
Rumah Tetangga
Galang mengucek matanya mengumpulkan kesadaran. Siapa yang pagi-pagi sudah mengedor pintu seperti penagih pinjaman online saja. Sungguh sangat menganggu waktu istirahatnya. Pria itu berjalan sempoyongan menuju pintu utama.
Mata Galang yang setengah mengantuk langsung membulat, sepertinya ia masih bermimpi. Tapi ia mengucek matanya lagi memastikan pengelihatannya.
"Bangun woy, udah pagi!" seru Kanya mengibaskan tangan di depan wajah Galang yang masih linglung.
"Benar gue nggak lagi mimpi, ini Kanya sama suaminya yang CEO sobatpintar itu," ucap Galang.
"Bukan! Iya iyalah siapa lagi tetangga yang sudi ke rumah elu!" seru Kanya.
Pagi ini Kanya berniat sekali ingin ke rumah Galang. Usai menjalankan sholat subuh Kanya langsung merengek mengajak suaminya sarapan di rumah Galang. Awalnya Bian menolak, tapi karena Kanya yang langsung memasang wajah melas. Bian terpaksa menuruti keinginan istrinya itu.
"Mimpi apa gue semalam di datangi Abian Askara, ayo masuk - masuk." Galang melebarkan pintu memberi jalan Kanya dan Bian masuk.
"Sorry gue masih pakai kolor." Galang memegangi ujung kolornya bermotif Spongebob.
"Kalian juga pagi-pagi ke rumah orang, studio gue belum buka," lanjut Galang.
"Siapa yang mau foto keluarga, kita mau gantian bertamu sebagai tetangga baru." Kanya langsung duduk mengandeng Bian di stoll kayu kecil.
"Kenapa kalian nggak bilang sih, gue nggak ada persiapan untuk sambut tamu kehormatan seperti kalian." Galang berpura mengelap meja stool di depan Bian.
Galang kini ikut duduk di stoll kayu. Pria itu mengikat rambutnya gondrong yang acak-acakan dengan karet gelang yang tercecer di meja. Lumayan karet gelang bungkus nasi gorengnya semalam bisa menjadi penyelamat untuk rambutnya. Tampilnya sedikit lebih rapi dengan rambut di cepon di depan tamu tak di duganya itu.
"Pokoknya sekarang gantian Lo masak buat kita!" oceh Kanya.
"Ya ampun Kay! masak apa gue pagi-pagi gini, tukang sayur keliling masih pada di pasar," protes Galang.
"Masak apa saja yang penting bisa kita makan," beo Kanya lagi. Sedangkan Bian hanya melipat tangan di dada masih menyimak perdebatan dua orang yang bersahabat itu.
"Oke. Kalian mau balas dendam ya, ngerjain orang pagi-pagi. Tunggu disini sebentar." Galang beranjak hendak menuju ke dapur.
"Tunggu Lang," tegur Bian yang membuat Galang menoleh ke arah sumber suara seketika.
"Jangan masak lagi yang terlalu pedas untuk Kanya," ucap Bian penuh penekanan.
"Ya tenang! Gue kemarin khilaf," balas Galang santai.
Kanya dan Bian memutuskan menunggu di ruang tamu atas perintah tuan rumah.
Rumah Galang tergolong bersih untuk ukuran pria yang tinggal sendiri. Mungkin rumah yang juga di jadikan tempatnya berkerja membuat rumah sekaligus studionya harus terlihat rapi.
__ADS_1
Untuk mengusir kebosanan, Kanya menarik tangan Bian, ia mengajak suaminya melihat hasil cepretan sahabatnya di layar komputer 24 inc dekat jendela yang menyala. Bian pasrah ikut melihat - lihat hasil karya sahabat Kanya itu.
Lumayan! Bian mulai mengakui pria gondrong sahabat Kanya itu berbakat dalam hal fotografi. Semua karyanya sangat memukau.
"Ini foto terakhir aku waktu jadi endrose baju muslim artis itu Mas." Kanya memperlihatkan foto cantik dirinya di cafe bamboo.
"Cantik! Tapi aslinya jauh lebih cantik," puji Bian. Seketika muka Kanya berubah semerah tomat. Hal langka, pagi-pagi sudah dapat pujian dari suami.
Galang hendak menegur kedua tamu tak diundang untuk makan. Tapi ia urungkan sejenak. Ada pemandangan yang indah yang sayang untuk di lewati. Ingin rasanya ia mengabadikan dalam kameranya. Bibir ikut tersenyum melihat tawa bahagia di wajah Kanya bersama Bian. Itulah rahasia jodoh, siapa yang menyangka sahabatnya Kanya bisa kuat mengimbangi seorang Abian. Ia ikut bahagia tenyata Bian memang jodoh terbaik dan tepat untuk Kanya sahabat yang paling disayanginya itu.
Galang jadi ikut merinding kan, ingin juga segera punya istri. Tapi boro-boro mau nikah pacar saja nggak ada! Nasibnya sungguh mengenaskan jadi jomlo.
"Sudah ketawain hasil karya gue, masakan gue udah Mateng nih!" tegur Galang tak mau lama-lama menyakiti jiwa jomlonya melihat kemesraan tamunya.
Kanya dan Bian menoleh ke sumber suara. "Gue juga sudah bereskan meja makan untuk sarapan tamu istimewa."
"Siap!" Kanya mengandeng suaminya untuk beranjak menuju meja makan.
Mata Kanya membulat ketika melihat makanan yang tertata di meja makan.
"Ini akibat kalian pagi-pagi gerebek rumah tetangga yang jomlo, jadi gue masak ala kadarnya bahan yang ada di kulkas."
"Ini yang gue tunggu Lang, dari semalam gue pingin mie instan ceplok telor buatan Lo ini." Kanya duduk menghirup aroma mie instan yang mengoda indera perasanya.
"Atau mau gue suapin sekalian, layanan plus untuk tetangga nih," cengir Galang.
"Becanda Pak, serius banget sih." Galang membela diri.
"Udah-udah, gue mau makan." Kanya meraih garpu tanpa di persilahkan tuan rumah.
"Dulu Kalau kita lagi ngumpul sama-sama cewek-cewek, gue jadi tukang masak Mie Bro," seru Galang menepuk pundak Bian sambil melihat Kanya yang makan dengan lahap.
Lawan bicara Galang hanya melempar senyum. Tak menyangka di pria yang sempat membuatnya kesal beberapa waktu lalu bisa serius juga.
"Enak banget Lang sumpah!" Kanya terus menyuap sendok ke dalam mulutnya.
Galang dan Bian melihat heran ke arah Kanya. Perasaan Galang hanya semangkok mie instan, baru kali ini sahabatnya memuji dan makan selahap itu.
"Lebay. Itu cuma mie! udah kayak orang ngidam aja lo Kay," ceplos Galang.
"Hah!" Bian mengunyah pelan kali ini memikirkan ucapan Galang. Mata kini melihat sang istri yang masih tertawa renyah tak menyadari ucapan Galang yang di anggap hanya candaan.
Istrinya memang agak aneh sejak semalam, apa yang di katakan Galang itu benar? Apa Kanya memang hamil? Bian menyunginkan senyum membayangkan betapa bahagianya, jika apa yang dipikirkan memang benar.
__ADS_1
.
.
.
.
.
Kanya memegangi perutnya setelah kenyang menganggu sahabatnya untuk memasak. Keduanya bergandengan tangan berjalan kaki menyeberang untuk pulang.
Bian justru berpikir keras mencoba mengingat kapan terakhir Kanya datang bulan.
"Kay, apa bulan ini kamu sudah datang bulan?" pertanyaan yang reflek keluar begitu saja.
"Hah!" Kanya heran dengan pertanyaan aneh suaminya. Apa suaminya takut jatah ujian biologinya berkurang. Ya suaminya sekarang sudah lengket dengan dirinya seperti lem Korea.
Tapi!
Benar ucapan suaminya. Kanya hampir belum mendapatkan menstruasi satu bulan terakhir.
"Aku kayaknya udah telat sebulan Mas," seru Kanya.
"Kay, apa mungkin kamu ....," Bian malu meneruskan kalimatnya.
Kanya menutup mulutnya bahagia. Apa mungkin? Buah cintanya dengan Bian berhasil terwujud.
"Mas, setelah pulang dari kantor. Mas temani Kanya beli testpack ya," seru pelan Kanya malu. Bian tentu mengangguk semangat.
.
.
.
.
.
.
Bersambung.........
__ADS_1
Part-part Adem dulu ya reader tersayangku😍😍
Makasih masih setia ngikutin cerita Kanya dan Bian 😍