
Dikhianati
Kanya sengaja duduk di ruang tamu menunggu kepulangan suaminya. Hari ini Bian berjanji pada Kanya tak akan lembur. Saat terakhir menelpon Bian pun mengatakan sudah perjalanan akan pulang.
Kanya masih memikirkan iklan ruangsiswa yang menjadikan Gareta salah satu brand ambassador nya. Bukankah Gareta adalah bagian dari Sobatpintar. Bagaimana bisa ia sekarang bergabung dengan kompetitor aplikasi milik suaminya yang tempat Gareta bekerja dan berjuang bersama suaminya dulu.
Apa ada perpecahan antara Gareta dan sobatpintar? Atau malah ada perselisihan Gareta dengan suaminya?
Ya ampun! Kanya sangat mencemaskan Bian. Bagaimana bisa orang yang paling di percayai suaminya justru sekarang bergabung dengan pesaingnya.
Selain menjadi bagian dari Sobatpintar, Gareta juga salah satu brand ambassador aplikasi sobatpintar. Kanya teringat cerita suaminya. Bian mempercayakan Gareta menjadi brand ambassador aplikasinya karena saat itu Gareta tokoh yang sedang menonjol di publik setelah menjadi finalis ajang kecantikan nasional. Gareta menjadi viral saat itu karena perdebatan menilai kinerjanya salah satu menteri di stasiun TV. Latar pendidikan yang bagus dan wajah yang cantik menawan membuat langsung dikenal publik, terlebih kedekatannya dengan Bian dan beberapa publik figure membuatnya semakin di kenal dan wanita cantik itu mulai di undang di berbagai talk show di stasiun televisi.
Ada apa dengan Gareta sebenarnya. kenapa wanita itu malah membelot. Apa wanita itu lebih tergiur materi yang banyak dibandingkan hasil kerja kerasnya dengan Bian dari nol hingga seperti sekarang.
Kanya langsung bangkit ketika ketukan pintu terdengar.
"Assalamualaikum," sapa Bian dengan hangat.
Kanya langsung meraih punggung tangan suaminya dan mengambil tas dari tangan Bian. Bian mengecup kening Kanya. Dari sini Kanya tak melihat ada hal yang berbeda dari suaminya. Kali ini Bian juga mengelus perut Kanya.
"Apa kabar baby kita, tadi nggak bikin susah bundanya kan?" tanya Bian.
"Nggak, Kanya nggak merasakan mual atau apapun," balas Kanya.
"Jadi bagaimana, besok udah buat temu janji dengan dokter?"
Kanya menepuk keningnya lupa. Bagaimana ia bisa lupa membuat janji temu dengan dokter kandungan. Padahal Bian sudah mengingatkan berkali-kali.
"Kanya lupa Mas, tadi cek orderan banyak." Kanya membela diri, padahal tadi seharian ia memikirkan Gareta sampai ia lupa membuat janji dengan dokter.
"Sayang, kamu kan janji jangan terlalu lelah." Bian mulai galak.
"Tadi hanya bantu Raisa dikit Mas, tapi nggak terlalu lelah kok," bela Kanya lagi.
"Ya udah nggak apa-apa. Besok jangan lupa buat janji temu."
Kanya mengangguk semangat. Sampai detik ini semuanya nampak baik-baik saja.
Apa Kanya tanyakan langsung saja perihal iklan yang menganggu pikirannya. Tapi sepertinya waktunya tidak tepat, suaminya pasti lelah dan lebih membutuhkan istirahat daripada pertanyaannya. Kanya akan mencari waktu yang tepat.
.
.
.
.
Kanya menata semua makanan yang ia pesan di meja makan untuk malam. Karena tadi pulang terlalu sore dari butik, Kanya tak sempat lagi memasak. Lagipula suaminya juga melarang Kanya terlalu lelah kan.
Sekarang tinggal menunggu Bian mandi.
__ADS_1
"Ayo makan," suara Bian muncul dari belakang nya. Bian mengambil duduk di sebelah Kanya.
Kanya seperti biasa mengambilkan makanan untuk suaminya. Baru setelah itu mengisi piringnya.
Kanya memperhatikan Bian yang makan dengan tenang. Sepertinya memang tak masalah yang serius.
"Tadi di kantor gimana Mas," tanya Kanya membuka pembicaraan.
"Seperti biasa Sayang, sibuk. Tapi Mas sempatin pulang cepat untuk menemani bumil cantikku," ucap Bian manis.
Kanya tersenyum malu, suaminya sekarang bersikap lebih manis semenjak Kanya hamil. Mungkin memang tidak terjadi apa-apa. Masalah iklan itu sebaiknya Kanya tanyakan nanti ketika akan tidur.
.
.
.
.
Kanya merasakan hawa dingin AC yang begitu membelit tubuhnya. Ia kembali menarik selimut untuk menutupi tubuhnya. Tapi ada yang aneh, kenapa ia tak bisa tidur dengan nyaman. Ia terbangun, mengucek matanya. Pantas saja ia tak bisa tidur nyenyak seperti biasanya. Suaminya tak ada di sampingnya. Tidak ada pelukan hangat yang biasa membuat tenang. Kanya melihat jam dinding di kamarnya yang menunjukkan pukul 1 dini hari.
Kemana suaminya? Mungkin saja masih berada di kamar mandi.
Kanya berjalan menghampiri pintu kamar mandi. Tak ada suara gemericik air. Ia membuka pintu dan mendapati kamar mandinya kosong.
Kanya yang penasaran, keluar kamar mencari suaminya. Kanya melihat pintu ruang kerja Bian terbuka dan lampu yang masih menyala. Ia mendekati ruang kerja suaminya.
Apa ini ada hubungannya dengan Gareta?
Wajah suaminya sekarang sangat berbeda dengan tadi malam. Apa Bian sengaja menyembunyikan masalah dengannya. Apa suaminya tak ingin membagi keluhan dengan istrinya.
"Hmmm," deham Kanya yang langsung mengagetkan Bian.
"Kay, kamu kenapa belum tidur," ucap Bian kaget.
"Mas, aku bukan belum tidur tapi terbangun." Kanya duduk di seberang meja Bian.
"Kamu kan harus banyak istirahat Sayang, kamu lagi hamil," ucap Bian.
"Gimana aku bisa tidur Mas, kalau selimutnya disini," seru Kanya manja.
"Mas masih ada pekerjaan Sayang," ucap Bian.
"Ya udah aku tunggu Mas selesai saja baru kembali ke kamar," seru Kanya.
Biam tertawa kecil. "Sini, biar kita nggak kayak bos sama Karyawan lagi interview." Bian menepuk kursi di sebelahnya.
Kanya segera mendatangi Bian. Ia pun duduk di sebelah suaminya.
"Mas, kanya boleh tanya," ucap Kanya.
__ADS_1
"Kamu sekarang hobi sekali bertanya," ucap Bian mengalihkan pandangannya ke arah istrinya.
"Mas, Kanya melihat iklan ruangsiswa yang menjadikan Kak Gareta brand ambassador-nya. Apa itu benar?"
Wajah Bian berubah tegang. Kanya bisa melihat gurat kecemasan di wajah suaminya.
"Kamu sudah tahu Kay," tanya Bian.
Kanya mengangguk, "Apa mas disini karena ada hubungannya dengan Kak Gareta."
Bian meraup wajahnya.
"Kay, bisakah kamu peluk aku," ucap Bian.
Kanya langsung berdiri. Di raihnya kepala suaminya dalam dekapannya. Suaminya yang tegas, kuat dan berwibawa. Kini seperti lemah dalam pelukan Kanya. Pasti ada masalah berat sekali yang di hadapi Bian.
"Aku hanya nggak mau kamu ikut memikirkan masalah ini Kay," ucap lirih Bian.
"Kenapa mas, masalah Mas Bian juga masalah Kanya kan," ucap Kanya mengusap lembut kepala suaminya.
"Cuma di pelukan kamu aku bisa tenang Kay, ini yang sangat aku butuhkan." Bian mengerat pelukan Kanya.
"Aku akan selalu ada untuk Mas Bian. Mas bisa cerita sedikit beban yang Mas rasakan agar bisa terkurangi."
Rasanya tak ada lagi yang bisa sembunyikan dari istrinya. Bian hanya tak ingin pikiran Kanya terbebani dan mempengaruhi kehamilannya.
"Dua hari lalu Gareta mengejutkan semua orang karena mundur dari Sobatpintar. Lebih mengejutkan lagi tadi pagi, siapa yang menduga dia bergabung dengan ruangsiswa."
"Gareta team kreatif aplikasi kita. Jika dia bergabung dengan kompetitor kita. Apa mas hanya menunggu waktu aplikasi yang sudah kita bangun dari nol akan jatuh."
"Kenapa harus Gareta Kay, kenapa harus dia orang yang paling Mas percaya malah berkhianat."
Kanya juga hampir tak percaya. Ia mengerti betapa sakitnya menjadi suaminya. Jika itu terjadi pada dirinya, pasti sangatlah sakit jika salah satu sahabatnya tega mengkhianatinya.
.
.
.
.
.
.
.
.
Bersambung...........
__ADS_1
Ei potong part ini biar nggak terlalu panjang yah dear 🤗