
Pak Ahmad, Bu Bela dan Khanza masih berkumpul diruang tamu. Pembicaraan mereka masih membahas tentang pernikahan anaknya. Kini Pak Ahmad menyerahkan segalanya kepada anaknya. Ia tidak mau lagi memaksa anaknya dalam menjalani sebuah hubungan. Walau bagaimanapun Pak Ahmad tetap merasa bersalah karena pernikahan anaknya kini sedang berada diambang kehancuran.
Ditengah pembicaraan mereka tiba-tiba seseorang masuk ke dalam rumah. Seseorang itu tidak lain adalah Azam. Sebenarnya dia tahu jika diluar ada mobil mertuanya, namun ia pura-pura tidak tahu.
"Mas Azam?" tanya Khanza yang melihat suaminya baru pulang sejak kemarin.
"Ayah, ibu, apa kabar?" tanya Azam yang langsung menyapa mertuanya untuk mengalihkan pertanyaan Khanza.
"Sudahlah, jangan pura-pura baik dihadapan kami. Kami sudah tahu semuanya!" pekik Pak Ahmad yang sudah sangat kesal karena melihat tingkah menantunya yang sudah sangat keterlaluan.
"Apa maksud ayah?" tanya Azam yang masih belum mau mengakui perbuatannya. Bahkan Azam bertindak kurang sopan kepada mereka karena dia berbicara sambil berdiri.
"Khanza apa yang kamu bicarakan kepada orang tuamu? Apa maksud ayahmu menanyakan itu semua?" tanya Azam yang merasa kesal karena baru saja datang sudah langsung di interogasi.
"Khanza tidak pernah membicarakan tentang keburukanmu kepada kami. Bahkan Khanza selalu menutupi setiap kesalahan yang kamu lakukan Azam!" pekik Pak Ahmad yang tersulut emosi dan hampir akan menampar menantunya.
"Ayah, sudah hentikan!" teriak Bu Bela yang menahan tangan suaminya.
"Kita bisa bicarakan ini baik-baik yah, jangan seperti ini," ujar Bu Bela dengan nada yang begitu lembut dan mengajak suaminya duduk kembali.
"Ok, duduklah aku ingin bicara," ujar Pak Ahmad yang mulai berbicara dengan tenang.
"Sebenarnya apa yang ingin kalian bicarakan?" tanya Azam yang masih belum mengakui kesalahannya.
Sementara Khanza hanya bisa terdiam. Dia tidak banyak bicara saat itu. Khanza hanya memperhatikan perangai suaminya.
"Jadi memang benar jika kamu sudah memiliki wanita lain?" tanya Pak Ahmad.
__ADS_1
Mendengar kata-kata ayah mertuanya membuat Azam tidak bisa berkutik. Jika ia mengatakan tidak, dulu ia pernah dipergoki oleh ayah mertuanya. Namun jika ia mengatakan iya, dia merasa takut karena kebohongannya akan terbongkar dihadapan Khanza.
Dulu Azam pernah berjanji jika ia akan meninggalkan wanita itu. Tapi pada kenyataannya Azam justru masih berhubungan dengan selingkuhannya di belakang Khanza. Meski sudah berjanji tapi Azam mengingkari janji itu.
"Azam, apa kamu dengar kata-kata ayah?" tanya Pak Ahmad yang mulai meninggikan suaranya.
"Iya yah, sebenarnya aku memang mencintai wanita lain," lirih Azam yang mau tidak mau harus mengakui segalanya.
"Sudah kuduga, kurang ajar kamu berani-beraninya mempermainkan hidup Khanza!"
Bug..
Merasa kesal dengan pernyataan Azam membuat Pak Ahmad benar-benar tersulut emosi. Ia sudah tidak tahan lagi dengan semua perbuatan menantunya itu. Azam seketika tersungkur, namun dia tidak membalas mertuanya karena memang dialah yang bersalah.
"Apa mas? Jadi selama ini kamu masih berhubungan dengan wanita itu?" tanya Khanza dengan suara bergetar. Khanza masih tidak menyangka jika ternyata suaminya ternyata membohonginya. Azam ternyata masih berhubungan dengan wanita itu.
"Maafkan aku Khanza, maafkan aku. Aku benar-benar sudah menyesal karena tindakanku ini," lirih Azam yang kini mulai merasa bersalah.
"Maaf katamu mas? Saat itu kamu juga berbicara seperti itu, tapi apa kenyataannya? Kamu mengulangi lagi kesalahanmu mas!" pekik Khanza yang sudah benar-benar merasa sakit hati.
Azam tidak bergeming. Ia hanya bisa diam karena yang diucapkan Khanza memang benar seperti itu. Azam mengingkari janjinya. Azam memang sudah benar-benar keterlaluan.
"Aku ingin kita berpisah mas, aku sudah tidak sanggup lagi menahan semua ini," lirih Khanza. dengan suara yang bergetar. Sebenarnya Khanza merasa berat mengucapkan kata-kata itu. Akan tetapi jika sudah tidak ada lagi cinta, untuk apa Khanza mempertahankan rumah tangga ini. Untuk apa dia bertahan hingga saat ini.
"Tapi Khanza aku mohon, beri aku kesempatan sekali lagi," lirih Azam yang tidak terima jika Khanza meminta pisah darinya. Azam sangat terkejut dengan apa yang dikatakan Khanza.
"Maaf mas, kesempatan itu sudah hilang. Kamu sudah menyia-nyiakan kesempatan yang aku berikan. Kini tidak ada lagi kesempatan itu," ujar Khanza yang segera bergegas menuju kamarnya. Khanza membereskan semua pakaiannya.
__ADS_1
"Tunggu Khanza," teriak Azam yang melihat Khanza berlalu dihadapannya.
Sementara orang tua Khanza tidak berkata apa-apa lagi. Kali ini mereka mendukung keputusan anaknya. Mereka hanya memperhatikan langkah Khanza.
Beberapa menit kemudian Khanza keluar dari kamarnya dengan membawa sebuah koper besar. Perlahan tapi pasti Khanza mulai melangkahkan kakinya sambil menyeret koper besar itu.
"Tunggu aku Khanza, maafkan aku," lirih Azam yang lagi-lagi memohon dihadapan Khanza. Namun tidak ada jawaban apapun dari mulut Khanza.
"Ayo bu, ayah! Aku sudah tidak sanggup lagi berada disini," ujar Khanza yang melewati kedua orang tuanya dengan berlinangan air mata.
"Ayo nak," jawab Bu Bela yang segera mengekor dibelakang anaknya.
"Kamu tunggu saja surat dari pengadilan nanti!" pekik Pak Ahmad yang langsung meninggalkan rumah Azam
Dengan berat hati Khanza terpaksa harus melakukan semua ini. Setelah kejadian hari ini, Khanza benar-benar ingin segera berpisah dari suaminya. Khanza sudah tidak sanggup lagi mendengar kebohongan-kebohongan suaminya.
"Yang sabar nak, serahkan semua ini pada Allah," ujar Bu Bela sambil memeluk anaknya saat mobil itu mulai berjalan.
"Iya bu," jawab Khanza yang semakin menangis dipelukan ibunya.
Bu Bela merasa tidak tega melihat anaknya bersedih seperti itu. Namun ia tidak bisa berbuat apa-apa. Bu Bela hanya bisa menenangkan anaknya sambil mengusap punggung Khanza.
"Sabar sayang, ayah akan segera mengurus perpisahanmu," ujar Pak Ahmad sambil menyetir mobilnya.
"Iya Ayah, aku ingin segera berpisah dari mas Azam. Aku sudah tidak sanggup lagi dengan semua ini yah," lirih Khanza.
"Iya sayang ayah akan urus semuanya. Sudah jangan terlalu dipikirkan ya," ujar Pak Ahmad.
__ADS_1
Tanpa menjawab perkataan ayahnya Khanza hanya mengangguk. Dada Khanza sudah sangat sesak sebab menangis sejak tadi. Khanza merasa sudah lelah dengan semua ini. Sudah sangat lama Khanza menahan semuanya, tapi kali ini Khanza sudah tidak sanggup lagi.