mas. Serem! aku kira Mas Bian nggak bisa marah," ucap Kanya.


"Kalau muridnya bandel harus di marahi dan di kasih hukuman," seru Bian kini mencubit pipi istrinya.


"Nggak apa-apa Mas, Kanya siap di hukum ujian biologi yang tertunda kemarin. Ditambah durasi waktu juga Kanya siap," ucap Kanya mengigit bibir bawahnya pasrah merasa bersalah.


"Murid Mas yang satu ini udah mulai pintar ngerayu ya sekarang," lagi-lagi Bian menoel pipi Kanya gemas.


"Mas Bian, aku serius,"


"Ya udah kita langsung ke atas. Mas juga mau tambah ujian fisika tentang gaya kinetik dan pegas," seru Bian langsung menarik tangan Kanya.


"Mas Bian,"


Kanya tersenyum malu, mengikuti langkah Bian. Kanya lega, Tenyata kali ini bisa Bian tak berlarut-larut.


.


.


.


.


.


.


Bersambung.......

__ADS_1


Note: yang jomlo pegangan ya! Takut kalian nggak kuat.


Terimakasih masih menunggu kisah Bian Kanya. Moon Maap jadwal update masih berantakan 🙏🤭


__ADS_2