#Pov Suami Tak Berguna-Salahku Memilihmu

#Pov Suami Tak Berguna-Salahku Memilihmu
10. Siapa Wanita Itu?


__ADS_3

"Alhamdulillah akhirnya, beres juga ya," jawab Khanza yang tak kalah senang akhirnya ia bisa pulang juga setelah seharian bekerja.


"Kalau begitu saya pulang duluan mba," pamit Sindi.


"Iya bu, silahkan," jawab Khanza yang masih bersiap akan pulang.


Saat Khanza sedang berjalan dikoridor tiba-tiba Arga memanggilnya.


"Khanza!" teriak Arga dari arah belakang.


"Iya pak," jawab Khanza yang langsung menoleh ke belakang.


"Kamu pulang bareng saya saja," ajak Arga.


"Tidak usah repot-repot pak, saya bisa pulang sendiri," jawab Khanza.


"Ah saya tidak repot kok," ujar Arga lagi.


"Beneran pak, tidak usah terima kasih," timpal Khanza lagi.


"Baiklah kalau begitu, saya pulang duluan ya," pamit Arga yang segera berlalu meninggalkan Khanza.


"Silahkan pak," jawab Khanza yang menundukkan wajahnya.


Arga pun segera bergegas pergi meninggalkan halaman kantor. Sementara Khanza masih terdiam memikirkan akan pulang memakai apa. Biasanya Khanza selalu pergi menggunakan inet online, namun kali ini rasanya begitu lelah. Disaat yang bersamaan sebuah taksi melintas dihadapannya. Spontan Khanza pun melambaikan tangan sebagai tanda memberhentikan mobil itu.


Taksi yang sedang melaju itu seketika menepi. Tidak lama Khanza pun segera masuk ke dalamnya.


"Ke jalan mawar ya pak," ujar Khanza.


"Baik bu," jawab supir itu yang segera melajukan mobilnya.


Perlahan tapi pasti mobil itu segera meninggalkan kantor Arga. Didalam mobil Khanza bisa menyandarkan punggungnya karena kelelahan. Sambil merebahkan tubuhnya yang menyander ke kursi, Khanza melihat pemandangan diluar sana.


Ia melihat gedung-gedung pencakar langit yang berjejer dengan begitu rapihnya. Selain itu ada beberapa pusat perbelanjaan juga yang ia lewati, rasanya sudah lama ia tidak pergi shopping membeli barang yang menjadi keinginannya. Akan tetapi sekarang, jangankan untuk shopping untuk makan saja ia harus mencari uang seorang diri.

__ADS_1


Tidak lama pandangannya terhenti pada seseorang yang sepertinya ia kenal. Akan tetapi orang itu justru sedang bersama orang lain.


"Bukankah itu mas Azzam?" gumam batin Khanza.


"Tapi jika itu benar mas Azzam sedang apa dia disini? Lalu siapa wanita itu?" tanya Khanza dalam hati bermonolog.


"Apa jangan-jangan mas Azzam, ah sudahlah," gumam batin Khanza lagi.


"Bu, bu kita sudah sampai di jalan mawar," panggil supir itu.


"Oh iya pak, maaf saya tidak dengar," jawab Khanza yang merasa malu sendiri.


"Ibu ini dari tadi saya panggil-panggil juga," gerutu supir itu.


"Iya pak maaf," ujar Khanza lagi yang menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Ini ongkosnya pak," ujar Khanza sambil memberikan ongkos yang harus dibayarnya sebab jumlah yang harus ia bayar sudah tertera didalam argo mobil itu.


"Sama-sama bu," jawab supir itu yang segera melajukan mobilnya.


Saat turun dari mobil pun Khanza masih memikirkan hal itu. Ingatannya selalu tertuju pada suaminya yang ia lihat dijalan tadi. Akan tetapi ia berusaha untuk membuang jauh-jauh pikiran negatif dari kepalanya.


"Apa yang aku lihat itu benar suamiku?" gumam batin Khanza.


Khanza merasa jika ini bukan sebuah kebetulan. Suaminya masih belum pulang juga. Lalu akhir-akhir ini mas Azzam kadang suka pulang larut malam, bahkan sampai tidak pulang. Apa arti dari semua itu?


Untuk menghilangkan semua yang dipikirkannya, Khanza segera bergegas masuk ke dalam rumah. Khanza segera membersihkan diri dan mengganti pakaiannya dengan pakaian rumahan agar ia bisa bebas bergerak.


Meski lelah Khanza terpaksa menyiapkan makanan agar ia tidak memikirkan hal-hal yang tidak-tidak. Khanza memasak ayam kesukaan suaminya. Tidak lupa ia juga melengkapinya dengan beberapa sayuran dan kerupuk sebagai pelengkap.


Saat selesai memasak, tiba-tiba ada seseorang yang baru saja masuk ke rumahnya.


"Mas baru pulang?" sapa Khanza.


"Ya kamu bisa liat sendiri kan?" jawab Azzam ketus.

__ADS_1


"Makan dulu mas, Aku sudah masak," tawar Khanza.


"Tidak, Aku sudah makan tadi diluar. Aku lelah mau tidur!" jawab Azzam yang tidak memperdulikan perasaan Khanza.


Wanita mana yang tidak akan sakit hati jika suaminya bersikap seperti itu. Setelah seharian bekerja Khanza harus segera masak hanya untuk suaminya, namun saat ia pulang ternyata makanan itu tidak disentuhnya sama sekali.


"Kamu memang tega mas, aku lelah-lelah masak tapi kamu tidak memakannya," gumam Khanza dalam hatinya.


Sebenarnya sejak tadi pun Khanza sudah sangat lapar, namun ia sengaja menahannya agar ia bisa makan bersama dengan suaminya. Tapi saat ia datang, Azzam justru tidak memperdulikannya. Bahkan ia tidak menyentuhnya sama sekali.


Sebagai seorang istri, Khanza ingin diperhatikan dan disayang oleh suaminya sendiri. Khanza juga ingin disentuh oleh suaminya sendiri. Kini sudah hampir beberapa bulan Khanza justru tidak mendapatkan hal itu.


Jangankan nafkah lahir, nafkah batin saja tidak ia dapatkan dari suaminya. Dalam keadaan perut yang kosong Khanza berbaring diatas sofa memikirkan sikap suaminya hingga akhirnya ia pun tertidur.


Tak terasa ternyata sudah semalaman Khanza tertidur disofa. Kini pagi mulai menjelang, Khanza pun terperanjat bangun karena kesiangan. Ia perhatikan makanan yang berada diatas meja masih tetap utuh.


Berarti suaminya memang tidak makan sama sekali. Khanza yang sudah menyadari bahwa ia kesiangan, ia pun bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Namun yang ia heran ternyata suaminya sudah tidak ada dirumah.


"Kemana perginya mas Azzam?" tanyanya dalam hati.


"Apa dia benar-benar," gumam batin Khanza lagi yang tidak meneruskan kata-katanya.


Beberapa menit kemudian akhirnya Khanza selesai mandi dan segera bersiap ke kantor. Khanza sengaja membuang jauh-jauh hal-hal yang dipikirkannya. Hari ini ia ingin nanti bukan diri agar hatinya tidak selalu memikirkan tentang suaminya.


Saat Khanza ke luar rumah, Khanza berjalan ke arah depan melihat-lihat barang kali ada sebuah taksi yang melintas. Akan tetapi tiba-tiba saja ada sebuah mobil yang menepi dihadapannya.


"Khanza!" teriak seorang laki-laki dari dalam mobil.


"Arga? Kenapa bisa disini?" tanya Khanza yang menakutkan kedua halusnya sebab ia merasa terkejut dengan kedatangan Arga.


"Jadi rumah kamu di daerah sini? Aku hanya kebetulan lewat sini saja, ya sudah bareng aku aja," ajak Arga.


"Tapi, " ujar Khanza yang merasa tidak enak jika harus satu mobil dengan Arga.


"Sudah jangan tapi, tapi. Ayo silahkan masuk," ujar Arga yang segera membukakan pintu untuk Khanza.

__ADS_1


"Terima kasih ga," jawab Khanza yang segera masuk ke dalam mobil.


Meskipun Khanza merasa canggung, tapi kini ia tidak bisa menolak untuk pergi bersama dengan Arga.


__ADS_2