(Im)perfect Couple

(Im)perfect Couple
Bab 33


__ADS_3

Bersikap aneh


Setelah sekian lama, untuk pertama kalinya Kanya merasakan hari-hari dirumahnya benar-benar berbeda dan menyenangkan.


Kanya merasa tak perlu lagi mencemaskan masalah wanita itu. Terlalu memikirkan hal itu, hanya akan membuat pikirannya kembali teracuni hal-hal yang negatif.


Ia pun segera meletakan pancake yang sudah mulai kecoklatan ke piring. Ia menaburkan madu dan strawberry iris seperti yang biasa dibuat Bian untuknya.


Lumayan! Baru dua kali belajar sepertinya Kanya sudah bisa menyamai pancake buatan suaminya.


Kanya bersiap memanggil suaminya ketika semuanya sudah tersaji rapi di meja makan.


Tapi, ada yang tak biasa dari suaminya. Ia begitu serius memandangi layar televisi.


"Lihat apa sih Mas serius sekali." Kanya merangkul dari belakang Bian yang duduk di sofa.


Kanya melihat tayangan televisi yang menayangkan ulang acara talk show yang gelar aplikasi belajar ruangsiswa kemarin.


"Diulang lagi?" seru Kanya heran. Ia kini duduk di sebelah Bian.


"Padahal mereka kemarin sudah live di semua stasiun TV nasional selama 4 jam!" ucap Kanya jadi kesal.


Bagaimana tidak beberapa minggu terakhir acara di televisi hanya menayangkan acara ruangsiswa. Terlebih akhir pekan kemarin mereka melangsungkan live di semua stasiun televisi.


"Mungkin mereka merasa mulai punya pesaing, sehingga mereka buat promo untuk aplikasi secara besar-besaran. Mereka tetap ingin di pandang bimbel belajar online nomor satu. Tapi mereka terkesan memaksa ingin menguasai seluruh pelajar untuk bergabung dengan bimbel mereka."


"Malah aku tahu dari iklan, acara makan puncak mereka weekend nanti akan datangkan Idol K-Pop," balas Kanya, mengelengkan kepalanya.


"Pasti biaya yang mereka keluarkan besar ya Mas," sambung Kanya.


"Tentu saja sangat besar Sayang, membuat tayangan lebih dari 10 stasiun TV di jam efektif, itu biayanya sangat-sangat mahal," balas Bian.


Kanya meremas tangan Bian memberi kekuatan.


"Mas hanya menyayangkan promosi yang mereka buat, sampai harus membuat undian berhadiah mobil mewah dan liburan ke luar negeri untuk pelajar. Apa sebenarnya tujuan mereka? Apa tujuan mereka masih sama ingin memajukan pendidikan negeri ini?"


"Emak-emak biasanya langsung tertarik dengan promo seperti itu Mas, mereka pasti lebih milih ruangsiswa untuk bimbel online anaknya," ucap Kanya.


"Itulah yang Mas Sayangkan Sayang, apa pendidikan sekarang juga akan di jadikan lahan bisnis yang bisa di komersilkan. Apa mereka hanya peduli dengan keuntungan semata tanpa mementingkan kualitas pendidikan itu sendiri," ucap Bian penuh penekanan.


"Bagaimana dengan sobatpintar Mas, apa strategi promosi ruangsiswa bisa mempengaruhi penguna sobatpintar tahun ajaran mendatang," ucap Kanya penasaran. Tangannya terus menggenggam erat tangan Bian memberi kekuatan.


"Sayang, Mas yakin para pelajar sekarang lebih bisa berpikir kritis. Apalagi remaja yang usia SMP sampai SMA. Secara pemikiran mereka lebih bijak dalam memilih sesuatu. Mereka lebih tahu dan bisa menimbang mana yang mereka butuhkan. Mana tempat belajar yang membuat mereka menemukan sesuatu yang baru, mudah, unik, seru untuk mereka. Dan semua itu, Mas yakin hanya bisa mereka dapatkan di sobatpintar, belum ada di aplikasi manapun."


"Ya Mas, semoga sobatpintar ke depannya semakin jauh lebih berkembang dan makin di minati,"


"Amin, lagipula kita harus ingat tujuan utama kita untuk memajukan pendidikan. Kalau pun hal lain yang menguntungkan aplikasi, kita anggap sebagai bonus," ucap Bian mencubit pipi Kanya.


Kanya mengangguk, Kanya percaya suaminya juga punya strategi sendiri untuk perkembangan aplikasinya.

__ADS_1


"Oh ya Mas, hampir lupa. Kanya sudah buat pancake, Ayo kita makan nanti dingin." Kanya menarik tangan suaminya menuju meja makan.


Keduanya terlalu asik membicarakan masalah persaingan aplikasi bimbel online. Hampir, Kanya lupa pancake yang ia buat dengan hati dan penuh cinta.


Bian langsung meriah garpu, ia memandangi pancake buatan istrinya yang tidak terlalu buruk. Justru begitu mirip dengan pancake buatannya.


Bian menyuap dengan memperagakan ekspresi ala juri MasterChef.


"Gimana Mas," tanya Kanya.


Bian masih tak menjawab dan menyuap potongan pancake selanjutnya.


Kanya menyodorkan tangan, Suaminya lebih suka menilai dengan tulisan seperti biasanya 'kan.


Bian tertawa kecil. Mengusap-usap tangan Kanya yang halus.


"Mas kali ini nggak mau kasih skor, tapi langsung reward,"


"Bonus?" seru tanya bertanya-tanya.


Bian tersenyum tipis.


Cup! cup


Dua kali Bian mencium pipi Kanya. Wajah Kanya merona malu.


"Dua kali stempel artinya dapat skor sempurna," ucap Bian lalu melanjutkan menyuap sisa pancakenya.


.


.


.


.


.


Bian meraba-raba sebelah tempat tidurnya yang rata. Dengan setengah kesadaran usai melewati mimpi, ia mencoba untuk bangkit mengumpulkan kesadaran.


Kemana Kanya? Ia melihat kasur sebelah kosong. Pria menyalakan lampu kamar, ia melihat jam dinding yang belum menunjukkan waktu subuh.


Tidak mungkin istrinya memasak sepagi ini.


Ia bangkit dan mencoba mencari keberadaan istrinya. Ia mengetuk pintu kamar mandi memastikan istrinya berada di dalam.


Tak lama Kanya muncul dengan wajah yang pucat. Padahal sore hingga malam istrinya masih terlihat baik - baik saja.


"Kamu kenapa Sayang?" seru Bian cemas.

__ADS_1


"Nggak tau Mas, tiba-tiba kepala aku pusing. Sekarang sudah ringan setelah muntah," ucap Kanya sambil memegangi kepalanya.


Bian mengandeng istrinya ke ranjang agar berisitirahat.


"Mas buatkan teh jahe hangat."


Kanya mengangguk. Bian segera bangkit menuju dapur.


Tak lama menunggu, suaminya sudah datang membawa cangkir dengan asap yang masih mengebul.


"Pelan-pelan masih panas," Bian membantu Kanya meneguk isi cangkir.


Kanya bisa merasakan tenggorokan yang terasa lega setelah meneguk minuman hangat buatan suaminya.


"Makasih Mas," ucap Kanya kembali merebahkan kepalanya.


"Kamu mungkin kurang istirahat Kay," ucap Bian memijat lembut kepala Kanya.


"Mungkin Mas, tapi kenapa mendadak sekali," seru Kanya masih menahan sakit yang tertinggal di kepalanya.


Bian meraih selimut untuk menutupi tubuh istrinya. "Besok kalau masih sakit, Mas antar ke dokter sebelum ke kantor."


"Nggak perlu Mas, Kanya malah mau kita berkunjung ke rumah Galang," ucap Kanya yang membuat mata Bian membulat.


"Kay, kamu itu sakit bukan mau jadi model. Yang kamu butuhkan itu dokter bukan Galang!" Kali ini Bian merasa sedikit kesal dengan keinginan Kanya.


"Bukan Mas, Kanya tiba-tiba pingin mie buatan Galang,"


"Kamu mau tambah sakit dengan makan mie pedas buatan Galang yang seperti racun," ucap Bian sedikit marah.


"Nggak akan Mas, Galang pasti akan masak dengan benar jika kita berkunjung kerumahnya besok sebagai tetangga."


"Mas bisa masakan sekarang untuk kamu Kay," ucap Bian.


"Nggak Mas, sekarang Kanya ingin Mas peluk aku saja," Kanya meraih tangan suaminya agar melingkar di perutnya.


Bian pun ikut membaringkan diri di sebelah Kanya. Bian merasa ada sedikit aneh dengan Kanya dini hari ini. Seandainya Kanya tidak sakit, Bian ingin marah karena pagi-pagi istrinya itu sudah menyebut nama lelaki lain meskipun itu sahabat istrinya sendiri.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung.....


__ADS_2