
Tak terasa hampir seharian mereka selalu bersama. Kemanapun Khanza pergi, dia pasti akan selalu mengikutinya. Arga kini merasa dekat kembali dengan Khanza. Begitupun dengan Khanza yang semakin lama semakin nyaman berada didekat Arga.
Rasanya perasaan yang dulu pernah ada, datang kembali. Setelah hampir satu tahun berlalu perpisahan antara Khanza dan Azam, mungkin kini Khanza akan membuka hatinya kembali. Sebagai wanita yang normal Khanza ingin merasakan hidup yang bahagia.
Meski sedikit trauma, namun kehidupan Khanza harus tetap berlanjut. Setelah pulang kantor, Arga berniat untuk mengantar Khanza pulang. Namun sebelum itu ia ingin mengajak Khanza makan terlebih dahulu dan Arga ingin mengungkapkan tentang perasaannya.
"Apa kamu lapar Khanza? Kita mampir dulu untuk makan, sekalian ada sesuatu yang ingin aku katakan," ujar Arga yang sedang menyetir dan sesekali menatap Khanza yang sedang duduk disampingnya.
"Kebetulan perutku sudah keroncongan," jawab Khanza.
Mendengar jawaban Khanza membuat Arga tersenyum. Khanza masih belum berubah, dia masih terlihat polos sama seperti beberapa tahun silam. Arga pun segera melajukan kendaraannya dengan kecepatan yang tinggi.
Arga segera bergegas menuju restoran favorit mereka berdua saat itu.
"Kamu masih ingat dengan tempat ini Ga?" tanya Khanza yang masih tidak percaya dengan Arga yang akan membawanya ke tempat favorit mereka berdua.
__ADS_1
"Tentu aku ingat. Aku akan selalu mengingat kenangan kita dulu Khanza," jawab Arga.
Mendengar hal itu membuat Khanza tersipu malu. Jika kemarin-kemarin Khanza masih bersikap dingin, tapi untuk kali ini Khanza berusaha untuk bersikap hangat pada Arga.
Sebab Arga tidak memiliki salah apa-apa.
Mulai saat ini Khanza akan memulai semuanya dari awal. Ia akan membuka hatinya untuk membuka lembaran yang baru. Sesampainya di dalam Arga segera memesan makanan yang mereka sukai.
Arga masih ingat betul dengan apa yang disukai Khanza. Khanza merasa tersentuh dengan apa yang Arga lakukan. Mereka pun menikmati makanan yang mereka pesan tadi. Beberapa menit kemudian akhirnya mereka selesai menghabiskan makanannya.
"Iya Ga, kenapa?" tanya Khanza yang menautkan kedua halisnya. Khanza merasa jika Arga kini akan berbicara dengan serius.
"Sebenarnya ada sesuatu yang ingin aku bicarakan," timpal Arga yang kini memperhatikan Arga dengan seksama.
"Tentang apa Ga?" tanya Khanza lagi yang semakin merasa bingung dengan apa yang ingin dikatakan Arga.
__ADS_1
"Sebenarnya aku, aku masih memiliki perasaan yang sama untukmu Khanza," tukas Arga yang kini mulai mengungkapkan perasaannya.
"Maksud kamu Ga?" tanya Khanza lagi yang pura-pura merasa tidak mengerti dengan apa yang dikatakan Arga.
"Aku masih sangat mencintai dan menyanyangimu Khanza, bahkan perasaanku sejak dulu tidak pernah berubah hingga detik ini," lirih Arga yang kini mulai menyakinkan Khanza.
"Apa? Apa aku tidak salah dengar Ga? Apa itu semua benar?" tanya Khanza lagi yang merasa percaya tidak percaya dengan apa yang didengarnya.
"Tidak Khanza, aku serius. Apa kamu merasakan hal yang sama?" tanya Arga.
"Mmh sebenarnya aku, aku juga masih memiliki perasaan yang sama Ga," jawab Khanza yang sama-sama mengatakan perasaannya yang sesungguhnya.
"Benarkah Khanza? Apa itu artinya kita bisa memulai semuanya dari awal lagi?" tanya Arga.
Tanpa berkata apa-apa, Khanza hanya mengangguk sebagai tanda setuju. Khanza merasa malu jika harus menjawab pertanyaan Arga.
__ADS_1
"Yes! terima kasih Khanza," sorak Arga yang kini merasa bahagia.