
"Siapa itu tadi?" tanya Azam yang baru saja melihat Khanza diantar oleh seorang laki-laki.
"Itu hanya tukang ojeg mas," jawab Khanza.
"Ah kamu pasti bohong, dia pasti selingkuhanmu kan?" ujar Azam yang menuduh Khanza sembarangan.
"Astaghfirulloh mas, itu benaran tukang ojeg," jawab Khanza lirih.
"Ya sudah cepat siapkan makanan, aku sudah lapar dari tadi!" pekik Azam.
Meski merasa sangat lelah, tapi Khanza harus segera menyiapkan makanan untuk Azam. Khanza membuka kulkas dan membuat masakan sesuai dengan bahan-bahan yang ada didalam kulkas.
Beruntung saat membuka kulkas masih ada beberapa stok makanan berupa daging ayam, tahu dan tempe. Khanza pun segera membuat ayam goreng, serta tahu dan tempe goreng. Tidak lupa ia juga membuat tambahan sambal dan kerupuk sebagai pelengkap.
Tidak butuh waktu yang lama akhirnya Khanza menyelesaikan masakannya.
"Semuanya sudah siap mas," ujar Khanza yang menyusul Azam diruang tamu.
Tanpa menjawab apa-apa, Azam segera melangkahkan kakinya menuju meja makan. Azam pun segera menyantap makanannya sebab sudah dari tadi ia merasa lapar. Bahkan Azam menambah makanannya sampai 2 kali karena rasa makanannya yang begitu enak.
"Oiya mas, besok aku harus keluar rumah lagi untuk interview," ujar Khanza.
"Ya terserah apa yang akan kamu lakukan," jawab Azam sinis.
"Tapi mas sampai kapan kamu akan terus berada dirumah? Apa kamu tidak berusaha mencari pekerjaan mas?" tanya Khanza lagi.
"Aku tidak mau bekerja dan aku tidak mau kemana-mana," pekik Azam sambil berlalu meninggalkan rumah entah akan kemana.
Khanza yang sejak tadi berusaha bersabar pun akhirnya air mata itu luruh juga. Khanza tidak bisa lagi menahan kesedihannya karena sikap Azam. Azam yang merupakan kepala keluarga tidak mau membiayai kebutuhan Khanza sudah berbulan-bulan.
Entah apa yang akan dikatakan Khanza jika ibunya sampai mengetahui tentang hal ini. Meski merasa sangat lelah karena hampir seharian mencari pekerjaan, tapi Khanza tetap menjalankan tugasnya sebagai seorang istri.
Khanza tetap menyiapkan makanan meski tubuhnya terasa begitu lelah. Namun balasan apa yang didapatkan Khanza, ia hanya mendapatkan kesedihan dari Azam.
Hari sudah semakin larut, tapi Azam masih belum juga.
__ADS_1
"Kemana kamu mas malam-malam begini," gumam batin Khanza yang mengkhawatirkan keadaan suaminya.
Khanza menunggu kedatangan Azam diruang tamu sampai ia ketiduran. Namun sampai pagi menjelang pun ternyata Azam tidak kunjung pulang.
Keesokan harinya, Khansa sudah bersiap karena hari ini ia akan melamar pekerjaan di perusahaan Arga. Setelah sarapan Khanza segera bergegas pergi menuju sebuah perusahaan yang cukup terkenal dikota itu.
Wijaya Grup adalah sebuah perusahaan yang bergerak dalam bidang ekspor impor barang kerajinan. Sudah berpuluh-puluh tahun perusahaan ini berdiri. Kini Arga lah yang memegang perusahaan itu.
Satu jam kemudian tibalah Khanza disebuah perusahaan yang cukup besar. Gedung yang menjulang tinggi dan karyawan-karyawan yang begitu banyak membuat Khanza merasa pesimis jika ia akan diterima ditempat itu.
"Permisi pak, saya mau bertemu dengan Pak Arga," ujar Khanza yang menemui satpam sebelum masuk ke dalam gedung itu.
"Apakah anda sudah membuat janji?" tanya satpam itu memastikan.
"Sudah pak, saya diminta untuk datang kesini hari ini juga," jawab Khanza.
"Baiklah kalau begitu biar saya antar ke ruangan Pak Arga," ujar satpam itu yang segera bersiap melangkahkan kakinya.
"Iya pak terima kasih," jawab Khanza yang segera mengekor dibelakang satpam itu.
Setelah berbicara panjang lebar, Khanza akhirnya pergi menuju ruangan Arga yang diantar oleh satpam itu. Entah berada dilantai berapa ruangan Arga, satpam itu mengajak Khanza pergi ke atas menggunakan lift.
Akhirnya lift itu berhenti. Khanza segera keluar mengikuti langkah satpam itu.
Tok.. Tok..
"Permisi pak, ada seseorang yang ingin bertemu dengan anda. Katanya dia sudah membuat janji dengan bapak," ujar satpam itu.
"Suruh dia masuk!" titah Arga.
"Silahkan bu, anda bisa masuk," ujar satpam itu yang mempersilahkan.
"Terima kasih karena sudah mengantar saya pak," ujar Khanza sesaat sebelum satpam itu pergi.
"Sama-sama bu," jawab satpam itu yang tersenyum simpul.
__ADS_1
"Silahkan duduk," tawar Arga.
"Terima kasih," jawab Khanza yang segera memberikan surat lamarannya kepada Arga.
"Biar aku lihat dulu," ujar Arga yang hanya melihat lamaran Khanza sebagai formalitas.
"Selamat hari ini kamu sudah mulai bisa bekerja, atau besok saja tidak apa-apa," tukas Arga setelah melihat lamaran Khanza.
"Benar itu Ga? Eh maaf pak," ujar Khanza yang merasa bingung harus memanggil apa pada Arga sebab dikantor ini ia merupakan bosnya.
"Panggil saja pak kalau ada orang, tapi kalau kita sedang berdua seperti ini panggil saja Arga," jawab Arga.
"Baiklah, aku akan mulai bekerja hari ini saja," timpal Khanza yang merasa senang karena akhirnya ia bisa bekerja.
"Oke silahkan, kalau begitu aku akan menelfon Sindi untuk mengajarkanmu tentang tugas-tugasmu," ujar Arga.
"Ya terima kasih Ga," jawab Khanza yang sebenarnya merasa tidak enak. Akan tetapi Khanza sangat memerlukan pekerjaan ini.
Arga pun segera menelpon sekretaris lamanya untuk bisa mengajarkan Khanza tentang hal apa saja yang harus dilakukannya. Tidak lama datanglah seorang wanita yang bernama Sindi. Sindi merupakan asisten Arga yang sudah bekerja lama dengan Arga.
Namun berhubung Sindi yang sekarang sedang hamil besar, maka ia akan mengambil cuti. Untuk itu Khanza lah yang akan menggantikan tugas Sindi nantinya. Sindi merupakan wanita yang cukup baik dan ramah, sehingga tidak butuh waktu yang lama bagi Khanza untuk bisa mengerti semua tentang tugasnya sebab Sindi menjelaskan semuanya secara detail.
Khanza yang cerdas dan berpengalaman tidak butuh waktu yang begitu lama untuk bisa mengerti mengenai pekerjaannya. Sindi pun merasa senang karena ia tidak perlu susah payah mengajarkan banyak hal pada Khanza.
"Wah mba ini gampang banget diajarinnya," ujar Sindi yang merasa senang melihat kemajuan Khanza yang baru belajar sebentar.
"Ah biasa aja bu, saya hanya bisa sedikit-sedikit saja," jawab Khanza merendah. Khanza yang memang pintar tidak suka jika ada orang lain yang memujinya.
Hampir seharian penuh Khanza mulai bekerja hari ini. Waktu menunjukan pukul 4 sore, itu artinya sebentar lagi jam pulang kantor akan tiba.
"Wah ge kerasa mba, sebentar lagi akhirnya kita pulang," ujar Sindi yang hampir seharian ini mengajari Khanza.
"Alhamdulillah akhirnya, beres juga ya," jawab Khanza yang tak kalah senang akhirnya ia bisa pulang juga setelah seharian bekerja.
"Kalau begitu saya pulang duluan mba," pamit Sindi.
__ADS_1
"Iya bu, silahkan," jawab Khanza yang masih bersiap akan pulang.
Saat Khanza sedang berjalan dikoridor tiba-tiba Arga memanggilnya.