#Pov Suami Tak Berguna-Salahku Memilihmu

#Pov Suami Tak Berguna-Salahku Memilihmu
22. Kedatangan Arga


__ADS_3

Ekhem.. ekhem..


Terdengar suara ibunya berdehem saat Khanza baru saja membuka pagar. Khanza merasa terkejut karena tidak menyangka jika ibunya sedang berada diteras rumah. Padahal setiap sore Bu Bela memang selalu bersantai diteras rumah setelah semua pekerjaan nya selesai.


"Ibu kenapa? batuk?" tanya Khanza yang tidak mengerti dengan gelagat ibunya.


"Tidak apa-apa, cowok tadi siapa?" tanya Bu Bela sambil mengangkat halisnya menggoda Khanza. Meski tidak melihat rupa orang yang mengantarkan Khanza pulang, tapi Bu Bela yakin seseorang itu pasti pria.


"Ish ibu apaan sih, genit banget," tukas Khanza sambil menghampiri ibunya saat baru pulang untuk mencium tangan ibunya.


"Ibu kan cuma tanya, laki-laki itu siapa?" tanya Bu Bela lagi sambil mengekor dibelakang Khanza.


"Dia teman lama aku Bu, sekaligus pemilik perusahaan di tempat aku kerja" jawab Khanza sambil berlalu menuju kamarnya.


"Oh seperti itu," tukas Bu Isabel yang masih saja menggoda anaknya sambil terkekeh.


"Ya sudah ah, aku mau mandi dulu," ujar Khanza yang segera bergegas menuju kamarnya untuk membersihkan diri.


Sedangkan Bu Bela hanya terkekeh setelah menggoda putrinya. Sebagai seorang ibu, Bu Bela merasa senang karena akhirnya anaknya bisa tersenyum kembali. Ia merasa beruntung karena Khanza kembali seperti Khanza yang dulu.


Khanza yang periang, ceria, bahkan Bu Bela bisa merasakan jika Khanza tidak terlihat bersedih lagi setelah masuk kerja beberapa hari ini.


"Assalamualaikum, kenapa bu senyum-senyum sendiri?" tanya Pak Ahmad yang melihat istrinya seperti itu. Ia merasa bingung karena istrinya senyum-senyum sendiri diruang tamu.


"Waalaikumsalam, eh ayah sudah pulang. Tidak ibu tidak apa-apa, ibu cuma merasa senang saja melihat Khanza yang kembali tersenyum," jawab Bu Bela setelah ia menyalami suaminya.


"Syukurlah ayah juga ikut senang mendengarnya," tukas Pak Ahmad.


Pak Ahmad pun segera bergegas ke dalam kamar untuk membersihkan diri. Setelah melaksanakan sholat magrib, semua orang berkumpul di meja makan untuk makan malam.


"Kemana Khanza? Kenapa masih belum keluar kamar," tanya Pak Ahmad.


"Kurang tahu yah, coba ibu panggilkan dulu," jawab Bu Bela yang segera bergegas menuju kamarnya. Bu Bela segera mengetuk pintu kamarnya.


Tok.. tok...


"Khanza," panggil Bu Bela dari luar kamar.


"Iya bu," jawab Khanza dari dalam kamar.


"Ayo kita makan dulu nak!" ajak Bu Bela.

__ADS_1


"Sebentar bu, nanti aku nyusul," pekik Khanza yang masih berada didalam kamar.


"Oke!" jawab Bu Bela yang segera bergegas menuju meja makan lagi.


"Loh mana Khanza bu?" tanya Pak Ahmad yang menautkan kedua halisnya.


"Sebentar lagi katanya mau kesini Yah," jawab Bu Bela yang baru saja akan duduk di kursi.


"Aku disini," timpal Khanza yang ternyata sudah datang dibelakang ibunya.


"Nah itu dia," tukas Bu Bela.


Akhirnya mereka pun makan malam bersama. Setelah Khanza menikah, ia tidak pernah makan bersama seperti ini lagi. Ditambah beberapa bulan terakhir Khanza hanya makan sendiri karena Azam jarang pulang ke rumah.


"Khanza, kamu kenapa nak?" tanya Bu Bela yang melihat Khanza tiba-tiba terdiam.


"Tidak bu, tidak apa-apa. Aku hanya rindu saja saat-saat seperti ini," lirih Khanza yang tiba-tiba saja matanya berkaca-kaca.


"Ibu mengerti, ya sudah jangan dipikirkan. Makan yang banyak ya," titah Bu Bela.


Akhirnya Khanza kembali melanjutkan menyantap makanannya. Bagi setiap anak, hal ini merupakan momen yang istimewa karena bisa berkumpul dengan ayah dan ibunya untuk bisa makan bersama.


Sedangkan Pak Ahmad merasa senang karena akhirnya anaknya sudah kembali.


"Oiya tadi ayah dengar dari ibumu, kamu diantar oleh laki-laki nak?" timpal Pak Ahmad yang baru saja menyelesaikan makannya.


Uhuk... uhuk..


"Kamu kenapa sayang?" tanya Bu Bela yang mengkhawatirkan anaknya karena tiba-tiba saja ia tersedak.


"Ini minum dulu," tawar Bu Bela yang segera menyodorkan segelas air putih ke hadapan Khanza.


"Terima kasih bu," ujar Khanza setelah ia meminum airnya.


Khanza benar-benar terkejut saat ayahnya menanyakan hal tentang seorang pria.


"Oh tidak hanya temanku Yah, dia juga pemilik perusahaan di tempat aku bekerja saat ini Yah," jawab Khanza.


"Lalu kenapa kamu tiba-tiba terkejut?" tanya Pak Ahmad.


"Tidak apa Yah, aku hanya merasa kaget saja," timpal Khanza lagi.

__ADS_1


"Ibu masih ingat dengan Arga? Dulu dia adalah teman baikku waktu aku Sekolah Menengah Atas (SMA) bu," ujar Khanza yang mencoba mengingatkan tentang Arga.


Untuk beberapa saat Bu Bela pun mencoba mengingat kejadian beberapa tahun ke belakang.


"Ya ya ya, sekarang ibu ingat. Arga dulu pacar kamu kan?" tanya Bu Bela lagi memastikan.


"Iya bu," jawab Khanza sambil menganggukan kepalanya karena merasa malu.


"Jadi ibu juga sudah tahu?" tanya Pak Ahmad.


"Iya yah, tapi ibu sudah lupa lagi dengan wajahnya karena waktu itu sudah sangat lama," jawab Bu Bela.


Tak terasa karena sudah malam perbincangan itu akhirnya harus diakhiri. Khanza segera bergegas menuju kamarnya, sedangkan Bu Bela dan Pak Ahmad pergi menuju kamarnya. Mereka pun kini istirahat dikamar masing-massing.


Keesokan harinya saat Khanza sedang bersiap, tiba-tiba saja terdengar suara klakson mobil.


"Bukannya itu mobil Arga?" gumam batin Khanza yang sepertinya ia mengenal suara klakson mobil itu.


Setelah Khanza bersiap, ia pun segera bergegas ke luar rumah untuk memastikan Arga atau bukan. Khanza keluar rumah hampir setengah berlari.


"Arga? Kamu ngapain kesini?" tanya Khanza yang menautkan kedua halisnya.


"Kan aku sudah bilang kemarin jika aku akan menjemputmu," jawab Arga yang memang sudah berjanji akan menjemput sejak kemarin.


"Tapi ini berlebihan, seharusnya kamu tidak perlu repot-repot," ujar Khanza yang merasa tidak enak.


"Siapa nak? Ajak dulu masuk temannya," teriak Bu Bela dari dalam rumah.


"Iya bu," teriak Khanza.


"Ayo masuk dulu Ga, aku belum siap-siap," tukas Khanza yang segera masuk ke dalam rumahnya.


"Tapi aku, aku," timpal Arga yang merasa tidak enak jika harus masuk ke dalam rumah Khanza.


Merasa begitu lama akhirnya Khanza menarik tangan Arga.


"Ayo, tidak apa-apa," ajak Khanza.


Arga pun hanya menggeleng saat tangannya ditarik oleh Khanza. Arga tidak berdaya, dan merasa malu jika ia sampai menolaknya. Akhirnya mau tidak mau Arga pun masuk ke dalam rumah dan bertemu dengan orang tua Khanza.


"Om, tante," sapa Arga yang menyalami mereka satu persatu.

__ADS_1


"Jadi ini yang namanya Arga, ganteng juga," celetuk Bu Bela.


__ADS_2