
Menikahlah denganku!
Kanya memakai baju yang kebaya mustrad dengan rok batik warna corak biru senada dengan Bian. Meskipun ini kebaya couple dari endrosement, bahan yang digunakan cukup nyaman untuk Kanya yang sedang hamil. Butik juga ikut memikirkan kenyamanan Kanya bukan hanya keuntungan semata. Sehingga bisa saling menguntungkan satu sama lain.
Perutnya kini sudah mulai tampak membuncit. Tapi di lihat dari kaca ia masih terlihat anggun dengan pakaian berbahan titrle itu. Ia membetulkan tatanan kerudungnya agar terlihat semakin rapi.
"Sayang, Ayo di tunggu Mama," Suara yang dikenal Kanya mengentuk kamar mandi.
"Ya Mas," balas Kanya merapikan alat riasnya di wastafel dan keluar dari kamar mandi.
Tangan Kanya langsung melingkar di lengan Bian. Bila itu bukan suaminya pasti Kanya sudah mendapat pujian terlihat cantik. Tapi itu adalah Abian Askara cukup dengan senyum melengking yang tak dapat di artikan untuk menilai penampilan istrinya.
"Mas Ganteng," puji Kanya terlebih dulu.
"Ini baju pilihan kamu Kay pasti dipuji," balas Bian apa adanya.
Kanya memukul lengan suaminya. Tentu saja pasti tak sesuai harapan. Tapi begitulah suami yang Kanya cintai.
Kanya masuk ke area ballroom yang sudah di hiasi bunga dalam setiap sudutnya. Kursi-kursi yang ada dalam ballroom juga banyak terisi. Kanya mengambil posisi paling depan karena tak ingin melewatkan momentum bahagia ini.
Wanita dengan balutan kebaya silver lengkap sudah masuk ke area ballroom. Cantik! Sangat cantik dan anggun. Ia mengambil posisi duduk dipaling depan yang disediakan hanya dua kursi dengan background bunga Lily.
Pria dengan memakai baju batik biru senada dengan rok perempuan kini berdiri dan mengambil duduk di sebelah perempuan itu.
Suara lantunan musik klasik di hentikan diganti dengan MC yang mulai membuka acara.
Semuanya begitu hikmat mengikuti rangkaian acara. Hingga tiba saatnya Kanya harus berdiri menuju ke podium untuk menyerah benda penting untuk acara ini. Kanya menyerahkan kota kaca yang berisi dua cincin dengan model yang berbeda.
__ADS_1
Diciumnya kening Kanya sekilas lalu tangannya mengusap perut ibu hamil itu. Senyum mengembang di bibir Kanya dengan kedua jempol terangkat memberi kata hebat. Kanya kembali duduk bersama suaminya dan keluarganya.
"Beberapa waktu telah kita lewati. Banyak yang sudah dilalui bersama. Tidak mudah memang. Tapi, aku selalu heran. Segala kesulitan bagiku seperti tak apa asal itu tentang kamu." Suara pria di atas podium membius orang yang ada di dalam ballroom untuk menyimak.
"Boleh saja, bila mendapatkan kesulitan yang besar jika tapi tetap bersamamu. Tapi, bukankah segala hal di dunia ini selalu diterima dengan konsekuensi? Tidak ada kesulitan yang berdiri sendiri. Kesulitan selalu seiring dengan kebahagiaan bukan." Lanjutnya.
"Aku nggak mampu ungkapkan lagi kata-kata. Dengan beribu cara-cara kamu selalu membuat ku bahagia. Kamu adalah alasan dan jawaban atas semua pertanyaan, yang benar-benar kuinginkan hanyalah kamu untuk selalu di sini ada untukku. Maukah kamu menjadi pilihanku? menjadi yang terakhir dalam hidupku. Maukah kamu menjadi yang pertama? Yang selalu ada di saat pagi ku membuka mata?"
Wanita dengan balutan kebaya perak itu mengangguk. Ia mulai mengusap air matanya yang mulai mengenang.
Semetara di sisi yang lain, Bian menyerahkan sapu tangan di saku baju batiknya pada Kanya. Istrinya sudah menghabiskan tisunya sejak pertama mendengar suara pria yang ada di atas podium.
Dengan tatapan lembut pada Sang Wanita. "Viola Armenita di depan semua keluargaku dan juga keluargamu. Aku mohon dengan sangat. Menikahlah denganku!" Bintang berlutut didepan wanita itu dengan membuka kotak kaca yang berisikan cincin.
Viola langsung menutup mulutnya. Air matanya tak bisa lagi di bendung.
Kanya tidak ikut bertepuk tangan karena masih sibuk dengan lelehan ingus dan mascara yang sepertinya akan luntur.
Ia memang tak mendapat kata puitis saat acara lamaran dulu. Tapi ia tak menyangka Kakaknya begitu pandai merangkai kata yang membuat terus melelehkan air mata. Ia begitu terharu dengan pernyataan lamaran Kakaknya pada Viola.
Kanya adalah saksi dari cinta keduanya. Tepatnya, Kanya adalah Penghalang kakaknya untuk menikahi Viola. Mereka sudah empat tahun menjalin hubungan. Bahkan mereka juga sering putus nyambung karena Vio yang tak mendapat kejelasan dari hubungannya. Tapi Kanya begitu terharu pada akhirnya Vio memilih bertahan untuk Bintang.
Bukan tanpa alasan kakaknya melakukan itu. Kakaknya hanya akan menikah jika Bintang sudah memastikan dirinya bahagia.
Sejak kecil Bintang adalah Kakak sekaligus pelindung untuk Kanya. Kakak satu-satunya itu selalu ada untuknya. Ia selalu siap siaga menjaganya. Sebegitu besarnya rasa Sayang bintang pada Kanya.
Tidak mudah untuk Kanya meyakinkan Bintang bahwa ia memang bahagia di awal pernikahannya. Tapi bukan Bintang namanya jika hanya percaya begitu saja.
__ADS_1
Ia akhirnya kabar kehamilan Kanya dan cuplikan video festival sobatpintar yang viral yang meyakinkan Bintang. Kakaknya mulai yakin kalau dirinya memang bahagia dengan pernikahannya.
Sejak itulah Kakaknya yang posesif itu mulai mempercayai tugasnya menjaga adik kecilnya sudah di ambil oleh Bian. Bian sudah berhasil memberi kepercayaan Bintang untuk mengambil alih tugasnya menjaga dan membahagiakan seorang Kanya.
Keesokan harinya Kanya mendapatkan kabar bahwa Kakaknya akan melamar Viola kekasihnya. Kanya pun sangat senang dan lega akhirnya Kakaknya bisa menemukan kebahagiaan dan tak terbebani lagi dengan tugas menjaganya.
Kanya melihat ke arah suaminya yang kini menjadi sumber kebahagiaannya itu.
"Sudah nangisnya Kay. Mas nggak punya stok sapu tangan lagi," ucap Bian yang langsung membuat wajah berbinar Kanya jadi manyun.
Pria realitis vs pria romantis pasti beda jawabnya! Tapi biar begitu Kanya selalu bahagia bila bersamanya.
.
.
.
.
.
.
.
Bersambung...........
__ADS_1
Terimakasih masih stay di cerita Mas Bian dan Kanya 😍😍