(Im)perfect Couple

(Im)perfect Couple
Bab 24


__ADS_3

Bertanya


Kanya melepaskan mukena usai melaksanakan kewajiban sholat subuh. Ia melihat ke arah pintu tapi suaminya ternyata belum pulang dari masjid. Kanya segera menguncir rambutnya, ia bermaksud akan membantu bunda untuk membuat sarapan.


Ia pun meraih kerudung semalam yang ia sampaikan di sandaran kursi. Ketika hendak melangkah. Kanya kembali ke kursi. Ada pemandangan lain yang berubah di atas meja.


Wow!


Menghilang kemanakah barang yang menyesakkan dadanya itu. Ya, suvenir menara Pisa dengan ukiran nama For Bi to Gareta.


Apakah Bian sudah menyingkirkan barang-barang yang berhubungan dengan Gareta untuk menjaga perasaannya.


Semalam Kanya beralasan sakit perut ingin segera tidur. Ia tak bisa berdamai dengan perasaan yang kacau. Ia pun akhirnya tertidur tanpa melakukan ujian biologi seperti yang di harapkan Bian.


Atau mungkin Bian melakukan itu hanya untuk menutupi rahasia dan rasa kecurigaanya saja. Lagi - lagi pikiran Kanya jauh menerawang.


Sudahlah! sudah bagus tidak ada lagi pemandangan yang menganggu matanya. Ia membulatkan tekad kali ini harus bertanya pada Bian.


Bukankah dalam rumah tangga harus sangat penting nilai kepercayaan dan kejujuran.


Kanya segera turun ke dapur membantu Bunda Dita agar bisa segera nanti bicara dengan Bian.


"Kay," sapa Bunda Dita yang sudah berada di dapur. Kanya sangat tahu bunda Dita memang terkenal rajin memasak untuk keluarga.


"Kanya bantu Bun," ucap Kanya.


"Wah, pasti di rumah kamu juga rajin masak untuk Bian," ujar Bunda Dita.


"Yang simpel-simpel Bun," ucap Kanya. Ya, ia memang mulai rajin masak setalah dapat rapot dari suaminya.


"Masa sih, biasanya Bian tuh suka rewel makannya. Berarti Mama memang gak salah pilih istri. Pintar kamu ambil hati Bian," seru Bunda Dita.


Kanya jadi tersanjung, bunda tidak tahu saja kalau awal menikah sebelum Kanya sadar, Bian lah yang sering memasak.


Berumur panjang yang dibicarakan datang. Kanya masih berpura sibuk dengan bawangnya. Langkah kaki terdengar mendekat ke dapur. Bian mengukir senyum memperhatikan sekilas. Ia pun akhirnya pergi ke arah tangga menuju lantai atas.


"Susul Bian Kay," seru Bunda Dita.

__ADS_1


"Tapi Bunda ...."


Bunda Dita mengambil pisau dan bawang yang dipegang Kanya. "Urus dulu Bian. Biar Bunda yang selesaikan. Sepertinya dia kasih kode minta di susul."


"Ya Bun," tak ada pilihan lain untuk Kanya jika itu permintaan Bunda Dita.


Kanya membuka pintu kamar dan mendapati suaminya yang sudah rapi memakai baju kemeja putih dan celana hitam.


"Kay," seru Bian.


"Udah mau berangkat Mas," Kanya meraih kancing kemejanya suaminya membantu bersiap.


Meskipun masih kesal dengan rasa penasarannya, kewajiban istri harus tetap dijalankan.


"Mas," seru Kanya memberanikan diri untuk bertanya.


"Hmm....,"


"Bo-leh tanya," seru Kanya.


Apa salahnya Kanya ingin tahu masa lalu Bian. Setiap orang juga berhak punya mantan. Tinggal hati Kanya saja harus siapkan aspirin. Takut kenyataan yang terimanya lebih pahit.


"Tanya apa?" seru Bian dengan tatapan senduh.


"Yang pasti bukan soal biologi kimia atau fisika," ucap Kanya mencoba mencairkan ketengangan.


Bian menyunggingkan tawa kecil terkesan jaim. "Gareta?" seru Bian.


"Kok Tahu?"


"Kelihatan di atas sini," Bian menunjuk kening Kanya.


"Padahal udah aku hapus pake stip x Lo," Kanya ikut memijat keningnya.


Lagi-lagi Bian tertawa renyah. "Kita hanya teman, satu pekerjaan, satu visi. Dulu satu kampus dan teman satu negara."


"Hanya teman? Apa karena itu Kak Gareta juga sering kasih hadiah?"

__ADS_1


"Ya ...."


"Lalu foto berdua itu," Kanya menutup mulutnya karena keceplosan.


Raut wajah Bian berubah mengkerut. Ia berdiri menuju meja.


Kanya menyesal sudah mempertanyakan hal itu. Semua orang punya masa lalu kan, termasuk Suaminya. Kenapa ia masih ragu, sekarang ia lah istrinya. Bagaimanapun ia sekarang, sedodol apapun dirinya saat ini. Bian sudah memilihnya menjadi teman hidup di antara puluhan gadis ingin menjadi istrinya.


"Foto ini yang kamu maksud," Bian menjatuhkan foto yang diyakini Kanya di ambil dari laci yang sama kemarin.


Kanya mengangguk meskipun ia terkesan terlalu kepo dengan masa lalu Bian.


"Kamu mau aku jujur?"


Kanya mengangguk meskipun ia tak tahu siap atau nggak menerima kenyataan yang bisa menyesakkan hatinya lagi.


"Kay, aku dan Gareta...,"


Kanya menyimak dengan seksama.


"Bang Bian," suara keras dari balik pintu. Bian mengalihkan pandangan dan tak meneruskan kalimatnya.


"Kenapa Sasy, Kita akan bicara nanti." Bian berdiri menuju pintu.


Kanya menghembuskan nafas kasar. Ia sudah bersiap menerima kenyataan Bian malah batal bicara. Semenjak tiba di rumah ini Sasy memang selalu lebih menguasai Kakaknya. Kanya paham mungkin dirinya juga akan bertingkah sama jika Bintang menikah lebih dulu.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung ......


__ADS_2