
After this Night
Kanya mengeringkan rambutnya yang masih basah. Ia melihat bayangan di cermin. Kanya menunduk malu membayangkan kejadian semalam yang masih menari-nari di kepalanya. Bahkan tadi pagi setelah sholat subuh ia mengulanginya lagi.
Kanya menutup wajahnya malu meskipun ia hanya seorang diri didalam kamar. Ternyata bayangan malam pertama yang ia gambarkan dalam novel tidak seseram itu, sampai-sampai si pengantin wanita harus digendong ke kamar mandi. Nyatanya semua indah, mungkin hanya sedikit rasa sakit yang terselimuti kebahagian. Begini rasanya menjadi milik seseorang seutuhnya. Bian benar-benar memperlakukannya dengan lembut bak porselen yang mudah pecah.
Setiap sentuhan Bian memberikan sebuah kehangatan untuk Kanya. Ya ampun wajahnya memerah lagi setiap mengingat momen demi momen dirinya dan Bian melebur menjadi satu.
Sama-sama awam dan melewatinya dengan baik meskipun tak begitu berjalan mulus pada awalnya. Kanya mengatur nafasnya berjalan keluar dari kamar mandi.
Kanya pikir suaminya sedang kembali tidur karena lelah, nyatakan Bian sudah tidak ada di dalam kamar. Kemanakah suaminya?
Kanya segera mengganti pakaian untuk menyusul Bian diluar.
Pemandangan yang sungguh meneduhkan hati Kanya. Bian berdiri didepan kompor dengan tangan pria itu yang sibuk membalikan sesuatu.
Siapa yang sangka Bian dengan sigap memasak meskipun dirinya mungkin saja lelah. Melting hati Kanya, kenapa ia telat bersyukur mempunyai suami seperti Bian.
Kanya jadi merasa malu bertemu dengan suaminya.
"Kay," suara yang membangun lamunan Kanya yang masih berdiri di ambang pintu.
Dengan perasaan malu Kanya berjalan menghampiri suaminya. Sungguh Kanya ingin memeluk Bian dari belakang. Tapi Kanya masih belum terlalu berani melakukan hal itu. Ia memilih berdiri di samping Bian.
"Udah selesai mandinya?"
Kanya mengangguk.
Bian mengacak rambut Kanya sudah mulai mengering itu. "Kamu duduk di meja aja, sebentar lagi pancakenya matang. Kamu pasti capek dan lapar."
__ADS_1
Kanya jadi malu lagi mengingat kejadian semalam. "Mas, kenapa Mas Bian yang masak. Harus tunggu aku dulu."
"Nggak apa-apa Kay, Kamu pasti masih kesakitan kan?" goda Bian sambil menaruh lagi adonan pancake dalam teflon.
Merah padam wajah Kanya kali ini. Semalam Kanya memang tergolong paling ribut daripada Bian. Ia bahkan sempat menangis seperti anak kecil karena merasakan sakit yang luar biasa' meskipun suaminya menyentuhnya dengan pelan. Hal itu uang membuat Bian panik dan hampir berhenti melanjutkan aktifitas suami istri untuk pertama kali itu.
"Nggak kok Mas, Aku baik-baik," ucap Kanya.
"Sekarang kamu tunggu saja di meja makan, sebentar lagi aku nyusul,"
Kanya akhirnya pergi ke luar dapur menuruti perintah Bian untuk duduk di ruang makan.
Tak lama Bian datang dengan membawa pancake dengan toping buah strawbery dengan saus madu yang meleleh. Ini bahkan terlihat lebih cantik daripada pancake yang biasa Kanya beli di cafe dekat butiknya.
"Makan Sayang," ucap Bian yang membuat hati Kaya berdesir dengan panggilan barunya itu.
Kanya pun mengambil garpu mencoba menyuap pancake buatan Suaminya. Kebetulan dirinya memang sangat lapar dari tadi.
"Ini udah jam tujuh, Mas nggak ke kantor?" tanya Kanya di sela suapannya.
"Nggak, rencana hari ini Mas mau ada blusukan sama Rehan ke salah satu pengguna sobatpintar," jelas Bian.
"Owh, di sobatpintar ada blusukan juga," canda Kanya.
"Sebenarnya dia pengguna spesial Kay," terang Bian.
"Spesialnya?"
"Beberapa waktu lalu ada pengguna yang mengirim pesan ke cs kita. Namanya Rahmat. Ia memberi pesan tidak bisa berlangganan dan mengikuti bimbel sobatpintar karena hapenya rusak. Hape yang rusak itu tenyata hape seken pemberian tetangganya. Menurut penulusuran tim kita. Selama ini ia bisa membayar uang langganan sobatpintar dari berjualan keripik singkong disekolah dan dijalan sepulang sekolah. Ia dari keluarga yang kurang mampu, tapi tetap berusaha untuk bisa mendapat bimbingan di aplikasi kita. Rahmat juga termasuk murid yang berprestasi disekolah. Maka dari itu kita mau kasih dia reward berupa hape baru agar dia tetep bisa terus belajar di sobatpintar dan berprestasi disekolah." Cerita Bian.
__ADS_1
Kanya manggut-manggut, jika aplikasi lain lebih mementingkan iklan dan keuntungan semata. Bian tidak seperti itu, bukan hanya keuntungan yang menjadi targetnya. Tapi memang rasa kepedulian akan pendidikan anak-anak dan prestasi anak-anak dinegeri ini.
"Tadi aku mau ajak kamu Kay," seru Bian disela suapannya.
"Kanya siap Mas," seru Kanya semangat.
"Tapi .... akses jalan kerumah Rahmat tidak bisa di jangkau dengan mobil. Kita harus berjalan sekitar satu sampai dua kilometeran. Aku hanya kuatir kamu masih...." Bian tak menerus kalimatnya merasa sebagai pelakunya.
Ya ampun, tak di pungkiri Kanya memang masih merasa sedikit nyeri. Tapi Kanya tidak terlalu lebay sampai tak bisa hany untuk berjalan.
"Aku ikut Mas, aku serius nggak apa-apa!" bantah Kanya.
"Ya sudah kalau kamu yakin, selesaikan sarapannya aku mandi dan bersiap," kecupan hangat Bian jatuhkan ke kening Kanya.
Pagi terbaik yang pernah Kanya rasakan selama menikah. Tidak akan ada lagi asumsi yang selama ini dibuat sendiri oleh Kanya. Ia hanya memanglah milik Bian dan Bian miliknya. Tak ada hal perlu di takutkan dan diragukan lagi oleh Kanya.
.
.
.
.
.
.
Bersambung.......
__ADS_1
Sori Ei baru bisa up satu bab, sempat ada problem dengan pihak eNTe yang buat Ei down mau Up lagi.
Makasih masih menunggu kisah Bian dan Kanyaπππ