#Pov Suami Tak Berguna-Salahku Memilihmu

#Pov Suami Tak Berguna-Salahku Memilihmu
40. Kehadiran Sang Buah Hati


__ADS_3

Tak terasa beberapa bulan pun berlalu. Kini usia kandungan Khanza sudah menginjak 9 bulan, itu artinya sebentar lagi Khanza akan segera melahirkan. Menginjak usia 9 bulan, Khanza sudah tidak bisa tidur dengan nyenyak.


Rasanya untuk tidur saja sudah tidak nyenyak. Perut Khanza semakin membuncit, kakinya juga sudah mulai membengkak. Seluruh keluarga pun ekstra hati-hati dalam menjaga Khanza. Pagi itu saat Khanza sedang menyapu lantai, tiba-tiba saja perut nya merasa sakit.


"Aduh, ada apa dengan perutku? Rasanya sakit sekali," ujar Khanza yang seketika melepaskan sapu yang dipegangnya dan tiba-tiba terjatuh.


"Ada apa Khanza?" tanya Arga yang baru saja datang dari kamarnya.


"Aduh, rasanya sakit sekali," lirih Khanza sambil memegangi perutnya.


"Mungkin kamu akan segera melahirkan, kita ke rumah sakit ya!" ajak Arga yang merasa begitu panik.


Tanpa berkata apa-apa Khanza hanya menuruti apa kata suaminya. Arga segera bergegas menuju rumah sakit terdekat. Dengan kecepatan yang sangat tinggi Arga segera melajukan ke kendaraannya.


"Aduh," ujar Khanza sambil memegangi perutnya.


"Sabar sayang sebentar lagi kita akakon segera sampai dirumah sakit," tukas Arga yang semakin menambah kecepatan mobilnya.

__ADS_1


Tak berapa lama akhirnya mereka tiba disalah satu rumah sakit terdekat dari rumah mereka.


"Tolong cepat bantu istri saya akan segera melahirkan," pekik Arga saat baru masuk ke dalam rumah sakit.


Beberapa perawat segera bergegas membawa Khanza menggunakan kursi roda menuju ruang melahirkan. Beberapa perawat dan seorang dokter kandungan pun sudah bersiap didalam ruangan.


Khanza segera ditangani dan dokter segera melakukan tindakan. Setelah beberapa jam mempertaruhkan nyawa akhirnya Khanza melahirkan seorang putri yang sangat cantik.


Ea.. ea..


Tidak ada jawaban dari mulut Khanza, ia hanya tersenyum simpul setelah melihat bayinya. Setelah memperlihatkan bayinya, perawat itu segera membawa bayinya untuk segera dibersihkan.


Setelah dibersihkan, bayi itu segera diberikan kepada Khanza untuk diberi ASI. Arga yang sudah tidak sabar menunggu kabar dari dalam sudah tidak bisa duduk dengan tenang. Akhirnya tak berapa lama salah seorang perawat keluar dan memberitahukan tentang bayinya yang sudah lahir.


"Selamat pak bayi anda perempuan," ujar seorang perawat itu.


"Wah benarkah? Aku ingin melihat bayiku," tukas Arga yang sangat antusias ingin segera melihat anaknya yang sudah lahir.

__ADS_1


"Silahkan pak," timpal suster itu yang segera mengajak Arga ke dalam ruangan itu.


Arga segera bergegas masuk ke dalam ruangan. Arga tersenyum simpul saat melihat istrinya sedang menyusui anaknya. Perasaan Arga begitu bahagia. Selama hidupnya baru kali ini dia merasakan kebahagiaan yang sesungguhnya.


"Anakku, cantik sekali," ujar Arga sambil mengecup pucuk kepala anaknya.


"Wajahnya cantik seperti ibunya," tambah Arga.


Khanza yang mendengar pujian itu hanya tersenyum simpul. Dia merasa malu atas pujian suaminya.


"Lihat hidungnya persis seperti hidung ayahnya," timpal Khanza yang tersenyum ke arah suaminya.


"Iya ya, aku baru sadar," tukas Arga yang memperhatikan wajah bayinya dengan seksama.


Tak berapa lama orang tua dari Arga dan Khanza pun datang. Mereka merasa bahagia atas kelahiran cucu pertama mereka. Mereka terlihat begitu senang saat melihat cucunya.


"Wah cucu nenek cantik sekali," ujar Bela yang segera mengecup cucunya.

__ADS_1


__ADS_2