
Berbagi
Ternyata cukup lama untuk menempuh jarak perkampungan di pinggiran ibukota. Kanya menyusul Bian yang lebih dulu turun untuk menemui Rehan dan kru sobatpintar.
"Tenyata diikuti Bini," sindir Rehan melihat kedatangan Kanya.
"Ya Kak Rehan, nggak bisa jauhan kayaknya," balas Kanya.
"Ya Allah, turunkan lah jodoh hamba," balas Rehan.
Kanya tertawa. "Amin Kak Rehan,"
"Udah-udah Re, kita meski nelusuri gang," Bian langsung menepuk pundak Rehan mulai berjalan.
Kanya mengekor berusaha membututi suaminya yang langkah kakinya begitu lebar didepan. Kanya melayangkan tangannya hingga menyentuh tangan Bian. Berharap tangannya segera diraih Bian malah terus melangkah menyusuri gang ini.
Suamiku memang tak pernah peka!
Tak menyerah Kanya mengulangi hal yang sama. Kali ini Bian menoleh dan menghentikan langkah.
"Kenapa?" tanya Bian. Kanya menggeleng kepalanya, ia tak mau terlalu percaya diri mengaku.
Bian langsung meraih jari jemari Kanya, menyatukan kedua tangannya. "Tinggal ngomong aja kalau mau digandeng," seru Bian.
Kanya melebarkan senyum mulai berjalan beriringan bersama Bian. Meksipun masuk kedalam jam cukup jauh, tapi Kanya tak merasakan hal itu ketika berada di samping Bian.
Kini semuanya sudah berdiri di depan rumah dengan dinding kayu dan pintu dari kayu yang sangat sesuai sederhana. Rumahnya kecil dari depan mungkin hanya nampak lebar 4 meter.
Bian mulai mengetuk pintu yang mulai rapuh itu. Tak luput juga warga sekitar mulai berkerumun melihat team Bian yang datang ke rumah sobatpintar bernama Rahmat itu.
Tiga kali ketukan, pintu yang mulai reot itu akhirnya terbuka. Nampak wanita umur sekitar 40an dengan mengendong anak sekitar umur 3 tahunan.
Kanya langsung sigap mengulurkan tangan untuk bersalaman.
"Assalamualaikum, maaf ibu apa benar ini rumah Rahmat?" tanya Bian dengan sopan.
"Benar Mas. Masnya siapa ya?" tanya ibu itu terlihat takjub.
"Saya Abian. Guru Bimbelnya Rahmat. Ini semua team saya," seru Bian.
__ADS_1
"Rahmat masih sekolah. Sebentar lagi pulang Mas, silahkan masuk dulu," ibu itu dengan tergopoh-gopoh menyuruh Bian dan teamnya masuk kerumah yang sangat sederhana itu.
Sungguh rumah yang sangat sederhana, Kanya memandang sekeliling rumah Rahmat yang kondisinya begitu memprihatikan. Dinding kayu yang lapuk, kursi tamu yang terbuat dari bambu tua.
Sambil menghidangkan teh, ibu Rahmat bercerita bagaimana anaknya menggoreng dan membungkus keripik singkong Jualan. Rahmat berjualan sore hari di taman-taman kota. Kadang ia juga membawa ke sekolah dagangannya. Rahmat memang mendapat bantuan sekolah gratis, tapi ia anak yang selalu ingin belajar. Hingga ia begitu semangat mengumpulkan uang untuk berlangganan di sobatpintar. Rahmat pun sampai saat ini masih bertahan menjadi juara satu. Hingga suatu ketika hape bekas pemberian tetangganya itu rusak dan Rahmat mengirim pesan tidak bisa mengikuti kegiatan belajar.
Kanya menjadi begitu salut dengan kegigihan Rahmat yang tetap menuntut ilmu ditengah
kondisi ekonomi keluarganya. Mungkin dengan kondisi keluarga yang seperti ini anak-anak seusia Rahmat banyak yang putus sekolah. Rahmat justru sebaliknya, ia malah berkerja dengan gigih agar bisa mencari ilmu tambahan dengan bergabung menjadi pengguna sobatpintar.
Kanya jadi mengingat ketika dulu masih duduk di bangku SMP. Keadaannya memang berbeda dengan Rahmat. Ia bersyukur Kanya masih hidup dari keluarga yang berkecukupan. Hanya saja waktu bully-an dari teman-temannya yang hampir membuat Kanya hampir malas ingin ke sekolah. Mengingat hal itu Kanya jadi malu sendiri, Ia memang tak pandai sama sekali masalah akademik. Tapi keluarganya memaksa masuk sekolah swasta dengan ratusan siswa tergolong pandai.
"Rahmat udah pulang," seorang bocah memberitahu dari balik pintu.
Bian dan Rehan berdiri keluar rumah untuk menyambut Rahmat.
"Kak Bian!" teriak bocah berkulit coklat berseragam putih celana berwarna biru lusuh. Ia berlari dengan senyum lebar yang menghiasi bibirnya.
"Hai Rahmat," Bian melambaikan tangan.
Bocah itu langsung memeluk Bian seolah seperti mimpi. Bian membalas memeluk bocah itu dan menepuk-nepuk punggungnya.
"Benar Kak, sampai SMA nanti! Rahmat mau seperti Kak Bian bisa kuliah di luar negeri!" seru anak itu penuh semangat.
Tanpa sengaja Kanya menetes butiran lembut dari matanya. Sungguh gigih sekali Rahmat. Semoga di luar sana, anak-anak dengan keterbatasan biaya bisa terus bersemangat seperti bocah kecil di hadapannya.
"Pasti bisa Rahmat! Asal kamu selalu rajin belajar dan menunjukkan pada dunia kamu siswa berprestasi!" seru Bian.
Disini Kanya juga bisa melihat sisi lain suaminya yang begitu peduli dengan pengguna aplikasinya. Bukan hanya masalah finansial semata. Tapi empati dan kepedulian. Makanya sobatpintar menjadi pilihan segala kaum sosial untuk bisa mendapat bimbingan belajar.
"Satu lagi Rahmat. Kita akan memberikan apresiasi kepada kamu karena menurutl penelusuran team sobatpintar kamu berprestasi disekolah.
Tapi inget gunakan hadiah dari kami dengan sebaik-baiknya." Bian mengambil kotak kecil dari tangan Rehan.
Ketika Rahma akan mengambil kotak Bian sedikit menjauhkan kotak dari Rahmat sambil tertawa. "Tapi tunggu ...."
"Ya ...." seru warga yang melihat.
"Jawab dulu pertanyaan Kakak, siap!" seru Bian.
__ADS_1
"Siap Kak," ucap Rahmat semangat.
"Kamu SMP kan, sebutkan bunyi hukum Newton aja deh!"
"Jika resultan gaya pada suatu benda sama dengan nol, maka benda yang mula-mula diam akan terus diam. Sedangkan, benda yang mula-mula bergerak, akan terus bergerak dengan kecepatan tetap," ucap Rahmat dengan lantang.
"Bagus Rahmat, ini hape baru untuk kamu," Bian menyerahkan kotak itu.
"Alhamdulillah makasih Kak," Rahmat kembali memeluk Bian. Kanya juga ikut mengelus kepala Rahmat bangga.
"Ingat Rahmat pergunakan dengan baik kepercayaan dari Kakak!" seru Bian.
"Pasti Kak!" Senyum merekah megembang di wajah Rahmat seolah sedang mimpi.
Pelajaran baru untuk Kanya hari ini. Ternyata suaminya tak cukup hanya sibuk di kantor ia juga sibuk diluar kantor untuk kepentingan sosial.
"Capek!" tanya Bian ketika masuk ke dalam mobil usai dari rumah Rahmat.
Kanya mengangguk.
"Kamu istirahat saja Kay, persiapan nanti malam Mas mau kasih ujian biologi lagi."
"Ujian biologi?" Kanya bengong karena otak kecilnya masih berusaha mencerna. Beberapa menit kemudian! Astaga! Kanya mengerti sekarang apa plesetan ujian biologi! Kanya mencubit lengan Bian.
"Mas Bian ih," seru Kanya malu.
"Ya udah aku ganti jadi beasiswa aja," ujar Bian yang sukses membuat istrinya itu merona merah.
.
.
.
.
.
Bersambung......
__ADS_1