
Kanya POV
Aku memilih keluar dari gedung auditorium setelah acara inti selesai. Kehamilan ini membuatku sedikit pusing mendengar musik-musik keras untuk acara hiburan di dalam sana. Aku memutuskan ke cafe outdoor yang ada di sebelah audiotarium.
Menikmati kopi sambil ditemani cuaca malam tenang sepertinya cukup menenangkan isi perutku. Mungkin tak lama mungkin lagi Mas Bian juga akan keluar dari gedung setelah acara selesai.
Aku duduk di barisan dekat taman agar bisa leluasa melihat langit yang dipenuhi gemerlap bintang malam ini. Tepat di depanku ada layar televisi yang masih menayangkan acara ruangsiswa.
Mereka juga begitu berusaha keras menarik pengguna baru. Tapi mataku justru terfokus pada sosok wanita yang memakai kaos hitam berlogo ruangsiswa dengan rok merah. Pakaian yang sama seperti saat aku bertemu dengannya di Mall.
Aku tersenyum sendiri sedikit geli, dulu aku pikir Gareta akan masuk dalam kisah rumah tanggaku. Nyatanya ada penghalang seperti tembok yang tak pernah memberikan celah wanita itu masuk dalam kisah rumah tanggaku walaupun hanya satu episode.
Tembok penghalang itu adalah rasa cinta yang besar dari Mas Bian. Mas Bian bahkan seperti mata-mata yang tahu apapun yang kulakukan saat SMA. Kenapa aku jadi semakin yakin bahwa dia tak pernah merajut asmara dengan siapapun sebelum menikah denganku. Ia begitu malu-malu hanya menyebutkan namaku.
"Kamu disini ternyata!" suara yang sangat ku kenal membuyar lamunan indahku.
"Sudah selesai acara?" tanyaku. Mas Bian kini berdiri dihadapanku
"Mungkin sebentar lagi, Mas kepikiran kamu?" ucapnya lagi kini duduk di sebelahku.
"Kanya nggak yakin anak kita tahan dengan musik keras di dalam sana?" jawabku.
Mas Bian pun mengangguk mengerti. Mas Bian memang tak seposesif CEO karanganku di novel. Melarang istrinya melakukan apapun menjadikannya seperti ratu.
Tapi Mas Bian malah memberiku banyak kesempatan untuk belajar. Belajar menumbuhkan rasa percaya diri ku. Disaat dulu keluargaku selalu memanjakan ku tanpa pernah memberikan kesempatan padaku untuk belajar. Mas Bian justru menyuruhku untuk tetap memasak agar aku bisa terus belajar dan berbenah. Hal kecil yang membuat justru aku semakin percaya diri.
"Mas?" Mas Bian langsung menoleh ke arahku.
"Mas Bian mata-matai aku ya, kenapa tahu aku masuk ke dalam selokan waktu itu, kenapa Mas Bian nggak ikut bantuin aku," tanyaku.
Mas Bian hanya tersenyum menatapku. "Kita satu sekolah. Kita pasti akan ketemu setiap waktu," jawab Mas Bian yang tak sesuai harapanku. Suamiku adalah pria realitas yang berbicara sesuai apa yang di lihatnya tanpa bumbu pemanis.
"Gimana aku mau bantuin kamu. Kamu sudah naik ke atas Kay," sambungnya lagi santai.
Ya, mungkin waktu itu takdir masih belum mempertemukan kita. Mas Bian belum di izinkan untuk masuk dalam kisah hidupku. Setelah bertahun-tahun akhirnya takdir yang menyatukan kita dengan pernikahan. Makanya aku sampai berpikir akan memberi judul pada kisahku. Istri kontrak CEO yang mempunyai wanita impian atau lebih cocok. Bukan istri impian sang CEO.
Aku mengelengkan kepala lagi, bahkan kesalahan terbesar dalam hidupku adalah aku sampai berpikir bahwa Gareta adalah wanita impian Mas Bian dan aku hanyalah wanita yang akan menjadi istri kontraknya. Ada saat aku adu jambak Gareta karena ketahuan merebut suamiku. Melewati bahtera rumah tangga yang penuh konflik lalu pada akhirnya aku pergi dari rumah dan Mas Bian mengejar ku ditengah hujan badai karena penyesalan.
Ya ampun! cerita klise seperti itu hanya ada dalam novel karanganku.
Mas Bian lelaki realitis. Ia memilih pasangan yang benar-benar ia cintai. Pipiku merona merah lagi mengingat kejadian di audiotarium. Jika saat itu Mas Bian tidak mengajakku sebagai istrinya untuk menerima penghargaan. Dengan dalih masih canggung menganggapku istri. Tapi tidak dengan malam ini, Dengan caranya sendiri Mas Bian seolah membuka mata semua orang bahwa hanya akulah istri yang di cintainya.
"Kenapa?" tanya Mas Bian. Aku menggeleng malu, tentu tak mungkin aku menceritakan apa yang ada dalam isi kepalaku kan.
"Aku mau lihat apa yang trending di Twitter, Instagram dan YouTube." Ku raih ponsel segara. Tak sabar membuka tiga aplikasi itu.
Trending Topic
#(Im)PerfectCoupleAbianKanya
100rb tweet
Aku menutup mulut tercengang. Sungguh sangat tak bisa di percaya. Bagaimana bisa tagar ini bisa menggeser festival pelajar sobatpintar. Tadi sebelumnya aku sempat melihat festival sobatpintar menempati posisi teratas. Aku tahu siapa dalang di balik tagar ini. Pasti mereka bertiga.
"Bagaimana?" tanya Mas Bian seperti ikut penasaran.
Aku menyerahkan ponsel pada Mas Bian. Mas Bian juga nampak kaget.
"Kenapa jadi tagar ini yang trending Kay," senyum lenyap dari wajah Mas Bian berubah menjadi keheranan.
__ADS_1
"Mas Bian nggak suka nama kita ada deretan teratas?" jawab sedikit kesal sih.
"Bukan begitu,"
"Netizen paling cepat heboh dengan berita beginian Mas."
"Kalau kita yang ramai di perbincangkan. Festival pelajar sobatpintar akan tenggelam. Kasian team yang sudah berusaha keras untuk menaikkan acara ini."
Aku meraih ponselku lagi, "Lihat Mas, festival pelajar sobatpintar masih ada di urutan ke tiga sampai ke bawah. Mas nggak perlu khawatir."
Aku bisa lihat Mas Bian mengusap kepalanya. "Kay, jangan bilang berita tentang kita besok akan memenuhi portal berita online. Aku tahu Sendiri bahagia cepatnya media online mengangkat berita tranding."
Aku malah tertawa. "Ya mau bagaimana lagi," sanggahku. "Mas harus senang orang-orang akan semakin kenal Mas sebagai pendiri sobatpintar yang terinspirasi dari kisah istri yang sangat dicintainya. Dengan begitu suami-suamu di luar sana akan lebih menghargai istrinya."
Mas Bian menunduk menahan senyum, tangannya meraih jemariku untuk di tautkan.
Aku jadi penasaran, apa kabar warga Instagram yang hobi memaki-makiku.
Wow! Benar saja halaman berandaku di isi dengan berita online yang begitu cepat menyebar mengalahkan mulut tetangga.
Posting Raisa dengan salah satu video Mas Bian menunjuk aku di layar membuat aku ingin mampir melihat komentar netizen.
raisaputri02. Gue orang yang paling bangga jadi sahabat gadis manis itu. Gue tahu mereka bukan pasangan sempurna. Tapi setelah sekian tahun mereka di satukan untuk saling menyempurnakan. Cinta yang sempurna adalah menikah. Love You @Kanyamentari_ @abianaskara
#(Im)PerfectCoupleAbianKanya
#FestivalPelajarSobatPintar
#trueloveAbianKanya
#Sobatbucin
disukai Liliana21 dan 2356 lainnya.
2345 komentar
Larissa23 Gue pikir suara berisik yang numbangkan pohon tetangga itu guntur. Tenyata itu jeritan hati gueπ.
Aku tak mau melanjutkan komentar sebelum tawaku lepas. Sepertinya itu Netizen yang juga biasa komentar di feedku.
"Tuh kan benar ulah mereka,"
Mas Bian ikut mendekat melihat ponselku, aku rasa ia juga penasaran kali ini.
"My God," serunya saat aku mengscrol laman berita online.
"Mas, apa mungkin besok berita-berita infotainment juga akan memberitakan kita." Seruku. "Atau jangan-jangan kita juga akan di undang ke acara talk show di televisi." Aku menutup mulut membayangkan bagaimana nanti aku di undang ke acara televisi.
"Mas mungkin nolak," seru Mas Bian mengusap wajahnya.
Aku hanya tertawa geli. Sudah ku menduga, lelaki seperti Mas Bian pasti tak akan mau tampil di layar kaca dengan acara berasupan gosip seperti itu.
"Mas," aku mengeratkan genggaman tanganku. "Aku sangat yakin semua orang kali ini lebih mengagumi Mas Bian. Mas mendirikan aplikasi ini bukan demi keuntungan semata. Tapi juga karena kepedulian Mas Bian pada anak-anak yang kehilangan kesempatan untuk maju dan kehilangan kepercayaan dirinya."
Aku melihat senyum terbit di wajah suamiku. Mas Bian berdiri.
"Kita kesana yuk Kay, seru sepertinya melihat bintang di antara gedung-gedung tinggi."
Ia mengandengku menuju balkon cafe yang menghadap langsung ke arah gedung-gedung tinggi yang memancarkan warna-warni cahaya.
Untung rootroof cafe ini sepi. Meskipun rame orang sudah tahu aku dan Mas Bian pasangan yang sudah menikah.
Aku mendekatkan wajah hingga tak berjarak dengan Mas Bian! Aku mencium pipi Mas Bian, sejak tadi aku ingin melakukan. Mas Bian tersenyum ke arahku.
__ADS_1
"Itu hadiah Mas Bian sudah bekerja keras untuk malam ini."
"Itu saja?" Mas Bian menggodaku.
Aku memukul lengannya. "Memang Mas Mau apa!"
Mas Bian tertawa pelan kali ini. Karena aku bisa mendengar suara ditelingaku.
"Terimakasih Mas karena menjadi suamiku. Aku memang nggak sempurna. Tapi aku akan selalu menjadi sempurna untuk suami dan anak-anakku nanti,"
Mas Bian memegangi pipiku dengan lembut. "Kamu selalu sempurna untukku sejak dulu Kay," balasnya.
Pandangannya kembali menatap gedung dan juta-an bintang di langit yang indah malam ini. Aku pun mengikuti arah tangannya yang menunjuk nama-nama rasi bintang.
Dulu aku pikir, romantis itu seperti dalam kisah novel karanganku.
Memberi sebuket bunga setiap hari.
Mengajak makan malam dengan lilin yang menyala.
Mengendongku dengan bridal style menuju ranjang.
atau mungkin memelukku dari belakang ketika masak.
Tidak!
Suamiku tak pernah melakukan semua itu! Tapi bagiku saat bersamanya semua jadi romantis. Hal sederhana yang aku lakukan dengannya selalu menumbuhkan bunga-bunga cerry blossom dihatiku.
"Mas, apa nggak ada panggilan Sayang khusus untuk aku," seruku disela acara kita memandangi gedung.
"Ehmm, aku lebih suka panggil kamu Kanya."
Aku melengos kesal, kadang seperti itulah suamiku. Kadang bersikap manis tak jarang juga bersikap asin.
Tinggal bagaimana kita menaburi gula itu sendiri agar menjadi manis.
Dengan apa?
Dengan mengerti pasanganmu, menerima kekurangan dan menciptakan kebahagiaan bersamanya.
Kebahagiaan dengan cara kita. Sederhana dan apa adanya.
.
.
.
.
.
.
.
.
Bersambung........
Ini episode terpanjang di cerita iniπ₯Ί
Tunggu kelanjutan kisah Mas Bian dan Kanya yang mungkin tinggal beberapa episode lagi....
__ADS_1
Terimakasih reader tersayangku big love selalu ππππ
Einaz