
Khanza masih tidak percaya dengan apa yang terjadi kemarin. Hari yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya bagi Khanza. Hari dimana ia akan menyandang status baru sebagai seorang janda. Ya itulah yang terjadi kini pada Khanza.
Ia tidak pernah membayangkan jika ia akan mendapatkan status baru seperti ini. Jika saja Khanza tahu semua ini akan terjadi, mungkin ia tidak akan pernah menikah. Akan tetapi kita sebagai manusia tidak pernah tahu apa yang akan terjadi pada hidup kita.
Setelah menyandang status barunya itu, kini Khanza ingin memiliki semangat hidup yang baru. Hari ini Khanza baru akan mulai masuk bekerja lagi, karena sudah beberapa hari ia meminta izin dengan alasan sakit.
Akan tetapi untuk hari ini sepertinya tidak lagi. Khanza tidak ingin larut dalam kesedihan. Khanza ingin memulai hidupnya yang baru. Pagi-pagi sekali Khanza harus sudah bangun dan segera bersiap berangkat ke kantornya.
"Loh mau kemana nak? Pagi-pagi begini sudah siap," tanya Bu Bela yang yang tidak menyangka melihat anaknya kini terlihat lebih segar.
"Aku mau mulai bekerja bu, aku sudah begitu bosan berada dirumah terus," jawab Khanza yang segera bergegas ke meja makan untuk sarapan.
"Apa kamu yakin nak?" tanya Bu Bela memastikan.
"Yakin bu, aku sangat yakin. Mungkin dengan bekerja pikiranku akan teralihkan bu," ujar Khanza lagi.
"Jika itu yang membuatmu senang maka lakukanlah nak. Ibu akan selalu mendukungmu selama hal itu baik bagimu," tukas Bu Bela yang memegangi pundak anaknya sambil memeluknya.
"Terima kasih bu," ujar Khanza yang merasa senang setelah mendapatkan pelukan dari ibunya.
"Sama-sama nak," tukas Bu Bela.
Setelah menghabiskan sarapannya, Khanza pun berpamitan kepada ibunya untuk segera pergi dari rumahnya.
"Tapi apa itu tidak terlalu jauh nak?" tanya Bu Bela.
"Mungkin nanti setelah mendapatkan pekerjaan yang cocok aku akan pindah lagi bu," jawab Khanza yang merasa bingung jika harus keluar. Sebab Khanza baru masuk bekerja belum genap satu bulan.
"Kalau begitu aku pergi dulu ya bu," pamit Khanza yang mencium punggung tangan ibunya sebelum ia pergi.
"Iya sayang hati-hati ya," ujar Bu Bela.
"Iya bu, assalamualaikum," pamit Khanza sambil berlalu keluar rumah.
"Waalaikumsalam," jawab Bu Bela sambil menyaksikan kepergian anaknya diambang pintu," jawab Bu Bela.
__ADS_1
Khanza pun kini pergi menggunakan motor miliknya. Jika dulu sebelum menikah ia selalu membawa motornya kemanapun ia pergi, akan tetapi setelah menikah Khanza memilih untuk meninggalkan motornya dirumah orang tuanya. Sebab setelah menikah Khanza memilih untuk menghabiskan banyak waktunya dirumah.
Sedangkan kini setelah perpisahannya dengan suaminya, Khanza mulai mengenakan motor itu kembali. Orang tua Khanza sengaja tidak menjual motor itu dan sengaja menyimpannya untuk Khanza.
"Apa kabar biru?" tanya Khanza pada sebuah motor berwarna biru miliknya. Sedari dulu Khanza memang sangat menyukai warna biru, untuk itu Khanza pun memilih motornya sesuai dengan warna favoritnya.
"Sepertinya sudah sangat lama kita tidak berjumpa, aku harap sekarang kamu akan selalu setia menemaniku," ujar Khanza lagi terhadap benda mati itu.
Sudah lama tidak memakainya membuat Khanza sangat merindukan motornya. Akhirnya setelah memandu motornya, Khanza segera bergegas pergi menuju kantornya.
Sebuah kantor yang letaknya lumayan jauh. Khanza sengaja berangkat menggunakan motornya agar ia tidak terjebak macet. Jika dengan menaiki motor, Khanza bisa menyalip kesana-kemari.
Tak terasa hampir 2 jam mengendarai motornya, akhirnya Khanza tiba di tempat tujuan. Kantor yang sudah beberapa hari tidak ia datangi karena masalah pribadinya. Kini ia baru akan memulai aktifitasnya kembali disini.
"Kamu tunggu disini ya biru, aku harus kerja dulu," pamit Khanza sambil mengusap motor miliknya.
Sementara Arga yang memperhatikan Khanza dari kejauhan merasa cukup senang. Pasalnya sudah beberapa hari ini mereka tidak bertemu.
"Akhirnya Khanza masuk juga," gumam batin Arga.
"Selamat pagi pak," sapa Khanza saat menyadari Arga lah yang memanggilnya.
"Selamat pagi. Bagaimana dengan kondisiku apa sudah sehat?" tanya Arga formal.
"Sudah pak alhamdulillah. Kalau begitu saya permisi ke ruangan saya pak," pamit Khanza yang segera bergegas menuju ruangannya.
"Ya silahkan," ujar Arga sambil tersenyum simpul.
Khanza pun mempercepat langkahnya. Ia merasa tidak enak jika harus ditanyai dengan beberapa pertanyaan. Padahal sebenarnya Arga sengaja mengajukan banyak pertanyaan hanya agar bisa berdekatan dengan Khanza.
Beberapa hari tidak bertemu dengan Khanza membuat Arga sangat merindukan Khanza. Entah mengapa saat Khanza tidak ada, Arga merasa ada yang kurang.
"Syukurlah, akhirnya kamu mulai masuk juga Khanza," gumam Arga dalam hati.
Dari kejauhan Arga pun selalu menyaksikan gerak-gerik Khanza. Arga merasa ingin selalu dekat dengan Khanza. Tak terasa kini jam istirahat tiba dan kini waktunya makan siang. Arga memberanikan diri datang ke ruangan Khanza untuk mengajaknya makan siang bersama.
__ADS_1
"Khanza, apa kamu sudah ada janji bersama orang lain?" tanya Arga yang tampak ragu saat mengajak Khanza makan bersamanya. Arga merasa takut jika Khanza sudah memiliki janji bersama orang lain.
"Pak Arga? Saya belum memiliki janji dengan siapapun pak," jawab Khanza.
"Syukurlah," ujar Arga dengan suara yang sangat pelan.
"Bapak bilang apa?" tanya Khanza yang seperti mendengar Arga mengatakan sesuatu.
"Ah tidak, saya tidak bilang apa-apa," ujar Arga yang sengaja berbohong pada Khanza.
"Ya sudah ayo kita cari makan diluar!" ajak Arga yang sengaja mengalihkan pembicaraan.
"Mari pak," jawab Khanza yang segera bergegas keluar kantor.
"Oiya kamu mau makan dimana?" tanya Arga membuka pembicaraan saat berjalan dikoridir kantor.
"Saya terserah bapak saja," jawab Khanza.
"Apa kamu masih menyukai spageti Khanza?" tanya Arga.
"Bapak masih ingat makanan kesukaan saya?" tanya Khanza yang masih tidak percaya dengan apa yang didengarnya. Khanza masih tidak percaya dengan Arga yang masih mengingat semuanya.
"Tentu aku mengingatnya Khanza, dan akan selalu mengingatnya," ujar Arga.
"Bapak bisa saja," ujar Khanza yang merasa salah tingkah dihadapan Arga.
Tanpa menanyakan lagi mau kemana, akhirnya Arga membawa Khanza ke sebuah restoran yang tidak begitu jauh dari kantornya. Tanpa bertanya kepada Khanza, Arga pun langsung memilih makanan dan minuman kesukaan Khanza.
Meski hubungan itu sudah berlangsung sangat lama, tapi Arga masih mengingat segalanya. Arga masih ingat jika Khanza sangat menyukai spageti dan jus stoberi.
"Kenapa kamu masih ingat semuanya Ga?" gumam batin Khanza yang lagi-lagi masih tidak percaya dengan apa yang dilakukan Arga.
"Khanza?" tanya Arga yang melihat Khanza tiba-tiba terdiam.
"Eh iya, kenapa Ga?" tanya balik Khanza yang merasa terkejut.
__ADS_1
"Kamu kenapa?" tanya Arga.