
Sertifikat Permanen
Kanya masih sabar menunggu Bian keluar dari kamar mandi. Padahal ia sudah menyiapkan banyak pertanyaan. Tapi ketika sedang berdua seperti ini Kanya justru malah bisu dan tak siap memberikan pertanyaan untuk suaminya. Ia lebih memilih berputar-putar menanyakan hal-hal yang tidak penting. Kanya hanya belum siap jika jawaban yang diberikan Bian tak sesuai harapannya.
"Kay," tegur Bian yang melihat Kanya melamun di sofa.
Kanya bergeser memberi tempat di sebelahnya untuk Bian. Kanya meraih tangan Bian, menyatukan jari-jarinya di sela jari Bian. Dipandanginya wajah suaminya, Kanya yakin suaminya juga merasa heran melihat ke arah Kanya. Entah kenapa hari ini Kanya hanya ingin berdekatan dengan Bian. Bermanja dengan suaminya meskipun Kanya belum memastikan kebenaran rasa cinta yang sempat Bian ungkapan beberapa jam lalu.
"Ternyata tangan kamu kecil banget ya Kay," ucap Bian mengangkat tautan tangannya di depan Kanya.
"Tapi jari aku lebih besar loh daripada Mas Bian," bela Kanya membalik-balikan tangannya. Meskipun keduanya sudah seperti layaknya suami-istri yang kasmaran, tapi sejak tadi hanya membicarakan hal-hal yang tidak manfaat seperti tadi.
"Mas," Kanya memberanikan diri menatap Bian.
"Hmmm," balas Bian berbalik juga fokus memandang Kanya.
"Yang tadi Mas bilang itu bener?" tanya Kanya sembari mengigit bibir bawahnya.
"Yang mana Kay, yang jelas ngomongnya?" balas Bian.
Kanya memanyunkan bibirnya sedikit. Baru beberapa jam lalu, tuh kan udah lupa! batin Kanya.
"Yang tadi Mas bilang sebelum Galang pergi!" Kanya memperjelas kalimat sekarang.
"Oh, itu. Menurut kamu gimana?" balas Bian.
"Kan aku yang tanya, kenapa Mas nanya balik?" Kanya mengambil bantal memukul ringan bahu Bian.
Bian meraih kedua tangan, "Kay, apa sikap yang aku tunjukkan ke kamu, belum menjawab bagaimana perasaan aku."
"Tapi kalau Mas Bian nggak bilang, bagaimana aku bisa tahu Mas." Kanya masih kekeh bahwa cinta itu harus butuh pengakuan.
Bian tertawa kecil, "Kay, aku mungkin bukan tipe suami romantis yang suka mengumbar cinta yang ada di novel kamu. Kita harus realitas."
"Tapi Mas, aku nggak akan bisa yakin. Sekarang Mas harus ulangi lagi hanya di depan aku," balas Kanya kekeh. Apa susahnya bilang aku cinta kamu?
"Sini tangan Kamu," Bian meraih satu tangan Kanya. Ia mengambil bolpoin dari sakunya yang selalu di bawa kemana-mana.
"Mas aku butuh pengakuan cinta, bukan skor ujian lagi?" seru Kanya melihat suaminya yang menulis di telapak tangannya.
Bian menunjuk telapak tangan Kanya yang dicoret-coret oleh Bian.
...PERMANENT Certified...
...Abian always love Kanya...
...Regard,...
__ADS_1
...Abian Askara putra...
Kanya tersenyum malu menyimpan tangannya. Pengakuan cinta yang tak biasa, tapi menjadi hal yang luar biasa untuk Kanya. Jika saja ia ingin iseng meng-upload di sosial media, netizen sudah dipastikan akan kejang-kejang melihat sertifikat ini.
"Boleh tanya lagi Mas?" seru Kanya.
Bian memegangi pipi Kanya gemas, "Baru tahu ternyata istriku ini banyak bertanya."
Kanya tersenyum malu, bahagianya kali ini seperti di lempar di kubangan bunga Cherry blossom yang mekar.
"Sejak kapan Mas cinta sama aku?"
Bian mengerutkan kedua alisnya menatap Kanya. Kanya bisa melihat wajah CEO sobatpintar yang punya public speaking yang bagus, berwibawa di depan banyak orang, wajahnya menjadi memerah padam salah tingkah.
"Yang pasti aku menikahimu karena memang aku menginginkan kamu menjadi bagian dari hidupku," ucap Bian lantang.
Kanya melongo seketika, benarkah itu? Jadi Bian benar-benar menikahinya karena memang menginginkannya, menginginkan seorang Kanya yang dodol? Kanya bahkan sempat mengira Bian mulai jatuh cinta padanya setelah melewati malam pertama itu. Biasanya orang akan jatuh cinta setelah merasakan penyatukan jiwa dan raga kan?
Tapi ternyata tidak! Bian mencintainya sebelum mereka menikah. Perasaan Kanya bercampur aduk antara senang, ragu, terpana. Tapi ....
"Mas, Kanya boleh tanya lagi?" Kanya masih punya ganjalan di kepalanya.
"Apalagi?"
"Kenapa waktu pidato penerima penghargaan pak menteri. Mas tidak menyebutkan aku sana sekali, malah Mas Bian mengajak Gareta naik ke atas panggung," ungkap Kanya.
"Masa sih," bantah Kanya.
"Lagi pula, Gareta dan Rehan itu partner aku dari awal, jadi wajar aku ajak mereka terima penghargaan bersama-sama," terang Bian. "Kamu masih ingat saat datang ke kantor dan membawa makan siang?"
Kanya mengangguk dan tak mungkin melupakan saat paling bahagia ia mendapat ujian pertama dari Bian.
"Saat itu aku mulai merasa terbiasa bahwa kamu sudah bisa memposisikan diri sebagai istriku Kay."
Kanya hanya mengangguk malu, bagaimana bisa ia menjurus ke arah kejadian yang sudah berminggu-minggu lalu. Tapi kali ini ia sudah lega mendapat jawaban tanpa perlu berpersepsi sendiri dengan pikirannya.
"Jadi itu masalahnya kamu nggak negur aku beberapa hari waktu itu," lanjut Bian.
Kanya mengiyakan, mungkin itu salah satunya. Kanya masih punya beberapa pertanyaan lagi.
"Boleh tanya lagi Mas,"
"Katanya satu pertanyaan lagi," goda Bian.
"Kali ini aku juga perlu tanya Bian," rengek Kanya.
"Apa?"
__ADS_1
"Maaf sebelumnya Mas, aku sama sekali nggak bermaksud menguping. Tapi, tak sengaja terdengar saat aku lewat."
Bian masih dengan tenang menyimak pertanyaan Kanya.
"Kalau memang Mas cinta sama aku, kenapa Mas hanya diam saat Bunda tanya apa mas terpaksa menikahiku."
Bian terdiam sejenak, mencoba mengingat saat yang di maksud oleh istrinya. Sekarang pria itu tahu kenapa beberapa waktu lalu sikap istrinya berubah tak banyak bicara dengannya.
"Aku diam karena aku merasa kamu yang terpaksa menjalani pernikahan ini Kay?"
"Hah!" Mata Kanya membulat sempurna. Bagaimana ceritanya Bian berpikir bahwa Kanya yang keberatan dengan pernikahannya.
"Saat aku datang meminang kamu. Kamu cuma diam, menunduk, murung. Aku langsung teringat Sassy, dia begitu keras menolak perjodohannya. Aku pun berpikir kamu juga pasti merasakan beban seberat yang dirasakan Sassy. Terlebih selama awal kita menikah kamu tak pernah memberi ruang untuk dekat dengan kamu. Jadi supaya kamu merasa nyaman, aku selalu ikuti keinginan kamu. Kamu diam aku juga diam. Kamu tidur membelakangi aku pun juga melakukan hal yang sama."
Kanya menutup mulutnya tak percaya. Benar! Kanya murung saat acara lamaran karena ia yakin Bian menikahinya hanya karena tak punya pilihan lain. Bahkan saat itu hubungan kedekatan Bian dan Gareta sempat gencar di media-media online. Kemurungan itu berlanjut di acara pernikahan karena Kanya merasa sebentar lagi akan menjalani pernikahan yang hanya diinginkan satu pihak.
Selama ini Kanya selalu merasa tak pernah pantas untuk Bian dan mengokohkan hatinya tebal-tebal jika kemungkinan buruk terjadi. Tapi kenyataannya! Bian malah berpikir sebaliknya. Andai Kanya bisa melihat sisi lain kebaikan Bian tanpa perlu memutar ke masa lalu suaminya. Mungkin ia sudah menyadari rasa cinta Bian.
Itulah pentingnya keterbukan antara suami dan istri, jadi tak ada kesalahpahaman yang berlarut seperti sekarang.
Tapi Bian tidak mengatakan kapan pastinya ia mulai jatuh cinta dengannya. Berarti bisa saja Bian memang sempat menjalin hubungan dengan Gareta? Tak ada salahnya jika Kanya juga menanyakan hal itu juga.
"Mas, pertanyaan terakhir."
Bian tertawa kecil melihat Kanya, "Apa lagi, sekarang kamu yang jadi guru ya, banyak sekali pertanyaannya."
Kanya hanya sekedar ingin tahu cerita masa lalu suaminya dan Gareta. Ia sudah siap dengan apapun jawaban Bian, Toh sekarang hati Bian hanya untuk Kanya kan.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Bersambung......
__ADS_1