(Im)perfect Couple

(Im)perfect Couple
Bab 35


__ADS_3

Berita Bahagia


Bian mondar-mandir didepan kamar mandi. Kenapa perasaan begitu tegang. Bahkan ini jauh lebih menegangkan daripada namanya disebut saat pembacaan nominasi di berbagai penghargaan.


Apa karena ini adalah hadiah dari yang Maha Kuasa. Tentu itu adalah hadiah paling berharga di dunia. Bian masih *******-***** tangannya tak pernah segugup ini.


Kenapa Kanya begitu lama? istrinya hanya melakukan test kan? Bian memegang handle pintu kamar mandi rasanya ingin menyusul Kanya saja ke dalam kamar mandi. Tapi bersabar untuk hal besar pasti hasilnya baik.


Sepulang dari kantor semalam, Bian menepati janjinya menemani Kanya ke apotek untuk membeli alat tes kehamilan.


Meskipun Kanya sudah tak sabar untuk segera melakukan uji malam itu juga. Bian mencoba menyakinkan Kanya agar melakukan test setelah bangun tidur sesuai petunjuk pemakaian.


Pintu kamar mandi terbuka memecah ketegangan Bian. Ia melihat istrinya keluar dengan wajah sedikit menunduk murung.


Apa hasilnya tak sesuai dengan apa yang diharapkannya dan Kanya?


"Kay, semuanya baik-baik saja kan?" Bian memegangi kedua pundak Kanya cemas.


Masih tak memandang wajah Bian, Kanya dengan lemas menyerahkan hasil tes kehamilan pada suaminya.


Bian sudah pasrah. Apa yang terjadi itu sudah menjadi rencana yang Maha Kuasa.


Bian sedikit cemas meraih hasil test yang disodorkan istrinya. Pria itu melihat uji strip yang menunjukkan tanda dua garis merah.


Seketika matanya melihat ke arah sang istri.


"Aku hamil Mas, Kita akan jadi orang tua." Kanya kali ini menampakkan wajah bahagia dengan senyum yang lebar. Ternyata memberi sedikit kejutan untuk seorang Bian panik sangat menyenangkan. Rencana Kanya berhasil membuat suaminya harap-harap cemas.


Bian langsung meraih tubuh Kanya. Pria itu mendekap erat tubuh istrinya. Diangkatlah tubuh istrinya seperti tropi untuk meluapkan rasa bahagia yang tak bisa diungkap Bian.


"Mas akan jadi ayah Kay." Bian menurunkan istrinya dengan tangan yang masih merengkuh pinggang ramping Kanya.


Kanya mengangguk semangat, "Selamat ya mas, Mas akan jadi ayah dan aku akan jadi ibu."


Bian mencium kening Kanya lama.


Kanya mendongak melihat wajah bahagia suaminya. Rasanya lengkap sudah kebagian Kanya. Mendapat hati Abian, sebentar lagi juga akan menjadi seorang ibu. Ia jadi tak sabar membagikan kabar bahagia ini kepada keluarga dan sahabatnya.


"Mas hanya mau, kamu banyak istirahat Sayang." Bian mengajak istrinya duduk ditepi ranjang.


"Tapi kayaknya aku nggak seperti orang hamil kebanyakan deh Mas yang mengalami morning sickness. Mungkin aku masih bisa beraktivitas seperti biasa," ucap Kanya.


Bian memasang wajah galak. "Ini anak pertama kita Sayang. Mas hanya mau kamu fokus pada kehamilan kamu."


"Tapi sekedar pergi ke butik boleh kan Mas," protes Kanya. Ia masih punya tanggung jawab untuk online shop tokonya dan beberapa endrose.


"Hmmmm," Bian terlihat berpikir.

__ADS_1


"Janji bakal hati-hati, jaga diri dengan baik." Kanya menampakan wajah melas.


"Ya Boleh, asal kamu jangan terlalu lelah," ucap Bian mencubit hidung Kanya pasrah. Ia tentu tak bisa terlalu mengekang istrinya. Bian sangat yakin Kanya bisa menjaga calon buah hatinya dengan baik.


.


.


.


.


.


Liliana buru-buru mendatangi meja cafe dekat balkon. Meja itu sudah menjadi basecamp para sahabat-sahabatnya member foursquad.


Kanya dan Raisa memang sengaja memilih untuk makan siang di resto sahabatnya. Ia tentu ingin membagi kebahagiaan dengan para sahabatnya itu.


Liliana langsung berhambur memeluk Kanya ketika melihat dua sahabatnya.


"Gue ke balap." Liliana memeluk Kanya erat seolah ikut terbius kebahagiaan sahabatnya.


"Alhamdulillah banget Li, gue juga senang banget dapat amanah rezeki ini." Kanya membalas memeluk sahabatnya itu.


"Kanya, diam-diam langsung nyerobot kita Li," sela Raisa.


Kanya memang tak menyangka bisa terlebih dulu hamil di bandingkan sahabat-sahabatnya. Raisa sudah menikah hampir satu tahun lebih tapi belum juga di karuniai buah hati. Padahal Raisa dan suaminya adalah pasangan terbucin dari geng ini. Hubungan pernikahan mereka juga normal seperti pada umumnya yang di awali dengan pacaran.


Liliana juga, ia sudah hampir setahun menjalani kehidupan rumah tangga. Meskipun ia sibuk dengan bisnis cafe dan karirnya sebagai notaris. Ia masih tetap terlihat sangat harmonis dengan suaminya. Mereka hampir dibilang pasangan sempurna, tapi satu kekurangan dari pasangan ini. Mereka juga belum di karuniai buah hati sampai saat ini.


Itulah rejeki yang di berikan kepada hambanya berbeda-beda. Kanya menikah dengan Bian penuh dengan dilema. Banyak yang tak menyukai pernikahannya, bahkan sampai detik ini saja masih ada haters yang sering nyinyir tak terima. Tapi siapa yang duga. Kanya malah mendapat amanah terlebih dulu, hanya hitungan bulan ia sudah di anugerahi calon buah hati bersama suaminya. Tentu Kanya sangat bersyukur, dengan hadirnya anak kelak akan semakin menguatkan hubungan dengan Bian.


"Kay, Lo tuh paling jarang cerita masalah keintiman, tapi langsung lancar," goda Liliana.


"Ya dong, itu kan rahasia perusahaan," balas Kanya mengulurkan lidah.


"Bagi ilmu dong Kay," goda Raisa juga.


"Jangan lupa baca doa aja," canda Kanya.


"Udah-udah, nanti kita sering-sering dekat ibu hamil biar ketularan." Raisa memeluk lengan Kanya.


"Pantesan ya, kemarin tuh gue kepengen banget mie ceplok buatan Galang pagi-pagi."


"Jadi Lo, kerumah Galang pagi-pagi sama Bian," balas Liliana.


Kanya mengangguk polos. Kedua wanita di depan Kanya tertawa terbahak.

__ADS_1


"Gue bayangin pasti lucu banget mukanya Galang," seru Raisa memegang perutnya yang sakit karena tertawa.


" Udah, Kita foto dulu aja yuk," Liliana mengeluarkan ponsel dari tasnya.


"Personal kita kurang satu," seru Raisa.


"Nanti nyusul," balas Liliana.


Liliana memanggil salah satu karyawan cafenya untuk membantu mengambil gambar. Liliana mengambil kembali ponselnya. Melihat hasil gambar foto bertiganya.


"Ini bagus nggak gue posting di Ig." Liliana menyerahkan ponsel pada Kanya dan Raisa.


"Oke," sahut Raisa setelah melihat gambarnya.


Liliana memposting gambar yang disetujui sahabatnya. Lili kembali menatap ponselnya melihat halaman iklan melintas di aplikasi. Ia urung keluar dari aplikasi karena iklan yang mencuri perhatiannya.


Apa mungkin? Liliana melihat Kanya. Apa sahabat itu sudah tahu? Kenapa ia nampak begitu tenang?


Jika ia memberitahu sahabatnya, apa ini akan merusak hari bahagia ini? Tapi Kanya harus tahu. Ini sangat berhubungan dengan aplikasi sobatpintar.


"Kay," panggil Lili. Kanya menoleh ke arah sahabatnya itu.


"Lo udah tahu ini," Lili menyerahkan ponselnya pada Kanya.


Mata Kanya membulat melihat laman ponsel Lili.


"Ini nggak mungkin Li," seru Kanya tak percaya.


"Gue juga kaget Kay, rasanya nggak mungkin kan," balas Liliana.


Kanya membaca lagi memastikan apa yang baru saja di lihatnya.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung........


__ADS_2