
Perlahan tapi pasti Khanza mulai mendekati ruangan Azam. Khanza memberanikan diri membuka ruangan Azam. Setelah ditangani oleh dokter beberapa saat lalu, akhirnya Azam tersadar.
Ceklek..
Khanza mencoba membuka pintu itu dan segera bergegas masuk.
"Bagaimana keadaanmu mas?" tanya Khanza yang sedikit menjaga jarak dari Azam.
"Aku sudah lebih baik. Oh ya bagaimana bisa kamu berada disini?" tanya Azam balik yang merasa terkejut dengan kedatangan mantan istrinya.
"Tadi pihak rumah sakit yang menghubungiku, mereka mengira jika aku masih istrimu," jawab Khanza.
"Maafkan aku, gara-gara aku jadi merepotkanmu dengan datang kemari," timpal Azam yang merasa tidak enak.
"Sudahlah tidak apa, yang terpenting saat ini kamu baik-baik saja," ujar Khanza.
"Ya terima kasih, karena kamu masih saja perhatian," timpal Azam.
__ADS_1
"Ah ini bukan perhatian, ini hanya karena telpon itu saja," tukas Khanza lagi yang tidak ingin merasa Azam besar kepala karena dia datang menjenguknya. Seandainya Khanza tidak menerima telpon itu, mungkin dia tidak akan pernah datang ke rumah sakit untuk menjenguk Azam.
Cukup lama Khanza berada dirumah sakit. Khanza melihat waktu yang ada ditangannya, tak terasa hari sudah malam. Khanza harus segera bergegas pulang karena orang tuanya pasti akan mencemaskannya.
"Maaf aku harus segera pulang. Orang tuaku pasti akan khawatir," pamit Khanza.
"Apa kamu tidak bisa menemaniku walau hanya semalam saja," pinta Azam yang merasa keberatan saat Khanza harus pergi.
"Maaf aku tidak bisa, aku harus segera pergi," timpal Khanza lagi yang segera pergi meninggalkan ruangan Azam.
Ditempat parkir Khanza segera menyalakan mesin motornya. Dengan kecepatan yang tinggi, Khanza melajukan mobilnya. Khanza harus segera tiba dirumahnya agar ia tidak terlalu larut saat tiba dirumah.
Satu jam kemudian tibalah Khanza dirumah. Namun tidak jauh dari rumahnya terlihat mobil Arga yang sedang terparkir.
"Loh itu bukan nya mobilnya Arga? Sedang apa malam-malam disini?" gumam batin Khanza.
Khanza pun segera memarkirkan motornya ke dalam garasi.
__ADS_1
"Nak, dari mana saja kok baru pulang?" tanya Bu Bela.
"Itu bu anu, tadi aku jenguk temen dulu dirumah sakit," jawab Khanza terbata.
"Arga sejak kapan ada disini?" tanya Khanza yang menautkan kedua halisnya.
"Aku tadi melihat ponselmu tertinggal dikantor, makanya aku segera bergegas mengantar ini ke rumahmu. Tapi saat tiba dirumah ibu bilang kamu belum pulang, makanya aku menunggu disini karena aku sangat khawatir," ujar Arga panjang lebar.
"Astaga maafkan aku jadi mengkhawatirkan kalian semua," lirih Khanza yang merasa tidak enak hati.
Khanza baru menyadari sesaat setelah menerima panggilan itu, ia menyimpan ponselnya diatas meja dan segera bergegas pergi ke rumah sakit karena merasa khawatir. Namun Khanza tidak mungkin menceritakan yang sebenarnya karena ia takut Arga akan kecewa dan salah paham.
Untuk itu lebih baik ia mengatakan jika ia menjenguk temannya. Agar semua orang tidak kecewa.
"Maafkan aku Ga, aku tidak pernah bermaksud untuk membohongimu. Aku hanya tidak ingin jika kamu akan salah paham," gumam batin Khanza.
"Kenapa Khanza? kok malah melamun?" tanya Arga yang tiba-tiba melihat Khanza terdiam.
__ADS_1