
Mendidih tapi Bukan Air
Kanya merapikan kerudungnya didepan meja rias. Semenjak kejadian malam itu di rumah Bunda Dita. Kanya memang lebih memilih tak banyak bicara. Kanya memang tak sepenuhnya mendiamkan Bian. Kanya tetap harus menyiapkan keperluan Bian, terlebih pagi itu ia masih berada di rumah Bunda Dita. Malamnya ketika pulang berkerja, Kanya masih tetap mengambil sikap diam.
Kesimpulan yang diambil Kanya tentang kediaman Bian malam itu begitu mempengaruhi pikiran Kanya. Entah rasanya sangat sulit untuknya bersikap normal lagi kepada suaminya. Entah yang di lakukan benar atau salah, yang jelas Kanya hanya ingin melakukan apa yang membuatnya tetap berpikir waras.
Meskipun tidur membelakanginya suaminya, Bian tetap memeluk ketika tidur. Tapi hati Kanya sungguh terasa masih terluka.
Kanya menyadari Bian juga merasakan kalau q saat ini dirinya sedang tidak baik-baik saja. Tapi suaminya tidak menanyakan hal itu malah justru ikut acara sikap berdiam diri sepertinya.
Kanya melupakan satu hal karena terlalu di bebani dengan sikap Bian malam itu. Hari tanggal merah sudah di pastikan Bian sedang libur.
Tapi ia juga tak bisa membatalkan pemotretan tujuh brand baju muslim yang akan ia promosikan. Ia sudah menandatangi kesepakatan endrose.
Lagi pula kondisi sekarang lebih mendukung jika ia tak bertemu Bian beberapa jam saja.
"Mau kemana?" tanya Bian yang keluar dari kamar mandi.
"Aku ada pemotretan Mas, bukan Kanya udah bilang Mas Bian tadi malam," ucap Kanya datar sambil meneruskan melengkapi riasan wajahnya.
"Dimana?" Bian lupa karena sibuk memikirkan sikapnya yang berubah diam.
"Di cafe bamboo,"
"Sama Raisa?"
"Nggak aku pergi sendiri, kita ketemuan disana," jawab Kanya.
"Kalau gitu aku antar, kebetulan juga mau ketemu sama Rehan."
Kanya mengangguk tentu tidak bisa menolak.
.
.
.
.
Kanya mengamati cafe yang di dominasi dengan ornamen bambu dan tanaman hijau. Benar-benar cafe yang langka kalau masih berada di ibukota menemukan tempat nongkrong dengan konsep alam seperti ini. Memang kemampuan Raisa mencari tempat yang bagus untuk fotografi tidak perlu di ragukan lagi.
Sangat di sayangkan, berada dalam tempat sebagus dan seteduh ini Kanya dan Bian berjalan seiring seperti abg yang baru pertama kali berkencan.
Harusnya Kanya merangkul lengan suaminya atau suaminya inisiatif mengandeng tangannya. No! itu tidak terjadi, sampai seseorang pria yang sangat di kenal Kanya melambaikan tangan menunjukkan posisi tempat duduknya.
Kanya ikut melambaikan tangan, berjalan lebih cepat ke tempat sahabatnya itu.
"Lo udah lama," seru Kanya duduk di kursi kosong.
"Lumayan udah habis dua gelas gue," seru Galang menunjuk gelas yang hanya berisi es batu.
"Bilang saja Lo memang haus,"
"Hmmm," seru Bian langsung menarik kursi kosong yang lain, ketika berhasil mengejar istrinya yang berjalan begitu cepat.
"Lo bilang datang sendiri, ini ada bodyguardnya," Galang mengulurkan tangan pada Bian memberi sapaan.
__ADS_1
Bian menyambut tangan pria dengan rambut di kuncir itu, "fotografer kamu laki-laki?" ucap Bian.
Kanya tak tahu Bian masih ingat atau tidak dengan Galang. Karena seingat Kanya mereka bertemu terakhir kali di acara pernikahannya.
"Galang sahabat aku dari kecil Mas, lagi pula dia sudah jadi fotografer professional dari awalnya fotografer flora dan fauna," canda Kanya menutup mulutnya menahan tawa.
"Ledek terus! Gini-gini gue pernah jadi fotografer national Geografi. Cinta gue flora dan fauna langka Ampe lupa cari cinta sama betina. Puas Lo," ujar Galang.
"Ya, ya pulang dari Lombok Lo jadi sensi banget. Tapi Galang Pramono tetap fotografer favorit gue," ucap Kanya.
"Bilang aja Lo juga cari harga miring mengarah ke gratis kan," balas Galang membuang muka mencibir.
"Tuh paham," ucap Kanya mengeluarkan tawa.
Ia memang paling tak bisa diam ketika bertemu sahabatnya. Ia lupa disampingnya masih ada pria tampan yaitu suaminya!
Semoga saja suaminya tidak merasa teracuhkan. Kanya melihat sepintas Bian memasang wajah yang sulit di artikan lagi.
"Raisa mana ces, ini kalau kelamaan nunggu tuh nenek, keburu siang nggak dapat cahaya yang pas," ucap Galang membuka camera dari sarungnya.
Kanya langsung merogoh ponsel dalam tasnya. Ia tak melihat ponsel sejak keluar rumah. Buru-buru ia membuka pesan dari Raisa.
Kay, sori banget gw nggak bisa temani lo Photoshot. Suami gw ngajakin njeguk mertua gue yang lagi sakit di Bandung🙏.
Kanya menghela nafas pendek. "Raisa nggak bisa datang,"
"Ya udah lah, kita mulai aja sekarang. Atau lo masih mau ngobrol dan minum-minum sama laki lo," seru Galang.
"Mas Bian bentar lagi juga pergi kok, sekarang aja kita mulai," ucap Kanya.
"Oke, gue siapkan tempatnya dulu . Lo siap-siap, kalau gue udah ready, nanti kasih kode."
Bian mengerutkan kening, "Siapa yang mau pergi?" ucap Bian.
"Loh, katanya Mas Bian ada janji dengan Kak Rehan," ucap Kanya mengingatkan.
"Udah aku batalin, aku akan nemeni kamu sampai selesai pemotretan," ucap Bian sambil meraih buku menu yang ada di atas meja.
"Mas serius?" tanya Kanya heran.
"Hmmm," ucap Bian kini memanggil pelayan cafe untuk menyerahkan pesanan menu.
Dari jarak yang terhalang sekat dinding kaca, Galang melambaikan tangan memberi kode pada Kanya agar menghampirinya.
Kanya melihat ke arah Bian, Bian menggangguk mengijinkan istrinya itu menemui temannya.
Galang mulai mengarahkan Kanya untuk berpose. Sudah banyak hasil cepretan yang di tangkap Galang.
Pria berambut gondrong itu memandangi lensanya. Ia menghampiri Kanya menunjukkan hasil gambarnya.
"Lumayan, keren," seru Kanya. Mata perempuan berkerudung salem itu tak lupa melirik ke seberang pintu kaca, ia melihat suaminya yang tak melepas pandangan darinya sedikit pun.
"Satu sesi lagi deh," Galang mendekat pada Kanya. Pria itu mengambil kerudung Kanya yang terjuntai, ia meletakkan di pundak Kanya.
"Kalau begini kelihatan begitu natural," seru Galang tersenyum puas.
Kanya mengerti, Galang melakukan itu untuk tingkat profesional. Tapi perlakuan sahabatnya itu justru mengundang Bian yang langsung mendekat kearahnya. Suaminya seperti terusik dengan perlakuan Galang.
__ADS_1
"Apa masih lama!" tanya Bian cukup lugas berada di belakang Galang.
Galang seketika menoleh, "Sabar Bos, dua sesi lagi," ujarnya.
"Aku tunggu di situ saja," Bian menunjuk kursi kosong yang posisinya lebih dekat dari tempat Kanya.
Kanya mengangguk mengiyakan. Meskipun tampak tenang, Kanya tak pernah melihat Bian seposesif ini selama ia menikah. Biasanya ia biasa saja dengan kegiatan Kanya.
"Laki lo nggak jadi pergi?" tanya Galang usai Bian pergi ke meja yang di tunjuk
"Katanya mau nunggu gue sampai selesai," ucap Kanya.
Galang tertawa kecil.
"Gak ada yang lucu kali," seru Kanya.
"Kalian lagi marahan ya?" tanya Galang.
"Nggak! Sok tahu," sewot Kanya.
"Lo berteman sama gue nggak cuma setahun Kay, lagipula lihat nih muka laki lo," Galang menunjuk hasil cepretan candid foto Bian pada Kanya. Entah kapan pria gondrong mengambil foto Bian.
"Kelihatannya aja tenang suami Lo Kay. Sebagai sesama kaum cowo, gue juga bisa bedakan mana orang BB yang nahan cemberu atau nahan kentut," oceh Galang.
Kanya melihat ke arah suaminya yang memang terlihat gelisah. Kanya baru menyadari hal itu karena pikiran dipenuhi kediaman Bian malam itu. Apa dia cemburu dengan Galang?
"Kayaknya seru deh, buat orang calm down lebih cemburu lagi,"
"Nggak usah macem-macem sama Suami gue Lang," ancam Kanya. Ia sangat tahu sahabatnya yang satu ini paling hobi mengerjai seseorang dengan ide nyeleneh.
Galang mendekat sedikit berbisik ke telinga Kanya. "Gue yakin seratus persen Kay, tuh didalam dada Bian udah panas mendidih sampai ke ubun-ubun, jadi pengen seduh pop mie disitu," seru Galang mengarah bidik kameranya kearah Bian.
"Pliss Lang, Lo jangan nganggu Mas Bian," ancam Kanya lagi dengan sedikit melototkan mata kali ini.
"Kita lihat saja nanti," jawab pria itu dengan disusul kekehan mengejek.
"Ih," desis Kanya kesal.
Kanya jadi tak tenang membayangkan apa kira-kira yang akan di lakukan Galang pada Bian. Semoga saja pria gondrong tak bertingkah aneh.
.
.
.
.
.
.
.
Bersambung.....
Sengaja nggak Ei bagi dua, part-nya agak panjang.
__ADS_1
Hayo, Mau di apain Mas Bian?