(Im)perfect Couple

(Im)perfect Couple
Bab 45 (b)


__ADS_3

"Lama banget sih bukanya!" Kanya mengomel setelah pintu yang ia ketuk beberapa kali akhirnya terbuka.


"Sorry gue dari kamar mandi." Galang melebarkan pintu. "Ini masih pagi! Ngapain bertamu ke tempat tetangga," lanjut Galang.


"Mau minta sarapan!" omel Kanya lagi.


"Jangan bilang Lo ngidam lagi, udah mau brojol juga!" ketus Galang.


"Takut banget sih gue mintain sarapan! Ada yang mau ketemu tuh sama lo," Kanya memberi kode pada Sasy yang berdiri di depan pagar rumahnya.


"Siapa?" tanya Galang.


"Tuh!" Tunjuk Kanya. "Udah beres-beres? Rumah loh rapi nggak, kalau nggak kita ketemu ke tempat gue aja!"


"Penghinaan Kay, rumah gue selalu bersih, hati gue aja yang suka berantakan."


"Garing! Makanya jangan betah jomlo!" olok Kanya.


Sassy langsung menyebrang jalan ketika mendapat kode dari Kanya. Siapa yang sangka Galang akan bertemu lagi dengan wanita itu. Wanita yang membuatnya tidak bisa tidur nyenyak waktu itu.


"Apa kabar?" Sassy melambaikan tangan menyapa pria di depannya.


Galang membalas melambaikan tangan. "Sangat baik kalau kamu yang nanya," jawabnya sambil menebar senyum memandang Sasy.


Sassy mengerutkan kening lalu mengelengkan kepala.


"Modus!" balas Kanya.


"Mau masuk atau masih bengong di sini?" ucap Galang.


"Masuklah! Lo kira kita tukang penagih iuran RW." Kanya menarik tangan Sasy.


Keduanya melewati Galang masuk ke dalam rumah.


Mata pria gondrong itu masih fokus tertuju pada Sasy yang elok di pandang. Sejak bertemu pertama kali saat wanita itu menumpahkan minumannya. Pria itu merasakan hal aneh dalam dirinya.


Apa mungkin ini yang namanya jodoh? Ngarep boleh nekat jangan! begitu konsepnya


Mungkik ini pertanda hari ini tiba-tiba ia khilaf ingin mandi pagi. Setidaknya penampilannya pagi ini terlihat good looking.


Kanya mengambil duduk di sofa panjang tanpa di persilahkan, Sasy memilih duduk di sebelah Kakak iparnya.


Galang menyusul masuk ke ruang tamu yang juga berfungsi untuk tempat bertemu klien untuk konsultasi. Ia bergabung dengan dua tamu wanitanya.


"Sasy lagi butuh fotografer. Ada waktu nggak?" tanya Kanya pada Galang yang masih melamun.


"Woy," Kanya mengibaskan tangan di depan Galang yang tak berhenti memandang Sasy.


"Iya, ya gue denger," balas Galang.

__ADS_1


"Gimana?" tanya Kanya lagi.


"Apa?" jawab Galang dengan tampang bingung.


Satu bantal sofa langsung melayang di wajah Galang. "Makanya kalau orang ngomong itu di dengar."


Sasy tertawa pelan. Tenyata memang sedekat itu Kakak iparnya dengan Galang.


"Maaf ya Kak. Aku nganggu pagi-pagi," ucap Sasy kalem.


"Nganggu tiap hari juga nggak masalah," oceh Galang.


Sassy lagi-lagi tertawa renyah. "Jadi begini Kak, kalau kakak ada waktu. Aku bisa minta tolong Kakak bantu jadi fotografer untuk kampanye lingkungan hidup," ucap Sasy.


"Tema alam maksudnya? Shut gambar Flora atau Fauna?" tanya Galang.


Sassy mengangguk semangat. Sepertinya ia memang menemukan partner yang tepat.


"Aku siap bantu kamu kapanpun kalau begitu," jawab Galang tegas.


"Yakin nggak ada benturan dengan jadwal pemotretan lain?" tanya Kanya.


Kanya tak mau sahabatnya itu mengutamakan keluarganya di bandingkan dengan klien yang mungkin lebih dulu memesan memakai jasa pria itu.


"Itulah fungsi gue punya karyawan Kay, kalau gue ada keperluan mereka bisa handle. Di studio gue, semua fotografer terlatih dan profesional kok," bela Galang.


Kanya bisa terima alasan Galang sekarang. Tapi ia masih heran dengan sahabatnya. Sejak kedatangan Sasy tingkah pria itu aneh. Galang lebih sedikit kalem, keselengekanya berkurang. Apa lagi ketika Sasy mengajaknya bicara, Galang membalas dengan panggilan tak biasa "aku kamu".


Tidak, tidak itu tidak boleh terjadi sahabat! Tolong Wanita lain saja. Batin Kanya.


Mereka berdua pasangan yang sangat berbeda sifat maupun Karakter. Lagipula, jika memang benar sahabatnya itu tertarik pada Sassy. Saingan Galang terlalu berat, yaitu Rehan. Ujian kedepannya juga pasti lebih sulit dari Kanya.


Apalagi keputusan bunda Dita tidak bisa diganggu gugat. Kanya hanya tak mau sahabatnya yang lama menjomblo itu malah patah hati sebelum perang.


.


.


.


.


.


"Makasih ya Kay. Karena kamu yang nemamin aku, Galang akhirnya setuju bantu aku," ucap Sassy.


"Bukan karena aku Sas. Galang sendiri juga nggak keberatan 'kan," balas Kanya.


"Iya, iya."

__ADS_1


Kedua kini sudah kembali ke rumah Kanya. Mereka duduk di taman belakang rumahnya. Menikmati pagi yang masih sejuk sebelum beberapa jam lagi matahari akan mengeluarkan panas yang menyengat. Keduanya menghabiskan waktu saling berbagi cerita. Hal yang sebelumnya tak pernah di lakukan Kanya dan adik iparnya.


"Mungkin lusa aku bisa ajak Kak Galang untuk mulai mengambil foto," ucap Sassy sambil menikmati buah mangga di tangannya.


"Good luck Sas," ucap Kanya memberikan dua jempol.


"Makasih Kay. Oh ya Kay, Kak Galang sudah lama tinggal didepan rumah kamu?" tanya Sassy.


"Nggak juga, dia juga baru pindah tak lama setelah aku pindah."


"Oh ..."


Tidak mungkin Kanya menceritakan pada Sasy dari awal, apa sebenarnya motiv utama Galang jadi tetangganya. Tapi ada hikmah juga waktu itu Galang membuat kesal suaminya. Kanya mulai tahu secara perlahan-lahan perasaan suaminya yang sesungguhnya. Hingga pada puncaknya terkuak fakta tersembunyi yang tak lagi membuat hatinya dihinggapi rasa bimbang.


"Kak Galang tinggal sendiri?" tanya Sassy lagi.


"Iya untuk saat ini, kalau sudah ada istrinya mungkin nggak lagi."


"Tapi pacar punya kan?" cercah Sassy.


"Ehm.... Belum juga kayaknya, dia nggak pernah bawa Wanita untuk di perkenalkan ke kita," jawab Kanya.


Sassy mengangguk, "Kak Galang pemilih ya?"


"Nggak juga sih, mungkin belum nemu yang cocok saja," balas Kanya.


Kanya memperhatikan Sassy. Ia juga jadi heran juga melihat Wanita itu. Kenapa adik iparnya itu begitu kepo dengan sahabatnya. Memang tidak ada yang salah menayangkan sesuatu, tapi kalau sudah menanyakan masalah pribadi, boleh Kanya ikut curiga.


"Tipe Kak Galang seperti apa Kay?" tanya Sassy yang membuat Kanya tersedak mangga yang hampir ia telan.


Tenyata Sassy masih membahas masalah sahabatnya itu.


"Udah Sas, nggak usah bahas Galang lagi nggak terlalu penting tahu. Nanti beberapa hari bersama kamu pasti tahu orang seperti apa dia," balas Kanya.


Sassy hanya tersenyum. Kalau sudah seperti ini Kanya benar-benar curiga. Tapi tidak ada yang tidak mungkin jika Tuhan sudah berkehendak. Meskipun adik ipar dan sahabatnya itu sangat berbeda dalam berbagi hal. Jodoh manusia siapa yang tahu.


Tapi kalau suaminya tahu hal ini, Kanya tak yakin ia juga akan berpikir sama seperti dirinya. Bian saat ini juga berjuang untuk mendekat pasangan terbaik menurut keluarganya untuk Sassy.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung........


Maaf Ei nggak update lama ...😍😍😍 dibuat begadang pildun 2 hari 🙏🙏


__ADS_2