(Im)perfect Couple

(Im)perfect Couple
Bab 36 (b)


__ADS_3

"Seperti tubuhku udah kembali pulih Kay," Bian melonggarkan tangannya yang melilit di pinggang Kanya.


"Apa sekarang sebaiknya Mas tidur dulu," usul Kanya.


Bian mengangguk, pria itu mengandeng tangan Kanya menuju kamar.


Kanya membaringkan diri di sisi Bian. Ia tahu suaminya berusaha terlihat tenang di depan Kanya.


"Sekarang tidur, selimut kamu sudah ada disini kan," ucap Bian berbisik di telinga Kanya. Tangannya melingkar erat di perut Kanya.


Kanya berbalik menghadap suaminya. "Mas, apa semuanya akan baik-baik saja."


"Mas akan segera bentuk investigasi, kenapa ada tim kita yang beralih dari Sobatpintar,"


"Semoga semua baik saja ya Mas." Kanya memberi kecupan kening untuk memberi semangat suaminya.


"Selama ada kamu bersamaku semuanya akan baik-baik saja Kay. Percayalah rencana Allah akan lebih baik." Bian membalas mengecup Kanya. "Sekarang kita tidur, anak kita nggak mau bundanya begadang."


Kanya tersenyum, ia pun lega setidaknya bisa mengurangi sedikit beban suaminya. Ia tahu membelotnya Gareta akan berpengaruh besar pada sobatpintar.


.


.


.


.


.


Padahal acara sobatpintar untuk penyambutan tahun ajaran baru sudah tinggal menghitung minggu. Tapi masalah mengejutkan malah datang tiba-tiba.


Kanya hanya iba melihat suaminya. Persiapan acara untuk penyambutan ajaran baru sudah di rapatkan berbulan-bulan. Bahkan dari cerita suaminya Gareta ditunjuk langsung sebagai ketua team pelaksana. Tapi sekarang apakah semuanya akan sia-sia?


Kanya merebahkan tubuhnya di sofa. Ia masih setia menunggu kabar terbaru dari suaminya.


Bian sudah sangat sibuk sejak pagi. Bahkan setelah dari dokter kandungan, Bian dengan berat hati meninggalkan Kanya kembali ke kantor. Kanya pun mengerti keadaan suaminya. Ia pun merelakan suaminya menghabiskan waktu di kantor menyelesaikan urusannya.


Meskipun suaminya mengirim pesan akan pulang malam karena harus membahas ulang acara yang di susun untuk tahun ajaran baru. Kanya tetap setia duduk di sofa ruang televisi untuk menunggu kepulangan Bian.


"Assalamualaikum." salam seseorang yang membuat Kanya bangkit.

__ADS_1


Bian langsung memeluk erat Kanya tanpa bersuara.


"Bagaimana Mas, apa semuanya baik-baik saja?" tanya Kanya membalas pelukan suaminya.


"Biarkan begini dulu Kay sampai tenaga Mas pulih," bisik Bian lembut ditelinga Kanya.


Kanya pun membiarkan suaminya memeluknya. Seperti memang ada masalah yang besar. Mungkin suaminya belum mau bercerita sekarang.


.


.


.


.


"Ini tehnya Mas," seru Kanya naik ke tempat tidur menyerahkan cangkir pada suaminya.


"Terimakasih Sayang," ucap Bian masih memasang senyum tipis lalu meneguk teh hangat buatan istrinya.


Suaminya terlihat lebih segar setelah mandi.


"Menurut investigasi, bukan hanya Gareta yang beralih ke ruangsiswa. Ada dua guru profesional di sobatpintar yang juga ikut pindah. Mereka memberikan gaji berkali-kali lipat dari Sobatpintar Kay,"


Kanya mengelus dadanya. Kenapa orang-orang yang berpendidikan bagus seperti mereka bisa melakukan hal seperti itu. Kenapa mereka harus mempengaruhi orang-orang yang juga berusaha ingin memajukan pendidikan.


Berdasarkan cerita suaminya. Aplikasi sobatpintar di bangun suaminya dari nol ketika menginjak kaki di tanah air. Tak gampang bagi Bian membangun, mencari investor hingga bisa menjadi sangat berkembang seperti sekarang. Kanya sungguh tak rela jika sobatpintar harus goyang hanya karena satu orang yang paling di percaya berkhianat


"Acara penyambutan tahun ajaran baru sobatpintar sepertinya nggak akan tayang di TV manapun Kay," ucap Bian.


"Kok bisa Mas! Bukannya Mas sudah membayar untuk jam tayangnya." Seru Kanya kaget.


"Tapi jika ada pihak yang membeli semua jam tayang TV nasional di waktu yang sama dengan lebih mahal."


"Astaghfirullah, mereka juga ikut membuat acara tahun ajaran baru yang seperti sobatpintar," seru Kanya.


Bian mengangguk, "Bahkan tema acaranya persis seperti acara sobatpintar yang sudah di rapatkan berbulan-bulan." Bian meraup wajahnya frustasi. "Kamu tahu kan Kay, siapa dalangnya."


"Harapan sobatpintar mendapatkan pengguna di tahun ajaran baru kemungkinan sangat kecil Kay."


Kanya mengelus lengan suaminya memberikan ketenangan. "Kenapa mereka kejam banget sih Mas. Kenapa mereka tidak bisa bersaing secara baik."

__ADS_1


"Orang dibelakang mereka kuat Kay. Entahlah Kay, Mas juga nggak mungkin merubah acara yang tersusun. Mas juga sudah terlanjur membayar beberapa artis yang akan tampil. Mas sudah negosiasi dan rapat berkali-kali, tapi mereka tetap kekeh tidak bisa menayangkan acara sobatpintar."


"Sabar ya mas," Kanya berusaha menenangkan hati suaminya lagi. Ini pertama kalinya Kanya dan Bian membahas masalah pekerjaan di atas ranjang. Karena memang segawat itu kondisi perusahaan startup yang dibangun suaminya.


"Kay," Bian meraih tangan Kanya. Ia mencium dengan lembut jari-jari istrinya.


"Kalau Mas tidak punya apa-apa lagi untuk dibanggakan. Apakah kamu masih mau ada disisi Mas," tanya Bian dengan tatapan sendu.


"Apa sih Mas, pertanyaan macam itu. Mas Bian kayak bukan orang yang Kanya kenal. Kenapa Mas seperti orang putus asa begitu!" omel Kanya. Memang kondisinya sudah sangat gawat tapi Kanya tidak suka jika suaminya terlihat putus asa.


"Mas hanya mau tahu saja, Sayang," balas Bian.


"Oke! Kanya akan jawab! Meskipun Mas Bian jatuh miskin. kita harus ngontrak rumah, tinggal di gubuk reyot bahkan di hutan sekalipun. Kanya akan tetap bersama Mas Bian dan anak kita sampai kapanpun." Kanya memegangi perutnya.


Bian menutup mulutnya menahan tawa. "Memang siapa yang tega ngajak kamu tinggal dihutan sayang."


"Asalkan Mas Bian selalu di sisiku. Kanya ikhlas dan rela," seru Kanya lantang.


"Inilah yang membuat Mas rela memantaskan diri untuk bisa bersama kamu Kay. You the best and beautiful wife." Bian mencium kening Kanya. Tangannya turun memengangi perut istrinya.


Kanya tahu suaminya hanya menguji dirinya saja. Tapi sekali pun itu akan jadi kenyataan, Kanya memang sudah rela dan ikhlas karena Bian adalah suami pilihannya. Kemana Bian pergi, keadaan senang atau susah, sakit ataupun sehat Kanya akan selalu ada disisi Bian.


"Jika kamu bersamaku semuanya pasti akan bisa kita lewati Sayang," seru Bian.


.


.


.


.


.


.


.


.


Bersambung.........

__ADS_1


__ADS_2