(Im)perfect Couple

(Im)perfect Couple
Bab 30


__ADS_3

Ungkapan Cinta?


Kanya sedikit bernafas lega karena sudah dua hari Galang tak menampakkan batang hidungnya semenjak kejadian tamu tak di undang.


Tapi kali ini harapannya pupus karena orang di balik pintu yang memencet tombol adalah Galang.


"Halo! Sori gue sibuk kemarin-kemarin gak bisa main lagi ke rumah kalian," ucap Galang cengar-cengir tanpa dosa.


Kanya menghembuskan nafas kasar dan ingin rasanya berteriak, Nggak nanya!


Mendengar suara laki-laki yang tak asing di balik pintu, Bian yang sedang berkutik di depan laptop langsung bergegas menyusul istrinya.


Tangan Bian langsung merangkul pundak Kanya dengan tatapan tajam ke arah Galang.


"Gue udah duga pasti suami Lo dirumah Kay," seru Galang.


"Maaf ada perlu apa lagi?" tanya Bian ketus.


"Santai Bos, gue cuma mau mengakrabkan diri sebagai tetangga baru." Galang mengangkat kantong plastik di kedua tangannya.


"Itu apa?" tanya Kanya.


"Beri izin tamu masuk dulu dong Kay," sela Galang.


Bian menarik pundak Kanya untuk memberi ruang pada Galang masuk ke rumah.


Galang menaruh semua plastik di atas meja makan. Kanya mendekat memeriksa plastik-plastik bawaaan Galang yang merusak pandangan meja makannya.


"Dalam rangka apa nih bawa sayuran sebanyak ini?" Kanya mengangkat popcoy dari kantong plastik.


"Jadi gini, kemarin kalian sudah berbaik hati ngajak gue sarapan bareng. Sekarang giliran gue yang akan masak untuk kalian berdua," cengir Galang.


"Nggak perlu terimakasih Lang!" tolak Kanya. Kanya sangat paham bagaimana Galang. Ia tak ingin dapurnya terbakar karena kelakuan sahabatnya.


"Jangan gitu dong Kay, ini penghinaan untuk tetangga baru," ucap Galang memelas.


"Biar saya saja dengan istri yang akan memasak," Bian dengan tenang meraih salah satu plastik di atas meja.


"Hmm. Gue punya ide, biar kekeluargaan kita sebagai tetangga baru semakin terjalin akrab,"


Kanya dan Bian kembali bersitatap. Kanya sangat tahu dari wajah suaminya sudah sangat kesal. Raut wajah Bian sangat ketara tak senang dengan sikap sok akrab Galang.


"Gue sama Bian akan lomba masak," Galang menunjuk ke arah Kanya, "Dan Lo Kay, sebagai jurinya. Gue yakin Lo bisa fair Kok," goda Galang.


Hening sejenak.

__ADS_1


"Setuju! tapi jangan ada keributan selama memasak," ucap Bian lantang.


Kanya yakin jika Bian mengiyakan keinginan Galang supaya tetangga meresahkan itu segara keluar dari rumahnya.


.


.


.


.


Kanya bertumpu pada kedua tangannya di meja pantry. Ia menyaksikan dua orang berbeda karakter sedang beradu dengan alat penggorengan. Tentu saja matanya lebih tertuju pada Bian, cara masaknya begitu rapi tak berantakan sedikit pun. Suaminya yang terlihat tampan itu, dengan tenang mengaduk sup yang baunya sudah mulai tercium di hidung Kanya.


Mata Kanya melirik kesebelah. Apa ada gempa di dapurnya. Galang memasak dengan begitu tak beraturan. Apa yang sebenernya pria gondrong itu masukan ke dalam panci hingga percikan cabe dan minyak mengotori mamer dapurnya.


Tak lama berselang Bian sudah menyajikan sup yang terlihat seperti tomyam dengan sangat rapi di mangkok.


Jangan ditanya jika di bandingkan dengan milik Galang yang terlihat warna merah aneh seperti seblak tapi isinya mie benyek.


"Sekarang sebagai juri Lo coba masakan kita," Galang menyodorkan sendok pada Kanya.


Orang buta pun pasti akan langsung memilih punya Bian sebagai pemenang. Kanya melihat aneh ke arah makanan Galang.


"Jangan lihat dari tampilannya Kay, tapi dari rasa. Biasanya yang tampilannya rapi malah menyimpan banyak rahasia," seru Galang melirik ke arah Bian.


Kanya mencicipi sup tomyam milik Bian yang tak bisa di ragukan lagi rasanya. Mungkin itu tomyam terenak yang pernah Kanya makan karena dibuat oleh orang yang spesial di hatinya.


"Mie kuah geledek level mam-pus, gue tahu makanan kesukaan lo," seru Galang semangat ketika Kanya mengaduk isi mangkok masakannya.


Kanya mencoba tenang, mungkin rasanya tak seburuk tampilannya. Kanya menyuap mie geledek yang dibuat Galang. Suapan pertama membuat mata dan hidungnya berair. Kanya merasakan sensasi terbakar di mulutnya. Entah berapa banyak cabe yang Galang masukkan hingga Kanya tak bisa berkata-kata lagi.


"Sekali lagi dong Kay, tadi punya Bian Lo suap berkali-kali biar fair," seru Galang.


Kanya pun kembali menyuap satu sendok untuk menghormati Galang. Kanya memejamkan mata sambil menyuap lagi mie yang tadi membakar mulutnya.


Kali ini Kanya benar-benar tak sanggup, ia berlari menuju kulkas. Ia mencari air yang bisa ia teguk untuk meredakan rasa terbakar di lidahnya.


"Minum susu ini sayang, untuk menetralisir pedasnya," Bian dengan cemas menyusul Kanya menyerahkan bungkus susu cair.


Tanpa pikir panjang, Kanya meneguk susu yang si sodorkan suaminya.


"Lang! Berapa kilo cabe yang Lo masukin," ucap Kanya mengatur nafasnya sambil mengelap keringatnya di dahi.


"Sori Kay, ternyata level pedas Lo, masih di bawah gue," balas Galang.

__ADS_1


"Galang!" sentak Bian yang membuat Kanya tersentak kaget.


"Saya mohon, sekarang kamu keluar dari rumah kita!"


Kanya melihat ke arah Bian takjub, benarkah ini suaminya? Mungkin begitu khawatir dengan keadaannya, Bian tak bisa lagi bersikap tenang seperti sifatnya yang biasa.


"Sori Kay, gue beneran nggak ada maksud apa-apa?" ucap Galang.


Bian mendekat ke arah Galang dengan tatapan marah.


"Saya tahu sejak waktu itu kamu hanya ingin bermain-main dengan saya dan saya mencoba diam karena kamu sahabat Kanya. Tapi jika kekonyolan kamu mengancam keselamatan istriku. Maaf! saya nggak bisa lagi memberi ruang kamu, silahkan tinggalkan rumah kami!"


Galang tertawa meledek, "Jadi sekarang Lo khawatir sama Kanya. Udah mulai cinta lo sama Kanya? Kemarin kemana aja!"


"Saya sangat mencintai Kanya, apa ada masalah untuk kamu! Silahkan pintu keluar sebelah sana," Bian menunjuk pintu depan.


Galang melihat sepintas kearah Kanya dengan senyum tipisnya. Sedangkan Kanya masih tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. Cinta? Bian mencintainya? Bian memang mencintaiku?


Satu keinginan Kanya detik ini, ia ingin agar Galang pergi secepatnya. Ia tak sabar ingin menanyakan secara langsung kepada Bian pertanggung jawaban atas perkataan yang diucapkan suaminya itu.


Kata itu terus terngiang di kepalanya, inikah jawaban atas semua pertanyaan? Apa Bian mengatakan semua itu hanya untuk membuat Galang agar segera pergi?


Hari ini juga Kanya harus mendapatkan jawabnya?


.


.


.


.


.


. Bersambung....


Note


Assalamualaikum?


Apa kabar?


lama Ei Hiatus dari nulis karena kesibukan di RL


Ei harap kalian masih mau nunggu kelanjutan kisah Bian Kanya.

__ADS_1


Sekali lagi maaf dan terimakasih Karena masih nunggu lanjutan kisah Bian dan Kanya.


salam sayang selalu, Einaz


__ADS_2