
Beberapa hari setelah pembicaraan itu membuat Arga semakin bersemangat. Sepulang dari kantor Arga ingin membicarakan niatnya kepada orang tuanya. Meski terkesan mendadak, tapi Arga sudah tidak sabar untuk segera mempersunting Khanza.
Tak terasa hampir seharian Arga bekerja. Walaupun Arga adalah sang pemilik dari perusahaannya tapi ia tidak pernah pulang sebelum karyawan nya pulang. Arga selalu pulang belakangan.
Selain tampan dan juga cerdas, Arga berfikir jauh dan panjang. Arga merupakan laki-laki idaman setiap wanita. Pria yang tampan, baik hati, serta bertanggungjawab. Wanita mana yang tidak akan jatuh cinta pada laki-laki seperti Arga.
Tak terasa setelah seluruh karyawan pulang, Arga segera bergegas pulang. Hari ini Arga begitu bersemangat dan ingin segera sampai dirumah.
Ting.. tong..
"Eh anak mamah sudah pulang?" sapa Bu Mentari yang merupakan ibu dari Arga.
"Iya mah! Oiya ada sesuatu yang ingin aku bicarakan mah," ujar Arga sambil mengambil posisi duduk di ruang tamu.
"Boleh sayang, tentang apa?" tanya Mentari antusias.
__ADS_1
"Aku ingin segera menikah bu," jawab Arga to the point.
"Apa? Jadi kamu sudah punya calon?" tanya Mentari yang merasa terkejut dengan keinginan anaknya. Sebab sudah lama sekali orang tua Arga berharap agar Arga segera memiliki pendamping hidup.
"Iya bu dan aku ingin besok kita melamar gadis itu," jawab Arga lagi yang seolah tidak sabar ingin segera menemui orang tua Khanza.
"Apa? Besok? Tidak salah nak?" tanya Mentari yang bertambah terkejut.
"Iya bu besok, bukannya kalian sudah tidak sabar ingin aku memiliki seorang pendamping. Sekarang giliran sudah ada, ibu malah terkejut," timpal Arga yang merasa bingung sendiri.
"Ya sudah kalau begitu aku mau mandi dulu bu," pamit Arga yang segera bergegas masuk ke dalam kamarnya.
Sementara Mentari merasa sangat bahagia mendengar anaknya akan melamar seseorang. Rasanya sudah tidak sabar bagi mentari menunggu kedatangan suaminya. Ia pun segera mencari benda pipih yang diatas nakas.
Mentari segera mencari nama suaminya dan segera membicarakan apa yang ingin dia katakan. Namun tak berapa lama akhirnya Pak Hermawan datang.
__ADS_1
"Papah sudah pulang?" tanya Mentari sambil menautkan kedua halisnya karena saat ia masih berbicara ternyata suaminya sudah tiba dirumah.
"Sebenarnya ada hal penting apa yang ingin ibu bicarakan?" tanya Hermawan yang merasa sangat penasaran dengan apa yang ingin dikatakan istrinya. Sebab tidak biasanya istrinya akan menelponnya.
Mentari pun segera membicarakan apa yang dikatakan anaknya barusan. Mendengar hal itu membuat Hermawan merasa sangat senang. Akhirnya anaknya memiliki seseorang untuk dilamar.
Berbeda dengan Mentari, Hermawan justru sama-sama sudah tidak sabar untuk melamar wanita idaman Arga. Sudah sangat lama Hermawan menginginkan seorang cucu dari anaknya.
Entah sudah berapa wanita yang ia tawarkan namun Arga masih saja menolaknya. Kini saat Hermawan mendengar kabar bahagia ini, ia merasa sangat senang. Sebentar lagi anaknya pasti akan segera menikah.
Setelah pembicaraan itu akhirnya beberapa hari kemudian keluarga Arga menyiapkan semua persiapan untuk lamaran.
"Tunggu aku Khanza, aku akan segera datang melamarmu," gumam batin Arga.
Arga merasa sangat bahagia meski ini hanya sebatas lamaran saja.
__ADS_1