
Setelah pembicaraannya semalam dengan suaminya, membuat Bu Bela menjadi tidak bisa tenang. Bu Bela terus memikirkan kata-kata suaminya yang melihat Azam bersama wanita lain. Di tambah dengan kedatangan Khanza yang hanya seorang diri, membuat Bu Bela menjadi curiga.
"Apa ini hanya perasaanku saja," gumam batin Bu Bela yang segera menepis pikiran-pikiran negatif itu.
"Ibu kenapa?" tanya Pak Ahmad yang sedari tadi memperhatikan istrinya seperti sedang memikirkan sesuatu.
"Ah tidak pak, ibu tidak apa-apa," jawab Bu Bela gugup.
"Ayah tahu jika ibu pasti sedang memikirkan sesuatu," tebak Pak Ahmad.
"Mmhh, sebenarnya ibu sedang memikirkan pernikahan Khanza yah. Ibu takut jika pernikahan mereka tidak akan bertahan lama," lirih Bu Bela.
__ADS_1
"Hus ibu jangan bilang sembarangan, ucapan seorang ibu itu kan doa," ujar Pak Ahmad yang berusaha mengingatkan.
"Astaghfirulloh hal'adzim, iya yah maaf ibu khilaf," timpal Bu Bela yang segera beristighfar.
"Kita doakan saja pernikahan mereka akan langgeng dan menjadi keluarga yang sakinnah, mawwadah dan warrohmah bu," tambah Pak Ahmad lagi.
"Iya yah, aamiin.." ujar Bu Bela yang mengamini doa suaminya.
"Ya sudah kalau begitu ayah berangkat kerja dulu bu," pamit Pak Ahmad yang sebelumnya menghabiskan sarapannya terlebih dahulu.
Seperti biasa Pak Ahmad pun segera pergi ke kantor. Meski banyak karyawan yang bekerja ditempatnya, Pak Ahmad tetap berangkat ke kantornya untuk memastikan kinerja karyawannya.
__ADS_1
Sedangkan Bu Bela yang hanya sebagai ibu rumah tangga, seperti biasa mengerjakan pekerjaan rumah. Meski mereka berkecukupan tapi tidak membuat Bu Bela menyewa seorang asisten rumah tangga. Sebab baginya uang yang diberikan suaminya lebih baik ia tabung untuk keperluan yang mendadak atau hanya untuk membeli sesuatu yang diinginkannya.
Sejak belum menikah, Bu Bela sudah terbiasa hidup sederhana. Sifat itu ia dapatkan dari ibunya yang telah tiada. Kini sifat itu diturunkan kepada Bu Bela. Meski banyak uang Bu Bela tidak pernah membeli barang-barang yang menurutnya tidak terlalu penting. Ia hanya membeli barang yang menurutnya butuh saja. Karena sifat itulah yang menjadikan Bu Bela dan suaminya kini menjadi orang yang sukses.
Sementara ditempat lain Pak Ahmad tampak sibuk memperhatikan setiap karyawannya. Meski Pak Ahmad terlihat tegas dan bijaksana tidak membuat karyawannya menjadi takut kepada beliau. Justru semua karyawan Pak Ahmad merasa senang saat dirinya berkunjung ke kantor.
Meski tidak setiap hari datang ke kantor, Pak Ahmad selalu mendapatkan laporan dari orang kepercayaannya. Dia lah Pak Ridwan yang sudah menjadi orang kepercayaan Pak Ahmad sejak dulu. Pak Ridwan sendiri merupakan teman selaligus sahabatnya sejak mereka masih sekolah dulu.
"Bagaimana kinerja hari ini?" tanya Pak Ahmad sesampainya dikantor.
"Semua karyawan kerja dengan baik," jawab Pak Ridwan.
__ADS_1
Saat sedang dikantor mereka berbicara begitu formal, namun saat jam kantor sudah selesai mereka berbicara layaknya seorang teman yang selalu bebincang sambil bercanda. Saat sedang bekerja mereka selalu serius dalam hal apapun. Namun setelah semuanya selesai mereka selalu tertawa bersama dan selalu bertukar cerita.
Tak terasa hampir seharian Pak Ahmad berada dikantor. Waktu menunjukan pukul 4 sore, itu artinya semua karyawan sebentar lagi akan segera pulang termasuk Pak Ahmad yang sedang bersiap untuk pulang.