
Setelah pertemuan itu akhirnya pernikahan mereka segera ditetapkan. Tidak lama lagi mereka akan segera dipersatukan. Hal ini yang membuat Arga semakin bahagia sebab sudah sejak lama dia menantikan saat-saat seperti ini.
"Terima kasih Khanza," ujar Arga yang membuka pembicaraan.
"Terima kasih untuk apa Ga?" tanya Khanza yang menautkan kedua halisnya karena merasa tidak mengerti.
"Terima kasih karena kamu sudah mau menerima lamaranku," tukas Arga sambil memegang tangan Khanza.
"Iya Ga, kenapa harus berterima kasih segala," timpal Khanza.
Arga hanya tersenyum saat mendengar Khanza berbicara seperti itu. Sementara Khanza juga merasa lega karena akhirnya ia akan mengakhiri masa kesendiriannya. Meski awalnya Khanza melakukan ini hanya untuk menghindari mantan suaminya.
Tapi didalam lubuk hatinya yang paling dalam Khanza juga pernah menyukai Arga. Hanya saja Khanza tidak terlalu menunjukan rasa itu. Rasa yang dulu pernah ada didalam hati Khanza.
__ADS_1
Beberapa hari kemudian saat Khanza akan pergi ke kantor. Tiba-tiba saja dalam perjalanan ada seseorang yang mengikutinya dari belakang. Merasa risih karena ada yang membuntutinya Khanza pun segera menepikan motornya.
"Mau apa kamu mengikuti saya sejak tadi?" pekik Khanza yang segera menghampiri pria yang tadi membuntutinya. Seorang pria yang menggunakan motor besar, memakai jaket kulit serta memakai helm itu tidak banyak berbicara.
"Khanza aku mohon maafkan aku," lirih pria itu yang segera membuka helmnya secara perlahan.
"Mas Azam?" tanya Khanza yang masih tidak percaya dengan seseorang yang sejak tadi membuntutinya ternyata mantan suaminya.
"Untuk apa lagi mas masih mengikuti saya? Sudah saya bilang diantara kita sudah tidak ada apa-apa lagi. Hubungan kita sudah berakhir mas!" pekik Khanza penuh penegasan.
"Sudah sejak lama aku sudah memaafkanmu mas, tapi untuk kembali maaf aku tidak bisa mas. Karena sebentar lagi aku akan segera menikah," jawab Khanza yang terpaksa harus mengatakan semua ini agar Azam tidak mengejarnya lagi.
"Apa? Menikah? Jadi kamu memang sudah menemukan pengganti dalam hidupmu Khanza," tanya Azam yang masih tidak percaya dengan apa yang didengarnya. Azam pun perlahan mundur dari hadapan Khanza. Azam terdiam untuk beberapa saat. Dan kini ia pun mulai meninggalkan Khanza.
__ADS_1
Azam mengendarai kendaraannya dengan kecepatan tinggi. Mendengar berita pernikahan Khanza membuat Azam merasa sakit hati dan terluka. Azam masih tidak percaya dengan Khanza yang ternyata dengan mudahnya membuka hati untuk orang lain.
"Maafkan aku mas, aku terpaksa harus mengatakan semua ini agar kamu berhenti mengejarku. Aku tidak ingin kamu datang dihidupku lagi mas," lirih Khanza yang perlahan menaiki kendaraannya lagi dan melanjutkan perjalanannya ke kantor. Melihat jam yang ada ditangannya waktu menunjukan sudah terlalu siang.
"Astaga aku sudah terlambat," gumam batin Khanza yang segera bergegas pergi ke kantornya dengan kecepatan tinggi.
Tak terasa beberapa saat kemudian Khanza akhirnya tiba dikantor.
"Loh itu kan Khanza kenapa dia terburu-buru seperti itu," gumam batin Arga yang melihat Khanza menyebut.
"Khanza," panggil Arga saat Khanza baru turun dari motornya.
"Iya pak selamat pagi," jawab Khanza dengan tersenyum simpul dengan nafas yang sedikit terengah.
__ADS_1
"Kamu kenapa ngebut seperti itu?" tanya Arga.
"Ah tidak apa-apa pak, saya hanya terlambat saja," jawab Khanza.