#Pov Suami Tak Berguna-Salahku Memilihmu

#Pov Suami Tak Berguna-Salahku Memilihmu
25. Pernyataan Arga


__ADS_3

Sudah beberapa minggu hubungan Khanza dan Arga berlalu. Namun bukan berarti bagi Khanza untuk melanjutkan hubungan ke jenjang yang lebih serius. Khanza masih trauma dengan hubungannya yang pertama terjadi pada Azam.


Meski Khanza sangat mencintai Arga, namun ia masih saja merasa takut.


"Ada apa Khanza?" tanya Arga yang tiba-tiba melihat Khanza terdiam.


"Ti, tidak, aku tidak apa-apa," jawab Khanza gagap.


"Oiya Khanza ada sesuatu yang ingin aku bicarakan," tambah Arga lagi.


"Ya kenapa Ga?" tanya Khanza yang menautkan kedua halisnya.


"Sebenarnya aku ingin membicarakan sesuatu," jawab Arga yang merasa bingung harus memulai pembicaraan dari mana. Arga ingin mengatakan langsung jika dirinya mengajak menikah. Namun Arga merasa takut jika Khanza akan menolaknya.


"Katakan saja Ga," ujar Khanza.


"Sebenarnya aku ingin mengajakmu menikah Khanza," tukas Arga yang langsung memberitahukan niatnya.


"Apa? Apa semua ini tidak terlalu cepat Ga?" tanya Khanza yang merasa bingung harus menjawab apa.

__ADS_1


"Tidak Khanza aku rasa ini tidak terlalu cepat karena aku ingin hubungan kita lebih serius lagi," jawab Arga.


"Ya aku tahu, tapi rasanya aku belum siap Ga," lirih Khanza yang merasa tidak enak.


Didalam hatinya Khanza sebenarnya ingin membuka lembaran baru bersama Arga. Namun Khanza masih trauma akan hubungannya dengan Azam. Dia merasa sangat takut jika hubungannya dengan Azam akan terulang kembali meski mereka saling mencintai.


Untuk beberapa saat pembicaraan diantara mereka pun terhenti. Mereka terdiam satu sama lain. Akan tetapi Arga mencoba mengambil nafasnya dalam-dalam. Arga mencoba tetap bersikap bijak dalam menyikapi ini semua.


"Aku mengerti Khanza, aku tidak akan memaksamu. Aku mau tetap menunggu sampai kamu benar-benar siap," timpal Arga yang mulai membuka pembicaraan lagi setelah beberapa saat terdiam.


"Terima kasih untuk pengertiannya Ga," ujar Khanza yang merasa tidak enak dengan perkataan Arga. Namun walau bagaimana pun Khanza tetap belum siap jika harus membuka lembaran baru bersama Arga.


"Kalau begitu aku akan mengantarmu pulang," tambah Arga.


Tanpa menjawab, Khanza hanya menganggukan kepalanya. Arga kini bergegas mengantar Khanza pulang. Sepanjang perjalanan tidak ada obrolan khusus dari keduanya. Kini Khanza hanya banyak diam.


Tak terasa satu jam kemudian akhirnya mereka tiba dirumah Khanza.


"Terima kasih Ga," ujar Khanza saat ia turun dari mobil.

__ADS_1


"Tidak mampir dulu Ga?" ajak Khanza.


"Tidak Khanza, terima kasih," jawab Arga yang segera memarkirkan mobilnya.


"Ya sudah kalau begitu aku pergi," pamit Arga yang segera melajukan mobilnya.


"Iya Ga hati-hati," timpal Khanza.


Saat Khanza akan berjalan menuju rumahnya tiba-tiba saja ada seseorang yang memanggil namanya.


"Khanza!" teriak orang itu.


"Mas Azam? sedang apa disini?" tanya Khanza yang merasa terkejut dengan kedatangannya yang tiba-tiba.


"Khanza, tolong maafkan aku. Aku khilaf. Tolong berikan aku satu kesempatan saja Khanza, kita mulai semuanya dari awal lagi," lirih Azam yang kini benar-benar merasa bersalah.


"Aku sudah memaafkanmu mas, tapi kesempatan itu sudah hilang mas. Aku sudah memberikan satu kesempatan tapi kamu menyia-nyiakannya mas," ujar Khanza.


"Aku mohon Khanza, aku masih sangat mencintaimu," lirih Azam yang kini berlutut dihadapan Khanza.

__ADS_1


"Maaf mas tidak bisa, aku tidak mau mengulangi kesalahanku dengan memberikanmu kesempatan mas," timpal Khanza yang kini meninggalkan Azam ke dalam rumah.


__ADS_2