
Berkumpul keluarga
Bisa di bilang tujuan Kanya dan Bian sudah tercapai di acara festival pelajar sobatpintar untuk penyambutan tahun ajaran baru. Ide sang isteri sukses besar. Acara festival pelajar sobatpintar menjadi topik bahasan di portal online. Bukan sebagai bimbel online nomor satu seperti kompetitornya tapi sebagai bimbel online yang di bentuk karena bentuk kepedulian pada anak yang kehilangan kepercayaan dirinya. Hal itu tedengar lebih menyentuh di mata pelajar.
Pengguna baru untuk tahun ajaran ini meningkat. Meskipun tak lepas dari bumbu kisah Kanya dan Bian yang malah menjadi trending topik dan akhirnya viral di media sosial.
Seperti dugaannya, Kanya dan Bian langsung mendapat tawaran untuk hadir di acara talk show di televisi. Para influencer juga gencar untuk mengajaknya menjadi tamu di channel YouTube mereka.
Dengan alasannya kehamilan Kanya, Bian menolak sebagian tawaran. Ia tak ingin istrinya itu terlalu sibuk mengingat usia kehamilannya masih muda.
Bian lebih memilih fokus pada aplikasinya untuk mengembangkan fitur - fitur terbaru untuk tahun ajaran baru.
"Mas, keluarga kita sudah datang." Kanya menegur suaminya yang masih sibuk dengan laptop padahal ini acara kumpul keluarga sekaligus syukuran untuk kehamilan Kanya.
"Ya Sayang sebentar, Mas buka pesan Muller, tutor baru yang akan mengajar bahasa Jerman. Saat ini disana pagi hari jadi Mas usahakan balas pesannya."
Kanya mengelengkan kepalanya. Sebagai CEO sobatpintar suaminya memang langsung mengerjakan semua sendiri sebelum di lempar ke tim. Kanya sudah paham sekarang bahwa tak ada CEO seenaknya seperti di novelnya, yang rela meninggalkan rapat penting hanya karena istrinya ngidam dipanjatkan pohon Mangga tetangga. Tidak ada!
Suaminya selalu saja sibuk, terlebih setelah launching fitur baru sobatpintar bimbel bahasa asing yang langsung di mentori guru dari negaranya.
"Masih lama?"
"Udah kok. Ya, ayo." Bian menutup laptopnya. Ia berdiri mengandeng tangan sang istri.
Di ruang tamu Kanya sengaja mengeluarkan perabot agar rumahnya terlihat luas. Keluarganya dan Bian sudah berkumpul di ruangan itu. Juga para sahabat- sahabatnya.
Kanya mengambil tempat di antara ibu dan mertuanya. Sedangkan Bian di bagian tamu laki-laki dengan ayah dan juga mertuanya.
"Ssst, bumil. Bumil! Hadap sini sebentar," tukang foto mana yang berani memanggil seperti itu kalau bukan Galang.
Kanya memonyongkan mulutnya kearah Galang.
"Senyum biar cantik sedikit!" Pria itu mengarahkan kamera ke arah Kanya.
Ustadz sudah mulai membuka acara pengajian. Semuanya dengan hikmat mengikut rangkaian acara demi acara. Kanya begitu senang kedua keluarganya berkumpul. Keduanya keluarga juga begitu bahagia dengan kedatangan calon anggota baru keluarga.
Kanya memegangi perutnya. Ia semakin tersentuh dengan ceramah ustad yang membahas masalah pentingnya menjadi seorang ibu. Tugasnya sebentar lagi akan bertambah.
"Sorry Kay, aku telat," seru seseorang menghampiri Kanya yang sedang mengambil kudapan setelah acara pengajian ustad selesai.
"Sasy," Kanya berinisiatif memeluk adik iparnya lebih dulu. Tak ada penolakan seperti biasanya. Justru wanita itu memeluknya.
__ADS_1
Sasy sedang menyelesaikan urusan tugas akhir di Jogyakarta. Saat acara keluarga seperti ini tak mungkin ia bisa datang tepat waktu.
"Kay, kita duduk di situ," Sasy menunju kursi taman kosong yang ada disebelahnya.
Kanya mengangguk mengikut langkah Sasy. Kanya dan Sasy bukan tergolong saudara ipar yang akrab sebelumnya. Tapi setelah kehamilannya, Kanya menyadari perubahan sikap Sasy padanya. Bahkan ia sering menanyakan kabar meskipun sebelumnya tidak pernah sama sekali.
"Selamat ya Kay, aku nggak sabar sebentar lagi punya keponakan." Sasy memegang perut Kanya yang mulai membuncit.
"Terimakasih Sasy," ucap Kanya mencoba akrab.
"Maaf ya Kay, aku sudah salah sangka sama kamu."
"Salah sangka?" Kanya tak pernah berpikir buruk tentang Sasy walaupun wanita selalu bersikap angkuh padanya.
Sasy mengangguk, "Aku pikir kamulah perusak hubungan Kak Bian dengan Gareta. Tapi tenyata justru aku sendiri yang tak bisa memahami Kakakku. Kamu ternyata Wanita impian Kak Bian, dan wanita itu justru membuat hal menyakiti dan merugikan kakakku. Kak Bian tidak salah pilih, tak semuanya yang terlihat baik diluar itu baik juga. Justru kamu yang bisa meluluhkan hati Kak Bian dengan ketulusan dan kebaikan kamu."
Kanya menggenggam tangan Sasy, "Setiap orang punya cara sendiri untuk menjadikan dirinya hebat."
"Dan kamu hebat dengan cara yang lebih menyentuh," balas Sasy.
"Kamu juga hebat Sasy. Oh ya, bagaimana skripsimu?"
"Mungkin sebentar lagi sidang akhir dan kamu tahu setelah itu aku harus bagaimana?" ucap Sasy malas sambil menusuk puding di piringnya.
"Sasy, apa boleh aku kasih saran?" seru Kanya. Ia tak tahu Sasy akan suka atau tidak dengan sarannya ini. Yang Kanya tahu, Sasy hanya menerima masukan dari orang yang dipercaya dan di anggapnya kompeten.
Sasy mengangguk.
"Kenapa kamu nggak coba lebih dekat dengan pria itu. Siapa tahu dengan kalian saling dekat hubungan kedepannya akan baik."
"Aku sama sekali nggak tertarik Kay, Aku punya kriteria sendiri untuk teman hidupku," balas Sasy lugas.
Seseorang memang tak boleh dipaksakan untuk menyukai apa yang tak sukai. Kanya sempat merasakan bagaimana rasanya menjadi asing untuk orang yang dicintainya sebelum tahu cinta yang besar dari suaminya.
Sassy menggenggam tangan Kanya. "Aku hanya takut nasibku tak seberuntung kamu Kay. Kak Bian menerima perjodohan ini karena memang menginginkan kamu. Bagaimana jika nanti orang itu juga sama terpaksanya dengan aku. Pasti hubungan pernikahan kita hanyalah kedok untuk membahagiakan orang tua."
Kanya sangat mengerti perasaan Sasy meskipun adik iparnya itu memiliki sikap keras. Dia pun berpikir yang sama dengan adik iparnya kala itu. Bedanya dia tak terpaksa menerima Bian, Kanya memang ingin bersama Bian meskipun ia harus membuat daun telinganya menjadi lebih tebal. Kanya hanya tak menyangka wanita yang cantik, pintar, anggun seperti Sasy juga punya pemikiran akan di telantarkan calon suaminya.
"Apapun keputusan kamu, pastikan itu yang terbaik."
"Terima kasih Kay, Aku temui Kak Bian dulu."
__ADS_1
Kanya mengangguk. Sassy berdiri, tapi sejenak langkah terhenti ketika menyadari ia terlalu buru-buru dan membuat seseorang menjatuhkan jelas hingga pecah ke lantai.
"Sorry, aku jalan terlalu cepat," ucap Sassy pada pria yang sedang memungut pecahan gelas di lantai.
"Nggak apa-apa gue yang salah jalan terlalu lambat, sudah aturan wanita selalu benar," ucap pria gondrong itu berdiri usai memunggut pecah.
Sasy menyungingkan senyum, melihat sejenak orang tak sengaja ia tabrak. Siapa ya? perasaan ia tak mengenal pria dengan rambut di ikat ini dari silsilah keluarganya.
"Sorry sekali lagi, kamu jadi basah," ucap Sasy merasa tak enak.
"Galang,"
"Hah," Sasy seketika mengerjapkan mata bertanya-tanya.
"Nama gue Galang," seru pria itu lagi.
"Hoh," Mata Sasy kini memperhatikan pria di depannya dari kepala turun ke kemeja yang terbuka dengan kaos hitam didalamnya. Style yang sangat santai
"Tapi kalau kalau mau panggil Sayang gue nggak larang," ucap pria itu langsung membuat Maya Sasy melotot.
"Sasy!" suara teriakan yang memanggil namanya. Memecah fokus keduanya.
Bian melambaikan tangan dari dalam rumah memanggil Sasy. Ia pun berlalu meninggalkan pria yang sukses membuat senyum itu.
.
.
.
.
.
.
Bersambung,........
Assalamualaikum
Ei balik setelah libur,
__ADS_1
Sorry baru bisa up lagi.
terimakasih dear Masih nunggu Kisah Mas Bian dan Kanya.......